Rabu, 12 Desember 2018


Hari Tanah Sedunia, Temukan Solusi Atas Polusi Tanah

04 Des 2018, 13:49 WIBEditor : Gesha

Sekjen Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mendorong Balitbang untuk terus menemukan solusi atas polusi tanah yang terjadi | Sumber Foto:Nattasya

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Setiap tahunnya, tanggal 5 Desember selalu diperingati sebagai Hari Tanah Sedunia (World Soil Day) yang ditetapkan oleh Badan Pangan Dunia (Food Agricultural Organization/FAO) sejak 2015. Indonesia sebagai bangsa agraris pun memperingatinya dengan menemukan solusi atas polusi tanah yang selama ini terjadi.

Hari Tanah Sedunia merupakan hari peringatan yang muncul karena dilandasi oleh realita bahwa sepertiga tanah di dunia telah rusak atau terdegradasi. Degradasi tanah dapat terjadi karena munculnya deforestasi, erosi, polusi, perubahan iklim, dan proses lain yang disebabkan oleh praktik-praktik pengelolaan lahan yang tidak bertanggung jawab. Dengan adanya Hari Tanah Sedunia, diharapkan kesadaran mayarakat mengenai rusaknya tanah dapat meningkat.

"World Soil Day memberikan kesadaran akan pentingnya tanah bagi kehidupan. Karenanya, harus kita pelihara karena ini adalah titipan dari anak cucu kita di masa depan," tutur Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Syukur Iwantoro saat membuka Peringatan Hari Tanah Sedunia 2018 di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian (BBSDLP), Selasa (04/12).

Syukur Iwantoro mencontohkan pengelolaan tanah di tahun 2019 untuk pertanian masa depan adalah dengan mengelola lahan marjinal seluas 1 juta hektar dan lahan kering yang sangat berpotensial besar bagi cita-cita bangsa Indonesia yaitu Lumbung Pangan Dunia di tahun 2045.

Melansir FAO, Tanah memiliki 7 fungsi utama yaitu tanah sebagai produksi biomassa (termasuk pertanian dan kehutanan), penyedia nutrisi dan air bersih, penjaga biodiversity, lahan untuk beraktivitas, sumber bahan mentah, penyimpan karbon, hingga menjaga warisan arkeologi dan geologi. "Karena itu, wajib untuk menjaga keberlanjutan fungsi tanah. Jangan sampai selesai disaat generasi kita selesai, harus berkelanjutan. Kita harus mengamankannya untuk generasi selanjutnya," tegasnya.

Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) khususnya telah melakukan beragam kegiatan aksi sebagai bentuk soil security salah satunya menemukan solusi atas polusi tanah yang terjadi dan mungkin terjadi di masa depan. "Soil Security ini memastikan tanah agar mampu melaksanakan fungsinya dengan optimal," tuturnya.

Kementan sendiri telah dan akan terus melakukan aksi soil security ini melalui subsidi pupuk (terutama pupuk organik), tumpang sari, kebijakan mengembalikan unsur organik ke tanah, pertanian organik hingga pertanian konservasi.

Sekjen Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan), Prama Yufdy menambahkan aksi soil security tersebut juga dilakukan dengan invensi teknologi yang telah dihasilkan oleh pakar-pakar keilmuan tanah di Balitbangtan. 

"Balitbangtan khususnya BBSDLP menjadi salah satu yang diandalkan oleh FAO, terutama invensi teknologi yang luar biasa bagus dann berbagai kerjasama dilakukan bersama FAO," tuturnya.

Kepala BBSDLP, Dedy Nursyamsi menuturkan pihaknya akan terus meningkatkan penelitian dan pengembangan tanah termasuk terus menemukan solusi polusi tanah (pencemaran). "Karena sudah menjadi kewajiban kita semua sebagai manusia untuk menjaga keberlangsungan tanah," tegasnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018