Rabu, 12 Desember 2018


Hadapi Perubahan Iklim, Perlu Dibangun Culture Baru bagi Petani

03 Des 2018, 14:52 WIBEditor : Yulianto

Petani panen padi di lahan yang tergenang air | Sumber Foto:Clara

Perubahan iklim itu bisa dilihat sebagai sebuah ancaman, tantangan, masalah atau peluang

TABLOIDSINARTANI.COM, JAKARTA---Perubahan iklim memang tidak bisa dihindarkan. Karena itu menurut Rektor Instiper Yogyakarta, Prof Purwadi yang perlu dipersiapkan adalah membangun culture baru bagi petani dalam mengahadapi perubahan iklim.

“Jadi yang dibangun adalah mindset (pola pikir) jangka panjang, karena perubahan iklim adalah tren jangka panjang,” katanya.

Perubahan iklim itu bisa dilihat sebagai sebuah ancaman, tantangan, masalah atau peluang. Bagi kalangan yang menguatirkan akan melihat sebagai sebuah ancaman dan sebuah masalah. Namun ada juga yang menganggap sebuah tantangan dan kemudian menjadi peluang. “Kalau kita mau berpikir positif, tantangan itu bisa menjadi peluang,” ujarnya

Menurut Purwadi, sebenarnya persoalan utama perubahan iklim adalah ketersediaan air. Jadi yang perlu dipersiapkan adalah mengelola air dengan baik. “Selama ini kita kurang berhasil mengelola air. Padahal persoalan utama dalam pertanian adalah masalah air. Jika kita bisa meyiapkan air, pertanian akan jalan sendiri,”  tuturnya.

Selama ini Purwadi melihat, sektor pertanian dianggap menjadi salah satu penyebab sekaligus korban dari adanya perubahan iklim. Dikatakan penyebab, karena pertanian menjadi salah satu sumber emisi gas rumah kaca akibat pembukaan lahan, pertanian lahan gambut, aktivitas peternakan, dan sebagainya.

Padahal saat bersamaan, pertanian juga menjadi korban. Sebab, perubahan iklim dapat meningkatkan serangan hama dan penyakit, timbulnya banjir dan kekeringan, serta adanya pengurangan lahan akibat penggenangan dan intrusi.

Untuk menjadikan perubahan iklim sebagai sebuah peluang, Purwadi mengajak semua kalangan untuk melihat pertanian bukan sekadar sistem budidaya. Tapi sebuah industri biomas yakni sistem produksi yang berkelanjutan. “Jangan sampai kita bicara industri biomas, tapi kita masih bicara menyiapkan pupuk dan benih subsidi, tapi di sisi lain kita juga bicara ketersediaan air,” ujarnya.

Karena itu menurut Purwadi, yang harus dipersiapkan adalah bagaimana mengelola air dengan baik dan mengajak petani untuk mengatasi kendala tersediaan air. “Ini penting dan tidak boleh diabaikan, karena sifatnya jangka panjang,” tegasnya. Yul

Reporter : Yuli
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018