Rabu, 24 Juli 2019


Tingkatkan Produksi Jeruk dengan Sistem Bujangseta dan Sitara

08 Mei 2019, 19:39 WIBEditor : Gesha

Dengan teknologi budidaya tepat guna seperti Bujangseta dan Sitara, petani jerui bisa meningkatkan mutu produksi buahnya | Sumber Foto:dina

"Penerapan teknologi BUJANGSETA atau teknologi pembuahan berjenjang sepanjang tahun dapat menghasilkan buah berkualitas premium seragam dengan cita rasa sesuai pasar, kulit buah mulus dan harga yang memadai," tutur peneliti jeruk dari Balai Penelitia

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Banyuwangi --- Sampai saat ini, jeruk masih menjadi salah satu komoditas buah prioritas nasional untuk dikembangkan selain pisang, mangga, manggis dan buah lainnya. Karenanya, perlu dikenalkan teknologi Bujangseta dan Sitara kepada petani.

BUJANGSETA adalah akronim dari teknologi pembuahan berjenjang sepanjang tahun. Sementara SITARA adalah singkatan dari sistem jarak tanam rapat.

"Penerapan teknologi BUJANGSETA atau teknologi pembuahan berjenjang sepanjang tahun dapat menghasilkan buah berkualitas premium seragam dengan cita rasa sesuai pasar, kulit buah mulus dan harga yang memadai," tutur peneliti jeruk dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah - buahan Subtropis (Balitjestro), Sutopo dalam kegiatan Bimbingan Teknologi Budidaya di Kec. Cluring Kab. Banyuwangi beberapa waktu lalu.

Penanaman jeruk dengan jarak tanam rapat atau dikenal dengan nama SITARA merupakan solusi alternatif untuk meningkatkan produktivitas dan mutu buah dengan efisiensi lahan dan biaya produksi. 

"Dengan menerapkan teknologi ini, petani dapat menanam jeruk dengan populasi 4 hingga 6 kali lipat dibandingkan penanaman biasa. Biaya produksi dapat ditekan dan pendapatan petani akan meningkat. Untuk menghasilkan hal tersebut penerapan teknologi adalah kuncinya," tambah Sutopo.

Sutopo juga menjelaskan, dalam penerapan teknologi SITARA, manajemen jarak tanam dan pola penanaman sangat penting.

Selain itu tanaman harus rajin dipangkas agar terbentuk tanaman yang kerdil untuk memudahkan perawatan dan menghasilkan banyak cabang yang produktif.

"Pemangkasan akar juga perlu dilakukan untuk menjaga efisiensi pemupukan. Selain itu, sistem pengairan juga sangat mempengaruhi keberhasilan penerapan teknologi SITARA. Sistem irigasi yang paling efisien adalah irigasi baris," paparnya lebih lanjut.

Melihat teknologi Bujangseta dan Sitara sangat tepat guna bagi petani jeruk, Plt. Direktur Buah dan Florikultura, Sri Wijayanti Yusuf berharap teknologi ini dapat diterapkan oleh petani lain, tidak hanya di Banyuwangi.

Dalam hal ini Ditjen Hortikultura akan bersinergi dengan Balitjestro untuk meningkatkan sosialisasi penerapan kedua teknologi tersebut.

 

"Ditjen Hortikultura akan bersinergi dengan Balitjestro untuk penerapan teknologi keduanya. Dengan penerapan teknologi tersebut, kami optimis ke depan jeruk Indonesia akan semakin berdaya saing dan impor jeruk dapat ditekan," tutur Yanti.

Kepala Bidang Produksi Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Banyuwangi, Khoiri  juga mengapresiasi adanya teknologi tersebut dan bisa diaplikasikan oleh petani jeruk di Banyuwangi.

Sebab, pengembangan jeruk di Kabupaten Banyuwangi lebih dari 12 ribu hektare tersebar di sembilan kecamatan dengan produksi mencapai 381 ton. 

"Beberapa permasalahan dalam pengembangan jeruk di Kabupaten Banyuwangi di antaranya seringkali pada panen raya harga menyentuh hingga Rp 3500, sementara BEP usaha tani sebesar Rp 4000. Selain itu lahan semakin sempit untuk pengembangan hortikultura," ujar Khoiri.

Kawasan Jeruk

Untuk diketahui, Kementan melalui program pengembangan kawasan, tercatat telah mengembangkan tidak kurang dari 20 ribu hektare kawasan jeruk di daerah sentra produksi utama seluruh Indonesia

"Pengembangan kawasan jeruk ekstensifikasi maupun intensifikasi dibarengi dengan penerapan budidaya sesuai kaidah GAP (Good Agriculture Practices) dan pengendalian OPT secara terpadu dan ramah lingkungan terbukti mampu mendongkrak peningkatan produksi dan mutu jeruk Indonesia," jelas Yanti. 

Berdasarkan data BPS, produksi jeruk menunjukkan tren peningkatan. Pada 2012 produksi jeruk keprok/siem tercatat 1,6 juta ton. Pada 2018 mengalami peningkatan sebesar 31.25 persen menjadi 2,1 juta ton.

 

Reporter : Dina Rosita
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018