Friday, 18 June 2021


Mengajak Kaum Muda Kembali ke Desa

29 Jan 2015, 17:31 WIBEditor : Kontributor

Dalam sepuluh tahun terakhir Tiongkok mencatat kemajuan besar mengembangkan kapasitas dan produksi pangan sehingga mampu menjamin ketahanan pangan. Tetapi kini muncul kekhawatiran apakah dalam 10 tahun mendatang prestasi itu masih dapat dipertahankan.

Masalahnya, sebagaimana dikemukakan oleh Jieying Bi dari Lembaga Informasi Pertanian Akademi Ilmu Pertanian China ialah bahwa belakangan ini telah terjadi arus besar-besaran kaum muda ke kota. Sehingga yang mengurusi pertanian di desa tinggal perempuan, anak-anak dan para lanjut usia. Hasil satu survai menunjukkan pula hampir tidak ada orangtua yang berharap anaknya akan menggeluti bidang pertanian.

Dalam tulisan lain yang sama-sama diusung oleh satu edisi Palawija Newsletter yang diterbitkan oleh Pusat Pengentasan Kemiskinan melalui Pertanian Berkelanjutan PBB (UNCAPSA), Direktur Profesional Muda untuk Riset Pertanian untuk Pembangunan (Young Professionals for Agricultural Research for Developent/YPARD), Courtney Paisley mengemukakan kawula muda tidak lagi tertarik tinggal di pedesaan dan menangani pertanian. Hal tersebut telah menjadi keprihatinan para pakar pertanian dan pembuat kebijakan di seluruh dunia, termasuk Asia dan Pasifik.

Pertanian sudah jarang menjadi pilihan pertama bagi kaum muda karena dipandang tidak memiliki prestis. Pemuda jadi petani tidak dipandang komunitasnya sebagai suatu keberhasilan. Ada keprihatinan, bila pemuda memasuki pertanian tanpa semangat kuat, maka minat untuk melakukan inovasi juga tidak dapat diharapkan.

Ia mencatat beberapa penyebab umum kaum muda menjauhi sektor pertanian. Salah satunya ialah imbalan finansial di luar pertanian lebih baik. Juga tradisi yang kurang menghargai gagasan dan masukan kaum muda termasuk dalam mengambil kebijakan.

Lainnya termasuk ketidak sesuaian antara pendidikan dan pekerjaan nyata di sektor pertanian. Pertanian terus berubah dan membutuhkan keterampilan yang sesuai untuk menghadapi tantangan baru. Ada bukti bahwa keterampilan dan kompetensi para lulusan pendidikan tidak sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Para profesional baru di bidang pertanian seharusnya dapat bekerja dalam kemitraan dengan berbagai pemangku kepentingan dan memahami rantai nilai, potensi keuntungan serta kewirausahaan dalam berbagai tahap.

Cerita Tiongkok

Di tengah arus urbanisasi besar-besaran tenaga kerja usia di bawah 40 tahun ke kota dan sektor industri, Jieying Bi menunjukkan Tiongkok terus membangun sektor pertanian. Di tengah kenaikan ongkos tenaga kerja akibat urbanisasi, pertanian Tiongkok menjalani masa transisi berupa modernisasi teknologi dan kebijakan. Mereka menggerakkan mekanisasi, konsolidasi dan transfer tanah ke arah skala usaha tani yang lebih besar. Pertanian tradisional berubah menjadi pertanian berorientasi pasar dan bersifat industrial. Pertanian bersifat multifungsi didukung sistem pertanian elektronik dan model baru penyuluhan.

Mekanisasi penyiapan tanah, penanaman dan panen tahun 2013 sudah mencakup 59% areal pertanian Tiongkok dan diperkirakan 61% tahun 2014. Mekanisasi mendorong kebijakan skala usaha tani yang optimal sehingga berkembang transfer tanah untuk pengembangan agribisnis skala besar. Transisi ini ditandai bertumbuhnya koperasi pertanian dan usaha skala besar di pertanian dan peternakan. Pertanian tradisional berubah menjadi pertanian berorientasi pasar yang terpadu dengan pasar domestik dan internasional. Di daerah-daerah yang kurang subur dibangun pertanian hortikultura organik dan ramah lingkungan yang dapat menjadi obyek wisata. Di dalam dan pinggir kota dikembangkan pertanian organik dan ramah lingkungan berbagai model untuk ikut memenuhi kebutuhan sayuran penduduk kota.

Modernisasi pertanian Tiongkok juga dimaksudkan untuk membangun daya tarik bagi kaum muda. Pemerintah juga memberi dukungan fasilitas pinjaman finansial dan perpajakan bagi pemuda yang mau kembali ke desa menggarap usaha pertanian. Tersedia pula program pelatihan keterampilan bertani dan manajemen bagi mereka yang butuh. Sejumlah kaum muda termasuk para sarjana mulai ikut melibatkan diri di berbagai bidang pertanian dan banyak yang berhasil. Namun itu masih sedikit dibanding gambaran keseluruhan yang diharapkan. Masih banyak faktor penghambat masuknya kaum muda terpelajar dan intelektual ke sektor pertanian di pedesaan.

Hambatan itu meliputi: 1. Pendidikan dan pelatihan yang belum dapat sepenuhnya memperlengkapi pemuda untuk memenuhi kebutuhan teknik intensif pertanian modern; 2. Menghadapi resiko mengusahakan pertanian modern, insentif khusus yang ditawarkan bagi pemuda agak terbatas dan 3. Tingkat pendapatan pada usaha kecil pertanian tradisional lebih rendah dibanding pada sektor lain.

Menarik Pemuda

Untuk meningkatkan daya tarik pertanian bagi pemuda di negerinya, Jieying Bi menganjurkan 4 langkah kebijakan yang perlu diambil.

Pertama, sangat perlu ada peta-jalan (roadmap) untuk pertanian modern, perspektif inovatif yang disumbang pemuda diberi prioritas tinggi. Kedua, perlu ada strategi yang jelas untuk dikembangkan. Ketiga, perlu ada mekanisme efektif pada tingkat operasional. Semua instansi pemerintah terkait bekerjasama mengerjakannya dengan asosiasi pemuda. Dan keempat, perlu dibangun jaringan pendampingan berbasis luas. Ini meliputi penyiaran, penghargaan, kompetisi riset dan pengembangan, kompilasi cerita keberhasilan, konperensi dan sejenisnya, dan sebagainya yang menyangkut kinerja pemuda dalam pembangunan pertanian modern.

Pada lingkungan yang lebih luas, khususnya Asia dan Pasifik, pimpinan YPARD, Cortney Paisley menganjurkan perlu ada program adpis (mentoring) untuk menarik keterlibatan profesional muda ke bidang pertanian. Program mentoring staf senior bersama staf junior yang belum berpengalaman tidak bersifat satu arah tetapi bersifat dua arah atau timbal balik, tidak dengan pendekatan tradisional “senior lebih tahu” tetapi transfer pengetahuan dua arah. Mentoring dapat membantu mengungkap potensi profesional muda untuk memajukan pembangunan pertanian. Olson PS

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018