Sabtu, 17 Agustus 2019


Tanam di Lahan Rawa? Pakai Pupuk Biotara !

12 Jul 2019, 08:26 WIBEditor : Gesha

Pupuk Biotara sangat cocok diterapkan di lahan rawa | Sumber Foto:BALITBANGTAN

Setelah jerami disebar ke petakan, Biotara bisa disebar sehingga perombakan lebih cepat. Biotara juga tetap efektif di lahan rawa yang masam dan tergenang karena diseleksi dari mikroba unggul di lahan rawa.

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Pengelolaan lahan rawa memang perlu penanganan khusus. Salah satunya pemupukan yang tepat komposisinya. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbang) sendiri sudah ada inovasi yang bisa dipakai petani yaitu Pupuk Biotara.

Indonesia memang memiliki potensi lahan rawa sekitar 34,12 juta hektar, tersebar di tiga pulau besar Kalimantan, Sumatera, dan Papua. Namun baru sekitar 2,27 juta hektar yang dibuka pemerintah secara terintegrasi dengan program transmigrasi dan 3,00 juta hektar dibuka oleh masyarakat setempat secara swadaya untuk budidaya padi.

Nah, kendala utama dari pertanaman di lahan rawa tersebut adalah kemasaman tanah yang tinggi, terutama di lahan rawa sulfat masam karena ada lapisan pirit (FeS2) pada kedalaman kurang dari 50 cm.

Dalam keadaan tergenang (suasana reduksi) pirit aman bagi tanaman karena dalam kondisi stabil. Namun, begitu pirit tersingkap dan mengalami kontak dengan udara, ia akan teroksidasi menjadi asam sulfat yang sangat masam dan meracuni tanaman. 

Peneliti Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa, Mukhlis mengatakan strategi yang penting di lahan rawa ialah memberi bahan organik sebagai pembenah tanah. Bahan organik menjadi penyangga biologi yang berperan memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologi tanah sehingga tanah dapat menyediakan hara dalam jumlah berimbang.

Agar tujuan itu tercapai bahan organik yang diberikan harus sudah terdekomposisi atau memiliki C/N rasio rendah. Bahan organik segar yang langsung diberikan ke dalam tanah dapat merugikan pertumbuhan tanaman karena terjadi proses immobilisasi nitrogen dan terlepasnya senyawa beracun yang mengganggu tanaman.

Petani di lahan rawa  umumnya menggunakan jerami atau sisa tanaman gulma sebagai bahan organik.  Sayang, bahan tersebut mengandung selulosa yang tinggi dengan C/N ratio yang tinggi. Karena itu mereka membutuhkan proses dekomposisi yang lama.

Selama ini petani menggunakan jerami sebagai pupuk organik dengan 2 cara. Pertama, secara langsung yaitu saat panen jerami langsung disebar ke petakan sawah, lalu air dimasukkan hingga tergenang. Jerami mengalami dekomposisi di lahan. Kedua, cara tak langsung. Jerami dikomposkan dulu lalu disebar ke lahan. 

Pemanfaatan jerami langsung di lahan sawah sangat menguntungkan untuk menghemat biaya dan tenaga kerja, tapi jerami baru terdekomposisi lebih satu bulan. Karenanya, Badan Litbang Pertanian berhasil menemukan inovasi dan teknologi pupuk hayati Biotara yang mengandung mikroba dekomposer Trichoderma Sp khas rawa yang disebut dengan Biotara.

Setelah jerami disebar ke petakan, Biotara bisa disebar sehingga perombakan lebih cepat. Biotara juga tetap efektif di lahan rawa yang masam dan tergenang karena diseleksi dari mikroba unggul di lahan rawa. 

Manfaat Biotara

Petani dapat memetik keuntungan lain karena Trichoderma dalam Biotara berperan sebagai pengendali penyakit tular tanah (soil borne disease). Biotara juga diperkaya mikroba pelarut-P Bacillus sp, dan penambat N Azospirillium sp yang hidup di lahan rawa.

Maka, seperti pupuk hayati lain Biotara  dapat meningkatkan kesuburan tanah, menghemat pupuk, meningkatkan hasil, dan mengurangi pencemaran lingkungan. 

 

Ketiga mikroba dalam Biotara itu, berdasarkan penelitian Badan Litbang Pertanian dapat meningkatkan efisiensi pemupukan nitrogen dan posfor sampai  30% serta meningkatkan hasil padi di lahan rawa sampai 20%. Jadi, dengan teknologi pupuk hayati—Biotara—bukan mustahil menyulap lahan rawa  menjadi lahan padi produktif dengan hasil 6-7 ton per ha.

Hal diakui oleh Ubed, petani rawa pasang surut Desa Sido Mulyo, Kec. Anggana, Kab. Kutai Kertanegara (Kaltim), dengan menggunakan Biotara memperoleh hasil 6,8 t GKG/ha dibandingkan sebelumnya hanya memperoleh rata-rata 5-6 t GKG/ha. Keuntungan lain, dapat menghemat penggunaan pupuk kimia, hanya 2/3 dari dosis rekomendasi.

Reporter : Kontributor
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018