Minggu, 18 Agustus 2019


Dalam 5 Tahun, Nanoteknologi Berhasil Dukung Pertanian

13 Agu 2019, 14:01 WIBEditor : Gesha

Pengembangan Nanoteknologi terus dioptimalkan oleh Balitbangtan untuk mendukung pembangunan pertanian | Sumber Foto:MUKHLIS

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor --- Waktu begitu cepat berlalu, lima tahun lalu bendera Nano Teknologi dikibarkan, kini hasilnya sudah terlihat dan segera berkontribusi dalam pembangunan pertanian modern. Utamanya untuk mendorong era pertanian 4.0 yang menitikberatkan pada teknologi.

Hal tersebut terlihat saat Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Prama Yufdy dalam Workshop on Recent Advances and Future Perspective in Nanotechnology for Food And Agriculture di Kampus Penelitian Pertanian Cimanggu Bogor, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian, Bogor, Selasa (13/8).

Prama menjelaskan jika selama ini Balitbangtan telah membangun laboratorium nanoteknologi untuk pangan dan pertanian, lengkap dengan berbagai instrument modern mulai dari prosesing sampai analisis produknya dengan presisi yang tinggi. Pembangunan laboratorium itu juga diiringi dengan penyiapan program kegiatan penelitian serta SDM peneliti dan teknisi yang mumpuni.

“Sejak kurun waktu tersebut Badan Litbang Pertanian telah menghasilkan sejumlah produk nanoteknologi yang diterapkan pada aspek hulu-hilir pertanian dan pangan dengan berbagai status tahapan pengembangannya," ujarnya. 

Produk Nanoteknologi

Salah satu produk nano yang saat ini menjadi unggulan Badan Litbang Pertanian yaitu nanobiosilika cair yang dihasilkan dari limbah sekam padi. Produk ini telah diujicoba pada skala lapang di 17 Provinsi pada tanaman padi sawah, lahan kering dan rawa, serta tanaman bawang merah dataran tinggi bekerja sama dengan Pemerintah Daerah, industri, dan petani. 

Pada tanaman padi penggunaan nanobiosilika cair dapat meningkatkan ketahanan terhadap hama penyakit dan mampu memberikan tambahan produksi hingga 1,4 ton GKP per hektar. Sedangkan pada tanaman bawang merah dapat memberikan tambahan produksi hingga 2 ton per hektar. 

“Sejauh ini penerapan nanobiosilika cair mendapat respon positif dari masyarakat. Produk ini sedang dalam proses lisensi dengan pihak industry," ujarnya optimis. 

Produk nanoteknologi lainnya yaitu nanobiopestisida cair yang efektivitasnya 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan biopestisida konvensional. Ada juga produk nanobiopestisida serbuk, nanozeolit dan nanocoating yang dapat diterapkan dan meningkatkan umur simpan buah, seperti pada pisang, manga, manggis, dan salak, lebih dari tiga minggu untuk tujuan ekspor.

Di bidang peternakan, Badan Litbang Pertanian menghasilkan produk nano untuk pakan (Nano-Zn-Fitogenik) sebagai pemacu pertumbuhan dan imunostimulan ternak ayam pedaging. Kemudian, produk nanohormon (prostaglandin) untuk penyerentakan birahi pada sapi mendukung program swasembada daging Sapi Indukan Wajib Bunting (SIWAB). 

Pada aspek hilir, Badan Litbang Pertanian juga telah menghasilkan produk nanobiosilika serbuk dari sekam padi untuk memenuhi kebutuhan industry karet. 

Dia berharap, pengembangan nanoteknologi ke depan agar dituangkan dalam sebuah roadmap terintegrasi yang melibatkan kompetensi multidisiplin serta berbagai stakeholders terkait. 

 

Roadmap nanoteknologi tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu bahan dalam penyusunan RPJMN pangan dan pertanian 2020 - 2024.

Reporter : Mukhlis
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018