Friday, 18 June 2021


Diversifikasi Pangan Solusi Kelaparan Tersembunyi

14 Jan 2015, 17:09 WIBEditor : Kontributor

Masalah kelaparan (hunger) masih merupakan tantangan serius bagi dunia, utamanya negara berkembang termasuk Indonesia. Namun ternyata ada pula kelaparan tersembunyi (hidden hunger) yang tidak kalah serius bagi semua negara.

Hal tersebut terungkap dalam laporan hasil penelitian dan kalkulasi International Food Policy Research Institute (IFPRI) tentang gambaran kelaparan penduduk dunia tahun 2014 yang diberi judul “2014 Global Hunger Index; The Challange of Hidden Hunger”. Laporan itu mencatat adanya kemajuan pengentasan kelaparan penduduk dunia di negara-negara berkembang sejak tahun 1990. Tetapi dunia kini menghadapi masalah yang harus ditangani karena sering terabaikan atau kurang diperhatikan, yakni kelaparan tersembunyi.

Penduduk dunia yang menderita kelaparan di negara-negara berkembang tahun 2014 ada sekitar 805 juta orang dan dinilai masih merupakan masalah serius. Yang juga tidak kalah serius ialah bahwa yang menderita kelaparan tersembunyi diperkirakan mencapai lebih dari 2 miliar orang dari penduduk dunia yang berjumlah 7 miliar orang.

Konsep “kelaparan” (hunger) yang digunakan oleh IFPRI sesuai dengan konsep FAO, yakni kurangnya pangan yang dikonsumsi, atau jumlah energinya lebih kecil dari 1.800 kilo kalori per hari. Angka 1.800 kkal itu merupakan tingkat asupan energi minimal yang dibutuhkan orang pada umumnya untuk dapat hidup sehat dan produktif. Sedangkan yang dimaksudkan sebagai “kelaparan tersembunyi” (hidden hunger) adalah kekurangan asupan bahan gizi mikro (micronutrients), yakni vitamin dan mineral.

IFPRI mengukur tingkat kelaparan dengan Indeks Kelaparan Global (Global Hunger Index /GHI). Skor nilai GHI terdiri dari skala angka dari 0 (terbaik) hingga 100 (terburuk). Kalkulasi GHI merupakan hasil gabungan indikator tiga komponen, yakni kekurangan konsumsi pangan (undernourishment), berat badan anak-anak di bawah normal (child underweight), serta tingkat kematian anak (child mortality). Kondisi kelaparan dengan skor GHI 30 atau lebih masuk dalam kriteria sangat berbahaya (extremely alarming), antara 20,0-29,9 berbahaya (alarming), 10,00-19,9 serius (serious), 5,0-9,9 moderat (moderate), dan 4,9 ke bawah sebagai rendah (low). Untuk GHI 2014 riset dan pencatatan dilakukan pada 120 negara berkembang, negara-negara industri maju tidak diikutkan.

Hasil kalkulasi IFPRI menunjukkan terjadinya penurunan skor GHI negara berkembang sebesar 39% dari rata-rata 20,6 tahun 1990 menjadi 12,5 tahun 2014. Sebanyak 26 negara mengurangi tingkat kelaparan lebih dari 50%, di antaranya 9 negara dengan tingkat penurunan 60-77%. Lima yang terpesat adalah Thailand (-77%) dari GHI 21,3 menjadi 5,0, Vietnam (76%) dari 31,4 menjadi 7,5, dan Ghana (-71%) dari 27,2 menjadi 7,8, Mexico (-71%) dari 5,8 menjadi di bawah 5, Venezuela (-71%) dari 7,5 menjadi di bawah 5.

Indonesia dalam periode tersebut berhasil mengurangi tingkat kelaparan dari GHI 20,5 menjadi GHI 10,3, sehingga masih masuk negara dengan kriteria tingkat kelaparan “serius”. Di antara negara-negara sekitar yang GHI sudah mendekati kriteria rendah adalah Malasya (5,4), China (5,4), dan Thailand (5,0).

Kelaparan Tersembunyi

IFPRI mendefinisikan kelaparan tersembunyi sebagai satu bentuk kekurangan nutrisi yang terjadi bila asupan dan penyerapan vitamin dan mineral terlalu rendah untuk mendukung kesehatan yang baik dan pertumbuhan.

Satu di antara tiga orang penduduk dunia (termasuk negara maju) kini menderita kelaparan tersembunyi. Tingkat kekurangan paling mencolok vitamin A terdapat di Afrika dan Asia, mineral besi di Afrika dan Asia, dan iodium di Eropa, Afrika dan Asia. Kekurangan iodium dapat menyebabkan kerusakan otak bayi baru lahir, mengurangi kapasitas mental dan lainnya. Kekurangan zat besi menyebabkan anemia, gangguan perkembangan motorik dan kognitif, kelahiran prematur dsb. Kekurangan vitamin A menyebabkan gangguan penglihatan, meningkatkan resiko penyakit parah oleh penyakit infeksi dsb. Kekurangan mineral seng dapat mengakibatkan pelemahan sistem kekebalan tubuh, dan seterusnya.

Dampak kelaparan tersembunyi bersifat merusak karena dapat menyebabkan gangguan mental, kesehatan yang buruk, produktivitas rendah, bahkan kematian. Dampak lebih jauh kelaparan tersembunyi ialah menghambat perkembangan sosio ekonomi masyarakat terutama di negara-negara berpendapatan rendah dan menengah.

Di antara penyebab kelaparan tersembunyi adalah diet yang buruk, maupun masalah kesehatan seperti penyakit, infeksi dan parasit. Diet yang terlalu mengandalkan jenis pangan pokok saja seperti beras, gandum, jagung, ubikayu sering menyebabkan kelaparan tersembunyi. Diet buruk selain dilatari oleh kemiskinan, juga karena kurang pemahaman dan kesadaran akan pentingnya diet berimbang dan bergizi.

Solusi

IFPRI sepakat dengan kalangan ilmuan yang berpendapat bahwa salah satu cara paling efektif untuk mencegah kelaparan tersembunyi secara berkelanjutan adalah meningkatkan keragaman makanan (diet). Untuk jangka panjang, diversifikasi makanan memastikan makanan yang sehat yang mengandung kombinasi berimbang dan memadai bahan gizi makro (karbohidrat, lemak, protein) dengan bahan gizi mikro esensial dan zat-zat lain seperti serat pangan.

Diutarakan bahwa pembangunan pertanian di waktu lalu difokuskan pada peningkatan produksi makanan pokok sehingga harga relatif menurun dibanding bahan-bahan pangan bukan pokok yang memiliki kandungan unsur gizi mikro yang lebih kaya. Makanan pokok semakin dalam jangkauan, tetapi harga-harga makanan bukan pokok semakin mahal di berbagai negara sehingga kurang menarik bagi kaum miskin.

Di antara langkah-langkah yang perlu menurut IFPRI ialah mengembangkan keragaman makanan yang mendorong konsumsi berbagai varietas serealia, leguminosa, buah-buahan, sayuran dan produk hewan, termasuk dengan memanfaatkan pekarangan. Lainnya yang perlu dikembangkan adalah fortifikasi (pengkayaan) pangan pokok komersial dengan nutrisi mikro, biofortifikasi, dan suplementasi. Olson PS

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018