Friday, 07 August 2020


Transfer Teknologi Untuk Produksi Perkebunan Berkelanjutan

20 Aug 2019, 11:29 WIBEditor : Gesha

Kementerian Pertanian bersama IPB University dan asosiasi komoditas perkebunan merasakan pentingnya untuk saling transfer teknologi yang bisa diadopsi Indonesia guna meningkatkan produktivitas komoditas perkebunan | Sumber Foto:NATTASYA

TABLOIDSINARTANI.COM, Bogor ---Hingga saat ini, komoditas perkebunan masih menjadi sumber ekonomi penting dari Indonesia. Agar tetap berkelanjutan dari segi produksi maupun lingkungan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) bersama IPB University melakukan konferensi bersama stakeholder perkebunan internasional.

"Perkebunan masih terus mendongkrak pertumbuhan ekonomi di Indonesia, ini terlihat dari kontribusinya dalam Produk Domestik Bruto (PDB), valuta asing, penyerapan tenaga kerja, sumber bioenergi dan pendapatan rumah tangga pedesaan. Karenanya kita masih akan terus ditingkatkan," tutur Kepala Balitbangtan, Fadjry Djufry ketika membuka The 1st International Conference On Suistanable Plantation di Bogor, Selasa (20/8).

Anekaragam komoditi perkebunan tersebut antara lain Sawit, tebu, sagu, lada, kelapa, kakao, pala, hingga teh. "Kita punya potensi perkebunan cukup besar kelapa sawit yang paling dominan. Tetapi yang lainnya juga memiliki potensi yang sama besarnya dan berprospek untuk pasar luar negeri," tuturnya.

Tetapi, subsektor perkebunan khususnya sawit memiliki banyak isu negatif yang menjadi kendala pengembangan. Mulai dari isu lingkungan berupa deforestasi, isu kesejahteraan manusia, hingga isu iklim. "Untuk melakukan ekstensifikasi (perluasan areal) untuk sawit memang sudah seharusnya tidak mungkin lagi karena akan bergesekan atau overlap denga  komoditi pertanian lainnya. Karena itu lebih urgent untuk meningkatkan produksi dan produktivitasnya daripada memperluasnya," tutur Dekan Fakultas Pertanian, IPB University, Suwardi menambahkan.

Lebih lanjut Suwardi menuturkan perlunya teknologi yang menjadikan komoditas perkebunan menjadi lebih produktif dan menghasilkan secara berkelanjutan serta bertanggung jawab terhadap lingkungan. Untuk diketahui, hingga sekarang produktivitas kelapa sawit masih relatif rendah, yakni 15%-35% atau di bawah produktivitas potensial.

Kondisi serupa juga dialami oleh komoditi perkebunan lainnya seperti kakao, pala bahkan lada sehingga memerlukan dukungan riset, inovasi dan penerapan praktik terbaik.

Karena itu, Balitbangtan bersama IPB University menggelar 1st International Conference On Suistanable Plantation dengan mengundang narasumber berupa praktisi maupun peneliti bidang perkebunan dari universitas dari luar negeri. "Kita bisa saling informasi tentang ilmu pengetahuan dari berbagai negara. Termasuk menjembatani solusi hambatan produksi perkebunan," tuturnya.

Tak hanya itu, beberapa komoditas perkebunan lain yang potensial untuk dikembangkan, juga akan dicarikan bersama teknologi yang cocok untuk dikembangkan guna meningkatkan produktivitasnya.

"Misalnya sagu, kita mengundang peneliti dari Jepang, Prof Hiroshi Ehara yang akan bicara mengenai produksi berkelanjutan dari sagu dan pemanfaatannya di Jepang sana. Ini penting bagi Indonesia karena di Indonesia khususnya di Papua dan Sumatera, pemanfaatan sagu masih belum banyak," ungkapnya.

Kemudian komoditas teh, dimana produksi Indonesia kian menurun. "Disinilah perlunya introduksi teknologi khususnya dalam pengelolaan perkebunan teh. Sehingga produksi maupun produktivitas teh Indonesia bisa kembali eksis," tutur Suwardi.

Tak hanya peneliti, konferensi ini juga mendatangkan beragam asosiasi peneliti komoditas perkebunan dari dalam maupun luar negeri seperti Perhimpunan Agronomi Indonesia (PERAGI), International Society of Southeast Asia Agricultural Scientist (ISSAAS), Japanese Society of Tropical Agriculture (JSTA), dan The Society of Sago Palm Studies (SSPS).

Reporter : Nattasya
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018