Jumat, 21 Juni 2019


Biofortifikasi Beras, Mungkinkah ?

20 Mar 2019, 12:45 WIBEditor : Yulianto

Ragam jenis beras kualitas super | Sumber Foto:Yulianto

Biofortifikasi merupakan upaya intervensi (memasukan unsur nutrisi) untuk meningkatkan konsentrasi nutrisi yang tersedia bagi tanaman

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Perkembangan zaman makin meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kandungan gizi terhadap makanan yang dikonsumsi. Di sisi lain, kondisi hidden hunger yang terjadi banyak karena berkurangnya kandungan mikro nutrien pangan akibat pengolahan makanan yang tidak tepat. Beberapa negara terus berupaya memperbaiki kondisi malnutrisi di masyarakat.

Karena itu berbagai upaya penambahan nilai  gizi hasil produksi tanaman menjadi perhatian khusus di dunia pertanian. Salah satunya melalui biofortifikasi. Biofortifikasi merupakan upaya intervensi (memasukan unsur nutrisi) untuk meningkatkan konsentrasi nutrisi yang tersedia bagi tanaman. Bentuk biofortifikasi yang biasa dilakukan adalah melalui intervensi agronomis (pemupukan) maupun genetis (pemuliaan tanaman).

Biofortifikasi berbeda dengan fortifikasi yang melakukan pengayaan nutrisi pada hasil tanaman yang sudah diolah. Fortifikasi adalah program memasukan unsur nutrisi dalam makanan atau bahan pokok.

Keunggulan biofortifikasi untuk tanaman adalah meningkatnya pertumbuhan dan daya tahan terhadap gangguan hama penyakit tanaman yang berdampak pada produktivitas tanaman. Kualitas dan konsentrasi nilai gizi pada hasil tanaman yang dikonsumsi semakin bertambah. Secara praktis biofortifikasi dapat dilakukan dalam jangka panjang, biaya yang relatip efisien dan efektip mudah untuk dilakukan.

Baca juga

Kenalin Nih ! Haji Zakaria, Sang Petani Canggih dari Cigombong

Jangan Salah Kaprah Lagi Soal Kolesterol Puyuh !

Biofortifikasi pada tanaman pangan diharapkan melengkapi upaya pemenuhan kebutuhan zat gizi mikro yang selama ini telah dilakukan melalui langkah fortifikasi pangan pada tepung dan minyak. Namun demikian sampai  sekarang fortifikasi masih belum banyak berperan dalam penanggulangan anemia gizi besi di masyarakat, terlihat dengan masih tingginya prevalensi anemia gizi besi.

Tantangan Sosial dan Ekonomi

Dalam perkembangannya, biofortifikasi menghadapi hambatan dan tantangan secara praktik maupun sosial ekonomi. Biofortifikasi agronomis dapat mencemari lingkungan manusia. Disamping itu, belum banyak diteliti keamanan pangan hasil biofortifikasi terhadap kesehatan manusia.

Pemerintah perlu menyusun strategi peningkatan kualitas gizi pangan dengan melibatkan teknik biofortifikasi, meski pangan hasil biofortifikasi belum dapat diterima sepenuhnya oleh masyarakat. Karena itu, perlu pemberian wawasan kepada masyarakat guna meningkatkan ketersediaan dan pentingnya mengkonsumsi pangan bergizi tinggi.  

International Rice Research Institute (IRRI) di Filipina telah berhasil meningkatkan kandungan zat besi, zinc dan beta karoten pada beras yang dinamai Golden Rice. Bahkan sudah disilangkan dengan varietas padi IR 64 yang populer di Indonesia.

Pengembangan Golden Rice dilakukan dengan merekayasa gen dalam beras sehingga mampu memproduksi pro-vitamin A. Salah satu zat gizi mikro yang sebenarnya hanya ditemui pada bagian daun tanaman  padi.

Di Indonesia teknologi fortifikasi makanan sudah dilaksanakan secara meluas, seperti fortifikasi mikro nutrient untuk tepung gandum, ionisasi garam, susu bubuk dan terigu, tapi fortifikasi untuk beras masih relatif baru dan sangat komplek.

Penggilingan beras bukan salah satu cara yang tepat untuk mendapatkan mikro nutrien.  Sebab 40-90 ?ri vitamin dan mineral hilang selama proses penggilingan. Karena itu pengembangan dari fortifikasi beras menghadapi tantangan sangat serius. Apalagi, sejumlah besar dari RMU kira-kira 180.000 unit, kebanyakan masih berskala kecil-kecil (94,1%) sisanya medium dan skala besar.

Saat ini fortifikasi beras masih berupa isu baru di Indonesia juga sektor swasta (penggilingan padi dan pedagang beras). Bahkan perlu dengan gencar dilakukan sosialisasi dengan berbagai cara.  

 

Reporter : Bembi Abidin
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018