Minggu, 20 Oktober 2019


Dengan Teknologi, Produksi Padi Terdongkrak di Batas Negeri

10 Sep 2019, 20:05 WIBEditor : Gesha

Panen yang dilakukan di ujung negeri | Sumber Foto:HUMAS BPTP PAPUA

TABLOIDSINARTANI.COM, Merauke --- Berada di ujung timur Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Merauke secara administratif berbatasan langsung dengan Negara Papua New Guinea (PNG). Wilayah perbatasan (WP) ini mempunyai peranan yang sangat penting dan strategis.

Keberadaan Merauke yang berbatasan langsung dengan negara PNG pun membuat daerah ini berpotensi untuk melakukan ekspor komoditas pangan. Dukungan lahan irigasi dan bantuan alsintan yang melimpah oleh pemerintah merupakan dukungan nyata mendukung program terkait.

Karenanya, percepatan pembangunan di wilayah perbatasan Papua ini harus dilakukan secara komprehensif, mencakup aspek teknis, teknologi, sosial-budaya, dan ekonomi. Upaya tersebut dilakukan BPTP Papua sebagai UPT Balitbangtan Kementan di daerah dengan melakukan pendampingan VUB ini dalam kegiatan model pengembangan inovasi teknologi pertanian bioindustri di WP.

 

Adapun komponen teknologi yang diintroduksi adalah dengan memperkenalkan VUB Lahan Irigasi (Inpari 32, 34, 35, 36, 37, 43) melalui sistem tanam Jajar legowo 2:1. Ditambah, pemupukan berimbang berdasarkan rekomendasi Uji sederhana PUTS (perangkat uji tanah sawah) serta pengendalian hama dan penyakit terpadu.

Manfaat teknologi dan pendampingan tersebut dirasakan betul manfaatnya oleh petani. Seperti yang diungkapkan oleh petani Poktan Niminam, Andrias Massang. Poktan ini terdiri dari 3 suku OAP yaitu Mappi, Muyu, Marin. Mereka sebelumnya hanya menanam 1x dalam 1 tahun, namun bersama BPTP Papua, Yan dan Poktan Niminam dan  beberapa daerah sekitar sukses menggelar panen hingga 2 kali dalam setahun dengan hasil yang cukup baik. 

Salah satunya hasil panen tersebut digelar di Kampung Kamangi Distrik Tanah Miring dan dihadiri oleh kepala BPTP Papua, LO UPSUS Papua dari Ditjen TP, Sekdis TPH dan Perkebunan Merauke, Babinsa, Ketua Gapoktan bersama petani distrik Tanah Miring serta staf BPTP Balitbangtan Papua. 

Adapun hasil panen sebelumnya dalam kegiatan pendampingan di musim tanam pertama (MT-1) disaat masih terdapat air (akhir musim rendeng/hujan) mempunyai produktifitas lebih tinggi dibandingkan di MT-2.

Dari 6 VUB yang diintroduksi saat itu, Inpari 37 Lanrang memperoleh hasil ubinan tertinggi dengan 7 ton per hektar. Beberapa varietas lain memperoleh hasil ubinan diantaranya Inpari 32 adalah 5,2 ton per hektar, Inpari 34 sebanyak 3 ton/ha, Inpari 35 sebanyak 3,2 ton/ha, Inpari 36 sebanyak 6,8 ton/ha dan Inpari 43 sebanyak 5 ton/ha.

Meskipun hasilnya menggembirakan, Yan mengutarakan masih ada beberapa permasalahan yang bisa dicari jalan keluarnya yaitu terkait sulitnya air di musim gadu, spare part alsintan dan jalan usaha pertanian. 

Menanggapi hal tersebut, Kasie Program dari Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tanaman (BPOPT) yang menjadi LO Upsus Papua, Memed Jamhari menuturkan bantuan pompanisasi akan diturunkan dengan tantangan menanam di bulan September  seluas lebih dari 100 ha ditawarkan kepada petani. Begitupula dalam pengelolaan UPJA disarankan agar lebih maksimal. Bahkan dalam merawat alsintan harus dijadikan "istri ke-2". 

Setelah panen, kegiatan dilanjutkan dengan Bimtek. Kali ini bimtek LPWP dilaksanakan di IP2TP Merauke. Mengangkat pembahasan terkait VUB Pajale dan Ayam KUB, Bimtek kali ini bertujuan untuk pemenuhan kebutuhan gizi keluarga dan ketahanan pangan di wilayah perbatasan.

Peserta bimtek yang terdiri dari pace-mace, mamak-mamak Papua, bapak ibu petani dan milenial di sekitar IP2TP Merauke terlihat sangat antusias mengikuti bimtek ini. Acara bimtek kemudian ditutup dengan panen bersama kacang hijau Vima 1, Vima 3 dan Vima 4 VUB produksi Balitkabi Balitbangtan.

Reporter : Ressa, BPTP Papua
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018