Friday, 18 June 2021


Lahan Masam Dapat Menambah Produksi Kedelai

06 Feb 2015, 21:18 WIBEditor : Kontributor

Potensi sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan pilihan teknologi di Indonesia cukup tersedia untuk mewujudkan swasembada kedelai. Tinggal komitmen dan koordinasi operasionalisasi memperluas areal tanam dan menaikkan tingkat hasil.

Di antara pilihan yang terbuka adalah pemanfaatan lahan kering masam. Kendala memang ada, namun solusi juga ada. Ini yang ditawarkan oleh Arief Harsono dkk (2014) dari Balai Penelitian Tanaman Aneka Kacang dan Umbi, Malang dan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian, Bogor dalam makalah yang mereka tulis.

Diutarakan, dari total 103 juta ha lahan kering masam di Indonesia, ada 18,5 juta ha yang sesuai untuk pengembangan tanaman pangan, termasuk kedelai. Sebagian besar tersebar di Sumatera, Kalimantan dan Papua. Sudah banyak yang ditanami tanaman pangan seperti ubikayu, jagung, padi gogo, dan tanaman perkebunan seperti karet, sawit dan tebu. Lainnya masih berupa hutan, semak belukar atau padang alang-alang.

Mengembangkan kedelai secara monokultur di lahan kering masam pada tahap sekarang belum menarik bagi petani karena kalah bersaing dengan berbagai tanaman lain. Penyebab utama ialah tingkat kesuburan lahan masam rendah dan miskin biota tanah. Nilai pH tanah rendah sehingga kandungan Fe dan Mn tinggi dalam batas meracuni tanaman. Kadar Al tinggi di atas 20% sehingga akar kedelai kurang berkembang dan bintil akar tidak terbentuk dengan baik, dan ketersediaan hara makro N, P, K, Ca dan Mg rendah.

Agar tanaman kedelai dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik di lahan kering masam perlu tindakan ameliorasi dengan kapur dan dosis pupuk anorganik NPK yang relatif tinggi. Biaya usahatani kedelai menjadi relatif tinggi. Ditambah dengan tingkat hasil varietas unggul yang belum tinggi, maka daya saing kedelai monokultur akan kalah dibanding sejumlah komoditas lain yang biasa atau dapat diusahakan petani.

Namun peneliti melihat peluang mengembangkan kedelai di lahan masam kering melalui kebijakan pola tanam sisipan kedelai pada tanaman utama. Ini dikombinasi dengan penghematan biaya pemupukan melalui penggunaan pupuk hayati untuk mensubstitusi pupuk anorganik yang harganya semakin mahal. Kombinasi pendekatan ini dinilai dapat meningkatkan tingkat hasil kedelai tanpa mengurangi tingkat hasil komoditas utama di lahan yang sama.

Ubikayu-Kedelai

Bagian terbesar lahan kering masam yang diusahakan di Indonesia digunakan untuk tanaman ubikayu. Di Sumatera dan Kalimantan saja areal tanaman ubikayu ada sekitar 430.000 ha. Sementara luas areal tanam kedelai dalam 5 tahun terakhir berkisar 493.000 – 723.000 ha.

Di sentra produksi ubikayu dapat diterapkan pola tanam ubikayu + kacang tanah/+kedelai atau ubikayu + kedelai, masing-masing untuk lahan dengan jumlah bulan basah lebih dan kurang dari lima bulan per tahun. Penerapan pola tanam ini di Lampung mampu meningkatkan pendapatan petani dari Rp.11–13 juta rupiah menjadi Rp. 23–27 juta per hektar tanpa menurunkan hasil ubikayu.

Pada lahan dengan bulan basah (curah hujan >200 mm/bulan) lebih dari 5 bulan/tahun dapat diterapkan pola tumpangsari model lorong ubikayu baris ganda + kacang tanah /+ kedelai. Tetapi apabila jumlah bulan basahnya kurang dari 5 bulan/tahun diterapkan sistem tumpangsari ubikayu baris ganda atau baris tunggal + kedelai.

Pada sistem tanam ubikayu baris tunggal, ubikayu dapat ditanam dengan jarak tanam 125 cm antar barisan dan 60 cm antar tanaman dalam barisan (jarak tanam 125 cm x 60 cm), populasi tanaman ubikayu 13.333 tanaman/ha. Pada sistem tanam ubikayu baris ganda, ubikayu dapat ditanam dengan jarak tanam 80 cm antar barisan, 60 cm antar tanaman dalam barisan, dan 250 cm antar barisan ganda ubikayu atau (80 x 60 cm x 250 cm) dengan populasi tanaman ubikayu mencapai 9.833 tanaman/ha. Dengan demikian, populasi tanaman ubikayu pada sistem tanam baris ganda adalah 73% dari populasi pada sistem tanam baris tunggal.

Pola tanam sisipan dapat diterapkan pada perkebunan yang tanamannya masih muda selama tingkat naungan tanaman utama masih memungkinkan.

Pupuk Hayati

Pupuk hayati menambah kesuburan tanah, ragamnya banyak. Ada yang penambat N, pelarut fosfat, penghasil zat pemacu tumbuh, pengendali cekaman lingkungan dan patogen, dsb. Ada yang dalam bentuk pupuk tunggal maupun majemuk.

Hasil penelitian pada tanah masam menunjukkan bahwa pemberian pupuk hayati Iletrisoy 0,3 kg + 1.500 kg pupuk organik Santap + 50 kg KCl/ha di beberapa lokasi konsisten mampu memacu pembentukan bintil akar tanaman kedelai. Cara ini memberi hasil kedelai yang lebih tinggi dibanding dipupuk NPK rekomendasi (100 kg urea + 100 kg SP36 + 100 kg KCl/ha). Sedangkan kombinasi antara Iletrisoy + Biovam + StarTmix, Iletrisoy Plus, Probio New, Biotrico, Bio MIGE, dan Padjar SOYA mampu meningkatkan pembentukan bintil akar, indeks klorofil daun, dan kandungan hara N,P, K dalam daun kedelai di tanah dalam periode pengisian polong.

Pupuk hayati majemuk Iletrisoy + Biovam + Star Tmix, Iletrisoy Plus, Probio New, Biotrico, Bio MIGE, dan Padjar SOYA, mampu meningkatkan jumlah polong isi per tanaman dibanding yang dipupuk NPK rekomendasi.

Peneliti menyimpulkan pupuk hayati berpotensi besar dijadikan pendukung pengembangan kedelai di tanah masam. Pupuk hayati mampu mensubstitusi kebutuhan pupuk anorganik NPK lebih dari 50%, tingkat hasil tidak berbeda dengan yang dipupuk NPK rekomendasi. Dengan pengaturan pola tanam dan pengelolaan tanaman yang tepat, kedelai dapat disisipkan pada tanaman utama di lahan kering masam tanpa mengurangi hasil tanaman utamanya. Olson PS

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018