Sabtu, 25 Mei 2019


Begini Cara Buat Instalasi Pengering Gabah Petani

11 Mar 2019, 17:28 WIBEditor : Gesha

Instalasi pengering model rumah kaca jadi bentuk sederhana pengeringan gabah petani | Sumber Foto:HUMAS KEMENTAN

instalasi pengering ini terdiri dari rumah plastik mika berkerangka besi atau bambu dengan ukuran 6 m x 9 m dan tinggi 3 m. Plastik mika sangat baik menyerap panas. Namun, jika bahan itu sulit diperoleh, dapat digantikan bahan lain seperti plastik UV

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pengering (Dryer) sangat dibutuhkan petani padi, jagung bahkan bawang merah untuk mendapatkan kualitas terbaiknya. Sebenarnya, petani bisa membuat sendiri instalasi pengering ultraviolet (UV) atau instore drying.

Teknologi instore drying tersebut merupakan hasil kreativitas Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) yang awalnya diperuntukkan bagi pengeringan bawang merah, khususnya pengeringan daun atau pelayuan dan pengeringan umbi.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pengeringan bawang merah dengan Instore Drying dapat dilakukan dalam waktu 3 hari. Hal ini berarti pengeringan bawang merah dengan Instore Drying lebih cepat dibandingkan dengan pengeringan cara petani (penjemuran) yang bisa mencapai 9 hari.

Sedangkan pada Pengeringan gabah dengan menggunakan instore drying memberikan hasil yang cukup baik dengan tingkat keretakan gabah berkisar 1,25 -1,50% pada varietas Ciherang dan berkisar 2,75 - 4,75% pada varietas  Pandan Wangi.

Peneliti dari Balai Besar Pengembangan Mekanisasi Pertanian (BPP Mektan), Puji Widodo menuturkan instalasi pengering ini terdiri dari rumah plastik mika berkerangka besi atau bambu dengan ukuran 6 m x 9 m dan tinggi 3 m. Plastik mika sangat baik menyerap panas. Namun, jika bahan itu sulit diperoleh, dapat digantikan bahan lain seperti plastik UV, fiber, dan polikarbonat.

"Yang penting transparan sehingga sinar matahari bisa masuk. Di dalam rumah plastik itu terdapat bak pengering terbuat dari besi – untuk menempatkan gabah – berukuran 4 m x 8 m setinggi 50 cm yang mampu menampung 5 ton gabah," bebernya.

Rumah plastik yang dibangun itu memiliki efek seperti rumah kaca. Ketika cuaca terang, mesin pengering bekerja dengan menangkap sinar matahari. Radiasi panas surya yang terdiri dari gelombang panjang dan pendek itu menembus rumah plastik dan tak bisa keluar alias terperangkap di dalamnya. Akibatnya suhu di dalam rumah plastik lebih tinggi dibandingkan di luar ruangan sehingga air di gabah menguap.

Meskipun ada rumah plastik, mesin pengering juga dibutuhkan dan diletakkan menghadap arah utara-selatan agar proses penyerapan sinar matahari berjalan maksimal. Selain itu, bagian timur dan barat dari rumah plastik terbebas dari pohon atau bangunan lain sehingga sinar matahari leluasa masuk.

Mesin pengering dilengkapi tungku pembakaran berbahan bakar biomassa seperti kayu, sekam, arang, limbah bonggol jagung, atau tempurung kelapa. Tungku tersebut akan terhubung dengan sebuah blower berpenggerak motor diesel mengembuskan uap panas ke bagian bawah pengering.

Karenanya, meski cuaca mendung, hujan, dan malam hari, mesin pengering itu tetap bisa bekerja dan mampu mengeringkan gabah. Pada sistem efek rumah kaca otomatis bila suhu di dalam rumah plastik melebihi 50 derajat Celcius, maka ruangan antara tungku dan blower akan membuka. Udara dari lingkungan akan masuk ke ruangan pengering sehingga suhu di ruangan kembali ke angka 45 – 50 derajat Celcius.

Untuk mengeringkan gabah, suhu awal ruangan boleh mencapai 700C selama 2 – 3 jam, tetapi berikutnya suhu diturunkan dan stabil pada kisaran 45 – 50 derajat Celcius. Selama 11 jam mesin mampu mengeringkan 5 ton gabah dengan kadar air 12 – 14%.

"Untuk pengeringan tradisional dibutuhkan sampai 20 orang, sedangkan dengan adanya instalasi ini hanya perlu 5 orang paling banyak. Keuntungan pun pastinya lebih meningkat," tutur Puji.

 

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018