Jumat, 21 Juni 2019


Kebekolo, Kearifan Lokal Ende Cegah Longsor dan Suburkan Pertanian

08 Apr 2019, 16:23 WIBEditor : Gesha

Model Kebekolo masyarakat Ende menjadi salah satu kearifan lokal mencegah longsor sekaligus memberikan penghasilan petani | Sumber Foto:BPTP NTT

Model konservasi ini juga sama dengan model konservasi pada masyarakat kabupaten lainnya dengan sebutan yang berbeda misalnya di Sikka disebut Blepeng dan di Flores Timur disebut Brepe.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Ende --- Provinsi Nusa Tenggara Timur dikenal sebagai lumbungnya lahan kering Indonesia. Meskipun kering, ternyata masyarakat Ende punya kearifan lokal tersendiri untuk bisa menghasilkan pangan sambil tetap menjaga (konservasi) lingkungan.

Memiliki lahan yang kering dan bentuk wilayah yang umumnya bergunung dengan lereng >30%, serta tanah yang peka terhadap erosi menyebabkan lahan pertanian di NTT berisiko terhadap erosi dan longsor. Kondisi ini selanjutnya akan menurunkan produktivitas lahan.

Namun, masyarakat Ende memiliki kearifan lokal untuk menahan longsor yaitu Kebekolo. Dimana mereka menyusun barisan kayu atau ranting yang disusun atau ditumpuk memotong lereng. Tumpukan kayu/ranting ini berfungsi untukmenahan tanah yang tergerus aliran permukaan (erosi). 

Jarak antarkebekolo bergantung pada kemiringan lahan; makin miring lahan, jarak antarkebekolo pun semakin rapat.

Model konservasi ini juga sama dengan model konservasi pada masyarakat kabupaten lainnya dengan sebutan yang berbeda misalnya di Sikka disebut Blepeng dan di Flores Timur disebut Brepe. 

Agar lebih menghasilkan dan mampu menyuburkan tanah, BPTP NTT melakukan introduksi teknologi dengan mengganti tumpukan kayu ranting antar teras menggunakan tanaman/vegetasi yaitu tanaman penguat teras yang juga berfungsi sebagai pakan ternak. Tanaman penguat teras tersebut adalah vetiver (akar wangi), gamal, lamtoro merah, kelor (marungga). 

Teknologi lainnya adalah membuat larikan teras sesuai kountur dan memanfaatkan lahan diantara teras tersebut dengan tanaman pangan dan hortikultura. Jenis tanaman pangan yang diintrodusir adalah jagung, padi gogo untuk perbaikan varietas, ubi kayu dan sayur-sayuran di musim kemarau.

Salah satu desa percontohan Kebeloko modern ini adalah Desa Nualise dimana Petani memperoleh hasil dari pangan (jagung, padi gogo dan ubi kayu) dan petani telah memelihara ternak kambing dengan sumber pakan dari tanaman penguat teras.

Disamping itu petani juga telah mencukupi kebutuhan sayur-sayuran untuk gizi keluarga dari sayur yang dihasilkan dari kebun lahan miring tersebut, selain juga dijual untuk memperoleh uang tunai.

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018