Sabtu, 24 Agustus 2019


Dengan Teknologi Pascapanen, Buah Tropis Indonesia Mampu Naik Kelas

08 Agu 2019, 18:57 WIBEditor : Gesha

Dengan teknologi pascapanen yang tepat, buah Indonesia bisa naik kelas. Salah satunya jeruk yang dibuat dengan bentuk leather buah | Sumber Foto:BB PASCAPANEN

 

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Peristiwa dibuangnya hasil panen buah gara-gara harga yang anjlok saat panen raya sebenarnya bisa dihindari dengan teknologi pascapanen yang tepat. Tak hanya menyimpan, teknologi pascapanen juga bisa meningkatkan nilai tambahnya sehingga buah tropis Indonesia bisa naik kelas.

"Banyak teknologi pascapanen maupun teknologi pengolahan yang bisa di manfaatkan.  Anjlognya harga komoditas pertanian ini disebabkan oleh melimpahnya produksi hasil pertanian sehingga tidak tertampung oleh pasar, disinilah peran teknologi pengolahan menjadi  sangat penting untuk menyelamatkan hasil panen," ungkap Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Prayudi Syamsuri.

Prayudi menambahkan teknologi tersebut juga tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga mampu meningkatkan masa simpan produk dan menambah variasi jenis olahan. "Kita ketahui bahwa buah-buahan bersifat musiman, dengan demikian akan terjadi kelangkaan diluar musim, dan akan terjadi fluktuasi harga.   Disamping itu produk pertanian sangat beragam, termasuk dalam kualitasnya," beber Prayudi.

Apalagi tidak semua buah memiliki kualitas yang bagus, biasanya petani atau pengepul akan melalukan grading terhadap hasil panennya. Grade yang tinggi biasanya dijual segar dengan harga yang bagus, namun grade yang rendah maupun off grade, biasanya tidak laku dijual.

"Ini sebenarnya bisa digunakan sebagai bahan baku olahan.  Terlebih  jaman sekarang,  banyak industri besar yang tidak  lagi menggunakan bahan baku dalam bentuk buah dan sayur segar namun sudah terolah minimal, misal sudah terkupas maupun dalam bentuk puree /bubur buah beku," urai Prayudi.

Hal tersebut ditempuh industri karena lebih praktis dan mampu mengurangi biaya produksi. "Sehingga proses pengolahan (menjadi puree) tidak harus menggunakan  mesin yang canggih bisa juga dilakukan dengan alat sederhana yang ada di rumah tangga," tambahnya.

BB Pascapanen sendiri telah menghasilkan beberapa inovasi teknologi pengolahan dan telah diadopsi oleh mitra antara lain puree buah buahan di Cirebon, jus buah jeruk  di Pontianak, olahan rambutan di Sambas dan lain-lain.

"Indonesia termasuk yang banyak mengkonsumsi sari buah-buahan dan minuman ringan. Sayangnya tidak semua kebutuhan ekstrak atau bahan baku jus dan minuman ringan Indonesia dapat dicukupi dari dalam negeri sehingga masih harus mengimpor," tuturnya

Sehingga pengolahan buah-buahan dapat menghasilkan olahan buah berbagai bentuk seperti cair (produk minuman), semi padat dan produk kering. Masing-masing produk dapat disesuaikan dengan kesesuaian karakter bahan baku yang akan diolah, keinginan konsumen dan pasar. 

Teknologi Lain

Selain teknologi puree, BB Pascapanen juga sedang mengembangkan teknologi olahan buah antara lain berupa serbuk minuman, leather buah dan buah kering. Serbuk minuman buah-buahan berbahan baku buah asli, bukan sekedar perisa atau esen seperti jenis yang dijual di pasaran.

"Bentuknya serbuk, bercita rasa buah asli yang menyegarkan, sehingga sangat praktis dan berdaya simpan lama," urai Prayudi. Cara pembuatannya pun sangat sederhana dan dapat dengan mudah diterapkan di UKM sentra buah. 

Leather buah adalah olahan buah dalam bentuk lembaran semi basah dan berasa manis bercita rasa buah asli. Leather buah belum banyak dijumpai di pasaran, sehingga memiliki peluang untuk dikembangkan untuk menggantikan produk sejenis yang sekarang masih impor dan juga  untuk melengkapi aneka produk olahan yang sudah ada.

Sedangkan buah kering merupakan awetan buah yang berdaya simpan lama, selain mempunyai bentuk yang semi basah hingga kering, produk ini juga mengandung gula yang dapat berfungsi sebagai pengawet.

Dengan teknologi pengolahan, petani buah diharapkan akan tetap untung meski produk buahnya melimpah, karena harga produk segar tetap  dihargai dengan pantas.

Reporter : Ermi Sukasih dan Dwi Amiarsi
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018