Jumat, 21 Juni 2019


Tanaman Lebih Subur dengan Pupuk dari Rumput Laut

19 Mar 2019, 15:39 WIBEditor : Gesha

Pupuk dari Rumput Laut bisa menjadi pupuk subur di masa depan | Sumber Foto:LPPMHP

Pupuk rumput laut sendiri sudah banyak digunakan di beberapa negara maju dan dijual secara komersial. Contohnya saja Maxicrop (Amerika Serikat), Kelpar (Afrika Selatan), Algifer (Inggris), Boost (AS), Seaweed Extract dan lainnya.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Yogyakarta --- Bagi tanaman, kesuburan tentu menentukan keberhasilan saat panen sehingga penggunaan pupuk yang tepat akan menjadi kuncinya. Kini bahkan sudah ada pupuk dari rumput laut yang menjadikan tanaman jauh lebih subur.

"Rumput laut diketahui memiliki kandungan hormon pemacu tumbuh (HPT), di antaranya sitokinin, auksin  dan giberelin. Zat tumbuh ini bisa merangsang pertumbuhan pada tanaman sehingga tanaman dapat tumbuh, berbuah atau berbunga lebih besar, lebih banyak dan lebih cepat, sehingga diharapkan akan mampu meningkatkan hasil produksi tanaman pertanian dan hortikultura," beber peneliti dari Loka Riset Mekanisasi Pengolahan Hasil Perikanan, Bakti Berlyanto Sedayu.

Pupuk rumput laut sendiri sudah banyak digunakan di beberapa negara maju dan dijual secara komersial. Contohnya saja Maxicrop (Amerika Serikat), Kelpar (Afrika Selatan), Algifer (Inggris), Boost (AS), Seaweed Extract dan lainnya.

Di mancanegara, Inggris lebih dulu memanfaatkan rumput laut sebagai pupuk sejak 16 tahun silam. Di sana alga diekstrak agar vitamin, asam amino, karbohidrat, enzim, dan asam algin lebih mudah diserap oleh tanaman.

LRMHP berhasil membuat pupuk cair dengan menggunakan ekstrak Eucheuma cottonii (alga merah) yang memang memiliki kandungan kandungan cairan sangat tinggi, yaitu sekitar 90% setelah pemanenan. 

Pupuk cair rumput laut dihasilkan dengan cara mengekstrak cairan yang terkandung dalam rumput laut (SAP) dengan cara pengepresan, atau dengan cara mengompos rumput laut dalam tanki dengan menambahkan bakteri fermentasi dan media pertumbuhan, seperti molase (tetes tebu). Cairan yang dihasilkan kemudian dipisahkan menggunakan alat pengepres atau filter press, lalu pupuk cair diujikan ke tanaman.

“Seiring dengan waktu, kami dipertemukan dengan pengolah rumput laut yang telah mencoba meramu rumput laut sebagai pupuk dalam bentuk abu. Pengolah tersebut merakan kesulitan (pupuk dalam bentuk debu mudah tertiup angin, sehingga lebih cepat hilang) saat mengaplikasikan pupuk dalam bentuk butiran debu, oleh karena itu kami mencoba membuat alat yang dapat mengubah pupuk dalam bentuk debu menjadi pupuk berbentuk granul agar mudah diaplikasikan,” tutur salah satu peneliti di LPPMHP, Zaenal Arifin Siregar MT.

Bahan yang digunakan berasal dari rumput laut cokelat Sargassum sp., dan juga memanfaatkan limbah industri pengolahan agar (Gracilaria sp). Bahan rumput laut tersebut dicampur dengan bahan pengisi lainnya yang berfungsi untuk meningkatkan unsur hara kemudian diolah menjadi bentuk granul.

“Inovasi yang telah dilakukan oleh kami adalah proses pembuatan pupuk granul dan beberapa bagian dari alat pupuk granul berbahan dasar rumput laut, seperti mesin penepung rumput laut, mesin granulator, conveyor belt, dan mesin pengayak,” cerita Zaenal.

Pupuk granul yang diberi nama “Rulabur” (Rumput Laut Penyubur) ini telah diujicobakan meskipun masih dalam skala kecil. “Kita menggunakan tanaman terong untuk pengujian ini. Setidaknya ada 3 tanaman terong yang diberi pupuk NPK, Pupuk Kandang dan Rulabur. Hasilnya, tanaman yang diberikan pupuk rumput laut jauh lebih subur daripada pupuk jenis lain,” tuturnya.

Pupuk rulabur tersebut telah memenuhi syarat Peraturan No 70/Permentan/SR/140/10/2011, antara lain C-Organic, Kadar Hara Makro (Nitrogen (N), P2O5, K2O, dan unsur mikro Fe, Manganese (Mn) dan Zinc (Zn).

Meskipun memiliki banyak kelebihan, pupuk rumput laut juga memunyai kelemahan. Daun tanaman yang diberi pupuk rumput laut banyak yang berlubang karena dimakan ulat ketimbang daun tanaman yang diberi pupuk berbahan kimia. Namun, di sisi lain, hal itu bisa menjadi indikator bahwa tanaman tidak membahayakan kesehatan manusia ketika dikonsumsi.

Dicampur Bahan Organik

Ahli biologi dan bioteknologi tanah Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran, Tualar Simarmata  menuturkan manfaat pupuk rumput laut akan lebih baik setelah dicampur bahan organik dari darat. Pasalnya, asam humat rumput laut lebih rendah ketimbang bahan organik dari darat. Asam humat sendiri berasal dari lignin dan selulosa yang banyak diperoleh di hijauan.

“Pada rumput laut, kedua bahan serat itu lebih sedikit,’ katanya. Asam humat berperan meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK ) tanah untuk menahan unsur hara. Rumput laut memperkaya kandungan mineral media,” ujar Tualar.

Namun peneliti dari Universitas Hassanudin, Dina Yustin menuturkan jika limbah hasil pengolahan rumput laut memiliki kandungan kalium dan klorida yang lebih besar dari pupuk biasa. “Selain itu, kandungan akumulasi bahan kimia juga harus dinetralisir terlebih dahulu untuk meminimalkan kandungan kimia untuk tanaman,” tuturnya.

 

 

 

 

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018