Friday, 18 June 2021


Peran Tanaman Transgenik Semakin Nyata

25 Feb 2015, 17:29 WIBEditor : Kontributor

Perdebatan internasional pro kontra tanaman bioteknologi rekayasa genetik (transgenik) komersial masih terus berkepanjangan. Kalangan ilmuwan belum sepakat mengenai prospek keamanan tanaman transgenik terhadap lingkungan untuk dikonsumsi, serta peluang dan manfaat bagi dan petani kecil.

Namun areal tanam, jumlah jenis dan sifat tanaman serta penerimaan konsumen terhadap produknya dari tahun ke tahun terus melaju secara konsisten. Laporan tahunan terbaru (2014) ISAAA (International Service for the Acquisition of Agri-Biotech Application) menyebutkan areal tanam global tanaman transgenik komersial tahun 2014 telah mencapai 181,5 juta ha, atau naik lebih dari 100 kali lipat dibanding 1,7 juta ha ketika dimulai tahun 1996.

Jumlah negara yang melakukan penanaman komersial memang bertambah dengan lambat, tercatat masih 28 negara. Namun ke-28 negara itu dihuni oleh 60% penduduk bumi karena di sana tergabung Tiongkok, India, Amerika Serikat, Brasil, Pakistan, Bangladesh dan seterusnya. Amerika Serikat masih tetap pemilik areal terluas (73,1 juta ha), disusul Brasil 42,2 juta ha, Argentina 24,3 juta ha, India 11,6 juta ha, Kanada 11,6 juta ha, dan seterusnya. Di antara negara ASEAN tercatat dua negara ikut bergabung yakni Pilipina (0,8 juta ha jagung) dan Myanmar (0,3 juta ha kapas).

Jumlah jenis tanaman transgenik untuk pangan, pakan dan serat sudah lebih dari 10 macam. Yang utama adalah jagung, kedelai, dan kapas, lainnya termasuk tanaman minyak canola, buah dan sayuran pepaya, tomat, cabai merah, gula bit, terung, squash, serta tanaman pakan alfalfa. Di antara yang terbaru memperoleh persetujuan pemerintah adalah kentang InnateTM di Amerika Serikat, terung Bt di Bangladesh, dan tebu transgenik di Indonesia.

Di beberapa negara tingkat adopsi tanaman transgenik komersial tertentu dibanding keseluruhan areal tanaman yang sama sudah sangat tinggi bahkan mendekati 100%. Di Amerika Serikat tingkat adopsi kedelai transgenik sudah 94% dari seluruh areal tanam kedelai di negeri itu. Sedangkan tingkat adopsi jagung sudah 93%. Di India sudah mencapai 95% untuk kapas, Tiongkok 93% untuk kapas, Kanada 95% untuk kanola, Australia 99% untuk kapas, Spanyol 31,6% untuk jagung, dst.

Klaim Manfaat

Kalangan yang kontra menolak atau meragukan keamanan dan manfaat tanaman transgenik dan produknya untuk dikonsumsi dan terhadap lingkungan. Mereka menilai posisi tawar menawar petani kecil lemah karea ketergantungan benih pada perusahaan-perusahaan bioteknologi.

Di pihak lain, para pendukung agrobiotek mengklaim manfaat multiguna tanaman transgenik untuk mendukung ketahanan pangan, keamanan pangan, pengurangan aplikasi kimia pertanian, dan pemeliharaan lingkungan. Laporan ISAAA 2014 mengemukakan juga hasil satu studi yang dilakukan oleh dua ilmuwan Jerman, Klumper dan Qaim (2014) yang mengkonfirmasi manfaat ganda dan signifikan tanaman bioteknologi.

Studi tersebut berupa metaanalisis terhadap 147 publikasi hasil studi tanaman biotek yang dilakukan dalam kurun waktu 20 tahun terakhir di berbagai penjuru dunia. Hasil analisis itu memberi kesimpulan bahwa secara rerata, adopsi teknologi tanaman rekayasa genetik telah mengurangi penggunaan pestisida sebesar 37% dan meningkatkan hasil tanaman 22% sehingga keuntungan petani naik 68%. Pengurangan pestisida lebih besar pada tanaman transgenik yang resisten serangga dibanding yang toleran herbisida. Disimpulkan pula bahwa perolehan hasil dan keuntungan lebih besar bagi petani negara berkembang dibanding di negara maju. Temuan Klumper dan Qaim itu membenarkan beberapa hasil studi sebelumnya termasuk studi yang dilakukan oleh ekonom Inggeris, Brookers dan Barfoot dari PG Economics sebagaimana dikemukakan dalam laporan-laporan tahunan ISAAA sebelumnya.

Laporan ISAAA 2014 itu menekankan tanaman rekayasa genetik telah memberi sumbangan berarti bagi ketahanan pangan, pertanian berkelanjutan dan upaya mengatasi perubahan iklim serta mengurangi kemiskinan petani kecil. Data Brookers and Barfoot menunjukkan bahwa dalam periode 1996-2013, tanaman transgenik telah meningkatkan produksi tanaman senilai US$ 133 miliar. Penghematan bahan aktif pestisida mencapai 500 juta kg. Dalam tahun 2013 saja, pengurangan emisi gas rumahkaca CO2 mencapai 28 miliar kg atau setara dengan emisi 12,4 juta mobil di jalanan selama satu tahun. Selain itu tanaman transgenik telah meringankan kemiskinan 16,5 juta keluarga petani kecil yang mencakup 65 juta orang di berbagai negara.

Prospek

Selain untuk mendukung ketahahan pangan, pertanian berkelanjutan dan mitigasi perubahan iklim, ISAAA menilai tanaman biotek dapat memberi sumbangan berarti dalam penghematan lahan dan pelestarian keragaman hayati.

Areal tanam, tingkat adopsi serta pasar diperkirakan akan terus meningkat. Sementara itu untuk 5–10 tahun mendatang, saat ini sudah tersedia 71 produk biotek potensial untuk dilepas setelah memperoleh persetujuan pihak berwenang. Semuanya dipersiapkan dengan lebih mementingkan kebutuhan pangan, pakan dan serat di negara-negara berkembang.

Seperempat dari 71 produk tersebut adalah tanaman “baru” yang diarahkan untuk membangun ketahahan pangan kaum miskin, di antaranya apel, pisang, ubikayu, kacang ayam, cowpea, kacang tanah, mustar, kacang gude, kentang, padi, saffflower, tebu, kamelia, dan gandum. Sifat yang ditanamkan pada produk-produk tersebut beragam, tunggal atau menumpuk (stacked), meliputi toleran kekeringan, toleran salinitas, peningkatan hasil, penggunaan efisien nitrogen, peningkatan mutu nutrisi, resistensi terhadap hama dan penyakit ataupun virus.

Sekitar separuh dari produk itu menampilkan teknologi yang dikembangkan lembaga sektor publik atau hasil kerjasama sektor publik-swasta yang sedang dikembangkan di negara-negara berkembang. Olson PS

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018