Sabtu, 17 Agustus 2019


Berkat Bimtek Penanganan Segar Sayuran, Petani Bintan Mulai Menggeliat

16 Jun 2019, 10:53 WIBEditor : Gesha

Pengenalan terhadap teknologi pascapanen sayuran mulai dari cara panen yang benar hingga proses kemasan dan penyimpanan. | Sumber Foto:BB PASCAPANEN

Petani didorong untuk mengaplikasikan teknologi dengan memanfaatkan semua fasilitas PHO yang sudah ada.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bintan --- Pulau Bintan memang menjadi salah satu lokasi prioritas Kementrian Pertanian untuk pengembangan sektor pertanian di wilayah perbatasan khususnya subsektor hortikultura. Bahkan semakin menggeliat dengan adanya bimtek penanganan sayuran segar.

Letak geografis yang dekat dengan Singapura, membuat Bintan  memiliki potensi lahan yang dapat menjadikannya salah satu pensupply sayuran segar ke negara tetangga tersebut.

Karena itu, Kementerian Pertanian melakukannya dengan sistem pertanian modern terpadu dan berkelanjutan melalui pendekatan kawasan.

Sistem tersebut melalui upaya peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi, pengembangan pertanian ramah lingkungan untuk menekan penggunaan bahan kimia sebagai salah satu upaya untuk memenuhi standar ekspor, pembangunan infrastruktur pertanian untuk mempermudah akses usahatani dan pemasaran, serta perbaikan kualitas dan nilai tambah produk pertanian melalui pendekatan teknologi panen dan pascapanen. 

Salah satu upaya tersebut telah dilakukan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian (BB Litbang Pascapanen) dengan mengadakan bimbingan teknologi pascapanen untuk petani sayuran di Bintan, Jumat (14/6).

Bertempat di Desa Toapaya Kabupaten Bintan, diikuti oleh sekitar 20 orang petani sayuran yang berasal dari sekitar lokasi Packing House Operation (PHO) percontohan.

PHO tersebut  dibangun di atas tanah salah seorang anggota kelompok Tani Sayur dengan pembiayaan dari Litbang Pertanian.

PHO telah dilengkapi dengan fasilitas standar yang diperlukan dalam penanganan segar sayuran, diantaranya bak pencucian meja peniris, meja sortasi dan pengemasan, blower, timbangan  serta showcase sebagai salah satu alternative penyimpanan yang dapat dilakukan di lapangan untuk mempertahankan kesegaran sayuran disamping penggunaan kotak Styrofoam dengan es batu.

Pengenalan terhadap teknologi pascapanen sayuran mulai dari cara panen yang benar hingga proses kemasan dan penyimpanan.

Petani didorong untuk mengaplikasikan teknologi dengan memanfaatkan semua fasilitas PHO yang sudah ada.

Salah satu hasil penelitian para peneliti dari Balai Besar Pascapanen Litbang Pertanian, bahwa dengan penanganan sayuran berdaun sesuai SOP yang diperkenalkan, yaitu proses pencucian akar (bagi sayuran yang dipanen dengan akarnya), penirisan, penggunaan kemasan plastic dan penggunaan Styrofoam yang diberi es batu pada dasar kemasan dapat mempertahankan kualitas sayuran tetap layak jual hingga 3 hari.

Dengan umur simpan yang lebih panjang tersebut diharapkan kerusakan sayuran yang terjadi menjadi lebih rendah, kerugian petani dapat ditekan. 

Sebagian besar petani sayuran yang mengikuti bimtek, memberikan respon yang positif terhadap adanya  kegiatan percontohan dan bimtek ini.

Namun mereka tetap berharap adanya jaminan pasar terhadap produk yang mereka hasilkan. Dengan kualitas sayur yang lebih baik,kemasan yang lebih menarik dan daya tahan produk lebih lama,  sudah sepantasnya  nilai jual akan meningkat. 

Untuk itu, dukungan dari Dinas Pertanian Kabupaten Bintan sangat diharapkan. Dinas Kabupaten dapat mencarikan pasar bagi produk-produk bermutu yang dihasilkan oleh para petani-petani tersebut sebelum akhirnya dapat mencarikan peluang pasar ekspor sayuran segar ke negara tetangga terdekat, yaitu Singapura.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018