Senin, 22 Juli 2019


Indonesia Masih Wujudkan 4.0, Jepang Bersiap Masuki Society 5.0

28 Mei 2019, 08:50 WIBEditor : Gesha

melalui Society 5.0, kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan mentransformasi big data pada segala sendi kehidupan serta the Internet of Things akan menjadi suatu kearifan baru | Sumber Foto:Kantor Perdana Menteri Jepang

Di Society 5.0, sejumlah besar informasi dari sensor di ruang fisik terakumulasi di dunia maya. Di dunia maya, data besar ini dianalisis dengan kecerdasan buatan (AI), dan hasil analisis diumpankan kembali ke manusia

 

TABLOIDSINARTAN8.COM, Jakarta --- Gaung industri 4.0 telah menggema dan Indonesia tengah mengejarnya. Namun di Negara Matahari Terbit, Jepang tengah memasuki Society 5.0. Seperti apakah itu?

Kesiapan Jepang tersebut diungkapkan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe pada ajang Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) di Swiss. 

Pada Juni 2017 silam juga Kantor Perdana Menteri Jepang sempat merilis rincian strategis, termasuk penggunaan teknologi baru untuk menyelesaikan permasalahan sosial dan ekonomi. 

Dalam pertemuan tersebut, Perdana Menteri Abe mengungkapkan langkah tersebut diambil karena krisi buruh dan masyarakat usia tua yang mendominasi negara tersebut, sehingga digitalisasi menjadi jalan keluar dari permasalahan tersebut.

Dikutip dari Reuters, masalah utama Jepang adalah populasi yang menua, di mana sekitar 26% penduduk Jepang berusia di atas 65 tahun. Kondisi itu membuat Jepang kekurangan tenaga kerja produktif dan menebarkan pesimisme di masyarakat Jepang.

Lantas seperti apakah Society 5.0 yang akan dimasuki negara tersebut?Perdana Menteri Abe menuturkan bahwa melalui Society 5.0, kecerdasan buatan (artificial intelligence) akan mentransformasi big data pada segala sendi kehidupan serta the Internet of Things akan menjadi suatu kearifan baru, yang akan didedikasikan untuk meningkatkan kemampuan manusia membuka peluang-peluang bagi kemanusiaan. 

Secara lebih sederhana, Society 5.0 dapat diartikan sebagai suatu konsep masyarakat yang berpusat pada manusia (human-centered) dan berbasis teknologi (technology based).

Dilansir dari www.gov-online.go.jap, contoh implementasi Society 5.0 di Jepang ialah seperti pengiriman paket menggunakan drone tanpa awak. 

Tak hanya itu, kehidupan sehari-hari juga akan berubah dengan hadirnya aplikasi pintar berbasis AI yang dipasang di rumah seperti di pintu kulkas.

Kebijakan dan Regulasi

Menariknya, Society 5.0 tak hanya sekedar teknologi tetapi juga mencakup kebijakan serta regulasi. Karenanya, Pemerintah Jepang mendoring pebisnis setempat untuk berbagi big data dan meningkatkan kerja sama untuk menciptakan inovasi baru.

Sehingga di masa depan, sektor swasta dan umum dapat bekerja sama untuk menciptakan sistem baru yang lebih aman dan efektif.

“Di Society 5.0, itu bukan lagi modal, tetapi data yang menghubungkan dan menggerakkan segalanya, membantu mengisi kesenjangan antara yang kaya dan yang kurang beruntung. Layanan kedokteran dan pendidikan, dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, akan mencapai desa-desa kecil," tutur Perdana Menteri Abe.

Untuk diketahui, masyarakat Jepang telah mengikuti tahapan masyarakat berburu (Society 1.0), masyarakat pertanian (Society 2.0), masyarakat industri (Society 3.0), dan masyarakat informasi (Society 4.0).

Dalam masyarakat informasi (Society 4.0), berbagi pengetahuan dan informasi lintas bagian tidak cukup, dan kerja sama itu sulit.

Adapun Society 5.0 mencapai tingkat konvergensi yang tinggi antara ruang maya (ruang virtual) dan ruang fisik (ruang nyata).

Dalam Society 4.0, orang akan mengakses layanan cloud (basis data) di dunia maya melalui Internet. Di Society  5.0, sejumlah besar informasi dari sensor di ruang fisik terakumulasi di dunia maya.

Di dunia maya, data besar ini dianalisis dengan kecerdasan buatan (AI), dan hasil analisis diumpankan kembali ke manusia dalam ruang fisik dalam berbagai bentuk

Reporter : Nattasya
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018