Friday, 07 May 2021


Menggunakan Biochar Tidak Boleh Sembarangan

06 Aug 2014, 18:47 WIBEditor : Kontributor

Euforia biocharcoal (biochar, arang hayati, arang hitam) sebagai solusi instan manjur mengatasi masalah kemandekan produksi pangan sudah berlalu. Karena ternyata dalam aplikasinya di sektor pertanian, masih banyak misteri mengapa aplikasi yang satu bisa sukses menaikkan hasil sedangkan yang lain gagal.

Sementara itu, industri biochar yang masih muda sudah tumbuh mengglobal tetapi umumnya masih dalam skala kecil. Ini menurut laporan hasil survei International Biochar Initiative (IBI) tentang keadaan industri biochar dunia tahun 2013 yang diterbitkan April 2014. Industri biochar umumnya masih berupa perusahaan yang menjual produk-produk biochar dalam volume kecil kepada pengguna akhir lokal seperti untuk pemeliharaan pekarangan dan pohon.

Dalam laporan berjudul “2013 State of the Biochar Industry” itu disebutkan bahwa dalam dunia yang kini sedang dilanda keterbatasan sumberdaya dan ketidak pastian iklim, biochar telah diidentifikasi sebagai suatu alat potensial untuk meningkatkan produktivitas pertanian. Juga meningkatkan ketahanan pertanian terhadap dampak perubahan iklim, mengurangi emisi gas rumah kaca dan menghasilkan energi berkelanjutan .

Biochar yang ditambahkan pada tanah dapat meningkatkan ketahanan ekosistem dalam menghadapi tekanan terhadap produktivitas tanah. Namun, biochar itu sendiri beragam, tidak semua sama. Bahan baku, teknologi pembuatan, dan penggunaan akhir yang bervariasi mencerminkan kerumitan variabel yang belum sepenuhnya dipahami.

Yang Masih Kabur

Era modern apresiasi terhadap aplikasi biochar dalam pertanian baru sekarang baru berumur sekitar 7 tahun. Yakni sejak penemuan tanah hitam Indian (terra preta de indio) yang tetap subur dan kaya nutrisi sejak sekitar 2.000 tahun lalu di Brasil. Padahal, secara tradisional, sebenarnya praktek penggunaan biochar untuk menyuburkan tanah telah tersebar juga di berbagai benua seperti di Asia (Jepang, India, China), Amerika Utara, Eropa dan Afrika.

Hasil-hasil riset selama 7 tahun ini menunjukkan bahwa pembenahan tanah (soil amendmemt) menggunakan biochar memberi hasil baik dalam hal daya ikat air oleh tanah, peningkatan hara tanah, bahkan juga udara yang lebih bersih. Namun, aplikasinya untuk pertanian, sebagaimana diutarakan oleh ilmuwan tanah Badan Penelitian Pertanian (ARS) Amerika Serikat, Kurt Spokas dapat memberi hasil berbeda di satu lahan, bahkan bisa sebaliknya pada lahan lain.

Hasil penelitian ARS menemukan bahwa emisi gas rumah kaca CO2 dan N2O dari tanah berkurang 20-60% dengan aplikasi biochar yang tinggi, bahkan dapat menekan 90% emisi N2O. Namun, menurut Spokas, misteri yang dihadapi adalah bagaimana memperhitungkan cara kerjanya sehingga kita dapat mengoptimalkan lebih lanjut dan membuatnya sebagai proses yang dapat diprakirakan.

Guru besar agronomi dari Universitas Negara Iowa, David Laird mengatakan perubahan kesuburan oleh biochar juga belum dapat diprakirakan. Diakui bahwa biochar bagus untuk memecahkan masalah spesifik yang timbul pada tanah yang spesifik pula. Namun ditekankan bahwa biochar tidak memberi peningkatan hasil pada tanah yang produktif.

Ia memberi contoh, pada tanah berpasir dengan kandungan hara dan daya ikat air yang rendah biochar dapat digunakan untuk memperbaiki. Nilai pH tanah serta daya simpan posfor dan hara lainnya dapat dinaikkan. Dalam percobaan lainnya, biochar diduga menyerap racun pembusukan tanaman jagung di lahan sehingga pada pertanaman berikutnya hasil jagung meningkat, tidak lagi turun seperti dialami bila tanpa perlakuan biochar.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018