Senin, 22 Juli 2019


Rahasia Lahan Probolinggo Bebas Hama

21 Jan 2019, 11:56 WIBEditor : Gesha

Petani memanen secara langsung jagung hasil pertanamannya. | Sumber Foto:HENDRA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Probolinggo --- Jagung dan padi menghampar begitu memasuki Kabupaten Probolinggo khususnya Kecamatan Paiton. Terlihat hamparan tersebut begitu sehat dan bebas hama.

Ternyata rahasianya adalah pengelolaan budidaya ramah lingkungan yang dilakukan masyarakat tani di Desa Randu Merak, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.

Seperti yang dilakukan oleh kelompok tani Cempiring yang dibimbing oleh Pusat Pelatihan Pertanian dan Pedesaan Swadaya (P4S) dengan hamparan mencapai 6 hektar.

Pengelola P4S Yoganic, Rachmad Yoga menuturkan kelompok tani binaannya sudah menggunakan agens hayati didalam tanahnya sebelum diolah sehingga kandungan hara bisa meningkat dan mencukupi pertumbuhan jagung maupun padi. "Kita usahakan untuk benar-benar ramah lingkungan, pestisida pun menggunakan biopestisida yang kami racik sendiri," bebernya.

Yoga sendiri mengaku mendapatkan inspirasi pertanian ramah lingkungan berkat pendampingan dari Penyuluh khususnya Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) setempat.

Keberhasilan petani mengaplikasikan budidaya ramah lingkungan tersebut diapresiasi dengan baik oleh POPT dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, Saenul Hadi.

Menurutnya, adanya budidaya ramah lingkungan tersebut mengakibatkan serangan hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman bisa tertekan.

"Penggunaan agens hayati ibaratnya seperti imunisasi yaitu untuk mencegah timbulnya penyakit. Sehingga aspek budidaya ramah lingkungan harus tetap dilakukan agar tanaman tetap sehat," tuturnya.

Diakui Saenul Hadi hingga sekarang se Jawa Timur baru ada sekitar 25 persen petani yang komitmen memggunakan budidaya ramah lingkungan untuk pertanamannya.

"Kita terus upayakan untuk mengedukasi masyarakat tani melalui program SL-PHT. Memang tidak bisa mencakup semua tetapi dengan metode getok tular dan komunikasi yang intens dengan bukti yang lebih baik, Insya Allah mereka bisa mengajak yang lain," bebernya.

Tak hanya budidaya ramah lingkungan, pergiliran tanaman dalam satu tahun juga memberikan andil besar dalam menekan populasi hama. Saenul membeberkan di Probolinggo, dalam setahun ada 3 kali pertanaman dengan jenis yang berbeda di lahan petani.

Petani biasa tanam padi di Januari -April, kemudian bertanam tembakau di bulan Mei/Juni. "Sedangkan bertanam jagung, tergantung pada harga tembakau yang berlaku saat itu. Kalau bagus, biasanya tanam jagung bakal mundur di November. Seperti di tahun 2018," tuturnya. 

Hingga sekarang, diakui Saenul belum pernah ada wabah serangan hama maupun penyakit yang menyerang Probolinggo. "Rata-rata yang kena memang hanya di lahan di tepi jalan raya yang diserang wereng karena mengikuti mobil," tuturnya.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018