Sabtu, 24 Agustus 2019


Merancang Peluang dan Aturan Drone untuk Pertanian

05 Agu 2019, 13:46 WIBEditor : Gesha

Penggunaan drone untuk pertanian sangat efisien | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Penggunaan drone untuk sektor pertanian kini umum digunakan untuk perkebunan dan pemetaan lahan. Tetapi bukan tidak mungkin di masa depan, subsektor lainnya bisa mempergunakan drone.

"Penggunaan drone untuk pertanian sangat terbuka peluangnya. Terutama untuk perlindungan tanaman (plant protection) di lahan yang luas. Tetapi untuk penggunaannya kita perlu memperhatikan berbagai sisi, termasuk regulasi untuk mengatur penggunaan drone di pertanian," papar Regional Secretary The International Society for Southeast Asian Agricultural Science (ISSAAS), Indonesian Chapter, Prof Dadang di Bogor, Senin (5/8).

Karenanya, Pakar bersama akademisi dan pelaku usaha bidang perlindungan tanaman berkumpul bersama dalam Seminar Nasional Penggunaan Drone pada Bidang Perlindungan Tanaman dalam rangka Menuju Industri Pertanian 4.0 di Indonesia.

"Drone itu adalah alat (tools) yang bisa dimanfaatkan dengan baik oleh petani, tidak hanya untuk menyemprot (pestisida) tetapi juga bisa menjadi drone cerdas karena bisa cepat mengindentifikasi segala macam residu yang ditimbulkan," tambah Prof Dadang.

Menurutnya, drone ini bisa sangat efisien, cepat dan hemat. "Khususnya untuk perlindungan tanaman karena lebih tepat dalam mengidentifikasi kebutuhan pestisida dari tanaman dengan usia tertentu," tuturnya.

Drone juga bisa menjadi solusi dengan semakin berkurangnya tenaga kerja, bahkan menarik peluang dari generasi millenial yang tertarik dengan teknologi untuk mempergunakan drone di bidang pertanian.

Guru Besar IPB University dan Kepala Pusat Penelitian Surfaktan dan Bioenergi, Prof Yandra Arkeman juga melihat peluang drone sebagai bagian langkah Indonesia menuju pertanian 4.0.

"Pertanian 4.0 sendiri dicirikan dengan penggunaan internet of things, blockchaij dan artificial intelegent (AI). Nah, drone cerdas ini diatur dengan adanya sensor sehingga bisa mengambil keputusan sendiri. Baik itu untuk menyemprot pestisida dengan ketinggian tertentu, berapa banyak, dan rentang waktu tertentu," paparnya.

Karenanya, drone yang ada sekarang dikostumisasi dengan tambahan artificial intelegent dengan adanya sensor tertentu. "Ahli Lingkungan, Hama dan Penyakit Tanaman harus bekerjasama dengan ahli pemprograman untuk bisa merancang sensor ini sehingga lebih presisi. Apalagi Indonesia punya peluang banyak untuk kostumisasi drone karena punya banyak jenis HPT," bebernya.

Manfaat drone untuk pertanian juga diungkapkan oleh perwakilan PT Bayer dan Croplife Asia, Bjoern. Menurutnya, drone sangat berguna untuk memberikan perlindungan pada petani khususnya dalam hal presisi penggunaan, efisiensi penggunaan dan aman untuk digunakan. Kehilangan hasil dari produksi pun sangat kecil karena pestisida menjadi lebih tepat dari segi jumlah, volume hingga waktu.

Di Asia, negara China adalah negara dengan adopsi teknologi drone yang paling cepat. Petani Cina Utara telah mempekerjakan pesawat tanpa awak di kebun untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja, dan mencapai peningkatan produktivitas yang luar biasa dalam prosesnya. Setiap drone membawa satu tangki semprotan bug di perutnya, dan terbang di atas jalur yang dihitung dan dioperasikan melalui remote control.

Untuk di Asia Tenggara, Malaysia menjadi salah satu negara yang tengah bersiap mengimplementasikan drone dan berbagai regulasinya untuk penggunaan drone di pertanian.

Aturan Drone

Karena tergolong pesawat tanpa awak, penggunaan drone khususnya untuk drone pemetaan lahan sudah seharusnya penerbangan drone diatur agar sesuai dengan aturan Civil Aviation Safety Regulation (CASR).

"Standar drone harus diatur ketinggiannya, sesuai spesifikasi standar penerbangan sehingga tidak bisa sembarangan dipergunakan oleh orang selain pilot (operator) yang tersertifikasi," tutur Kasubdit Dinas Penerangan TNI AU, Kolonel Penerbang Agung Sasongko.

Dirinya mencontohkan penggunaan drone untuk mengetahui masa tanam dan rendemen yang dilakukan oleh PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) dengan kebun tebu yang letaknya 2 kilometer dari Bandara Kertajati.

"Dalam penerbangan drone itu harus diketahui terutama oleh Air Traffic Control (ATC), terutama di kolom udara tertentu yang dilintasi oleh pesawat maupun helikopter," tuturnya.

Sedangkan untuk operator pestisida atau pemupukan dengan ketinggian kurang dari 10 meter, Agung menuturkan perijinan tersebut tidak diperlukan. "Beda lagi kalau untuk persiapan plantation dan pemetaan yang ketinggiannya memasuki kolom udara penerbangan, harus ijin," tegasnya.

Ketika nantinya drone digunakan oleh operator pestisida, aturan penggunaan drone diharapkan berbagai pihak untuk dibuat aturannya terlebih dahulu. Agar tidak ada tumpang tindih aturan yang akan terjadi.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018