Senin, 19 Agustus 2019


Lebih Ramah Lingkungan, Buka Lahan Tanpa Membakar

14 Jun 2019, 17:38 WIBEditor : Gesha

Satu solusi yang dinilai tepat dan bisa diterapkan pada kondisi itu adalah dengan cara pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) secara sederhana. Dari segi teknis, memang membutuhkan tenaga manusia secara lebih. | Sumber Foto:ISTIMEWA

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Palangkaraya --- Musim tanam periode April – September telah memasuki babak baru di tahun 2019 ini. Sebagian besar petani sibuk menyiapkan diri dan lahannya untuk segera melakukan pengolahan dan penanaman padi. Namun, untuk di daerah-daerah yang secara geografis dan sosio kulturalnya harus melakukan hal “khusus” yakni dengan cara membakar lahan, maka akan sedikit sulit jika tidak dibarengi dengan solusi yang tepat.

Di daerah tertentu aktivitas membakar lahan pra tanam, terlebih di lahan kering, seringkali dilakukan masyarakat setempat. Salah satunya di Kalimantan Tengah. Kenapa? Karena memang sudah menjadi kebiasaan dan kewajaran di daerah tersebut.

Budaya turun temurun itu termasuk pada aspek prilaku yang tentu membutuhkan proses persuasif panjang untuk mengubahnya. Selain perangkat hukum yang menaunginya yakni Instruksi Presiden Republik Indonesia No. 11 Tahun 2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan.

Satu solusi yang dinilai tepat dan bisa diterapkan pada kondisi itu adalah dengan cara pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) secara sederhana. Dari segi teknis, memang membutuhkan tenaga manusia secara lebih.

Namun hal itu tidak akan melanggar peraturan secara hukum, sebaliknya target tanam padi tetap bisa dicapai. Penerapannya tidak perlu menggunakan alat berat, seperti excavator, buldozer, dan lain-lain.

Bagi masyarakat (petani) biasa bila mendatangkan alat berat untuk pengolahan lahan tentu akan memerlukan akses dan biaya yang tidak murah/ mudah.

Peralatan yang digunakan untuk PLTB secara sederhana cukup dengan alat-alat yang mudah didapatkan oleh petani seperti sabit, parang, gergaji mesin dan peralatan sederhana lainnya.

Teknis Perlakuan

1.       Penebasan.

Aktivitas ini disebut juga membabat rintisan. Vegetasi kebanyakan berupa semak belukar (diameter 10 cm), juga termasuk ilalang atau rumput liar yang tumbuh subur di lahan yang rencananya akan ditanam padi.

Pemotongan vegetasi (tinggi tunggak) diusahakan serendah mungkin agar tidak banyak tersisa di lahan, selain itu untuk memudahkan proses berikutnya. Teknis ini bisa menggunakan parang/ gergaji mesin/ dan lain-lain.

2.       Pelapukan.

a.       Pohon.

Aktivitas ini sebagai pengganti teknis penebangan yang memungkinkan menggunakan alat-alat berat karena vegetasi yang dihilangkan mempunyai diameter > 10 cm.

Teknisnya dengan aplikasi herbisida berbahan aktif triklopir, yang bisa didapatkan di toko (kios) pertanian, atau secara online.

Herbisida ini akan melapukkan secara perlahan batang besar atau tunggul/ tunggak kayu dari pohon sehingga daun-daunnya rontok, batang pohon lambat laun mengering dan layu, selanjutnya (lebih kurang 30 hari) mati.

Cara aplikasi: melarutkan 100 ml herbisida berbahan aktif triklopir dengan air 1 liter, lalu campuran disiramkan pada pohon. Namun jika terdapat pohon dengan kayu keras dan besar maka dilakukan teknik lain yang lebih kuat, yaitu dengan melarutkan 100 ml herbisida berbahan aktif triklopir dengan 1 liter solar, kemudian pohon diinfeksi dengan cara:

·  Menggores/ mengupas kulit pohon sampai pada lapisan xilemnya (lapisan hijau), selanjutnya hasil campuran herbisida dan solar tersebut dioleskan perlahan tepat pada lubang/ goresan pohon, atau

·   Membuat lubang (dibor) pada pohon, lalu “suntik” pohon dengan 10 ml campuran herbisida dan solar, dengan kedalaman 10-15 cm dari sisi luar pohon. Cara suntik dan oles pada batang lebih efisien dalam aplikasi herbisida tersebut dibandingkan cara siram pada pohon

b.      Sisa tebasan.

Tunggak-tunggak semak belukar yang tersisa di lahan jika memungkinkan ada baiknya dilapukkan dengan herbisida campuran, yakni herbisida yang berbahan aktif triklopir dicampur dengan herbisida dengan bahan aktif glifosat, yang mana cara kerja kedua jenis herbisida ini bersifat sistemik.

Cara aplikasi: mencampurkan 100 ml herbisida dengan bahan aktif glifosat dengan 100 ml herbisida yang berbahan aktif triklopir pada 15 liter air, kemudian campuran disemprotkan pada sisa tebasan dan gulma-gulma yang tumbuh di lahan seperti rumput, teki, pakis, anak kayu, dan sebagainya.

 

3.       Pembersihan.

Dilakukan terhadap pohon-pohon dan semak belukar yang mati akibat proses pelapukan. Bisa dengan cara memotong/ mencacah menjadi bagian lebih kecil kemudian dibenamkan di lahan sehingga bisa dijadikan pupuk organik pada lahan. Proses tersebut dapat dibarengkan proses pengolahan tanah/ lahan sebelum pra tanam. 

 

Reporter : Sandis Wahyu Prasetiyo
Sumber : BPTP Kalimantan Tengah
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018