Saturday, 22 February 2020


Varietas Ampibi Cabai dan Bawang Tahan Hujan

22 Mar 2016, 19:30 WIBEditor : Julianto

Cabai dan bawang merah menjadi dua dari tujuh komoditi yang masuk dalam penanganan khusus pemerintah untuk bisa mencapai swasembada. Apalagi dua komoditi hortikultura tersebut juga mudah bergejolak saat pasokan berkurang hingga menjadi pemicu inflasi.

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Kementerian Pertanian, M. Syakir, fluktuasi harga cabai dan bawang merah terjadi karena dua hal. Pertama, karakter biologis bawang merah dan cabai merah yang mudah rusak (perishable). Kedua,  karakter ekologi di Indonesia yang dua musim (musin hujan dan musim kemarau). Saat musim hujan menjadi kendala produksi sayuran, termasuk kedua komoditas tersebut.

Untuk mengatasi persoalan pasokan saat berkurangnya tanam pada musim hujan, sehingga tidak terjadi fluktuasi harga, Syakir mengatakan, perlu melalui dua pendekatan. Pertama, pendekatan teknis yakni penanganan on farm untuk mencukupi produksi. Kedua, non teknis untuk penataan aktifitas panen, distribusi produksi, pemasaran dan kebijakan.

Pendekatan teknis melalui penyediaan varietas unggul dan teknologi budidaya yang sesuai untuk situasi off season.

“Kita sudah melepas varietas yang bisa tumbuh optimal pada musim hujan atau dikenal dengan varietas berkarakter ampibi. Jadi bisa tumbuh baik di musim kemarau dan hujan. Bahkan beberapa varietas memiliki karekter bisa memproduksi baik saat musim hujan,” tutur Syakir.

Beberapa varietas unggul bawang merah yang tersedia antara lain Sembrani yang adaptif terhadap musim hujan, umbi besar, adaptif di lahan kering atau tadah hujan, dan potensi hasil mencapai 24,4 ton/ha. Varietas lainnya adalah Maja yang adaptif di dataran tinggi dan Trisula yang umbinya berwarna merah keunguan mencolok dan adaptif terhadap musim hujan.

Sedangkan varietas unggul cabai antara lain Kencana dengan potensi produksi mencapai 22,9 ton/ha, adaptif di dataran medium, dataran tinggi dan musim kemarau basah. Selain itu varietas Ciko dengan potensi produksi mencapai 20,5 ton/ha dan adaptif di dataran medium.

Varietas cabai lainnya rawit Prima Agrihorti dengan potensi produksi mencapai 20,25 ton/ha, pedas dan adaptif di dataran tinggi. Cabai rawit Rabani Agrihorti dengan potensi produksi mencapai 13,14 ton/ha dan adaptif di dataran tinggi.

 

Pendekatan lain

Syakir mengatakan, pendekatan lain yang harus dilakukan untuk bisa mencapai swasembada bawang merah dan cabai yaitu penyediaan benih berkualitas dalam jumlah yang diperlukan. Untuk itu sudah tersedia teknologi benih TSS (true shallot seed) bawang merah dan teknologi benih bebas penyakit pada tanaman cabai.

“Kami juga menyediakan penyediaan teknologi budidaya off season, penanganan panen yang tepat sehingga mengurangi kehilangan hasil dan menjaga kualitas produksi,” katanya.

Badan Litbang Pertanian juga menyiapkan cara penanganan pasca panen ketika produksi berlimpah untuk mendukung pasokan saat off season. Caranya dengan memakai instore drying yang dapat memperpanjang masa simpan bawang merah hingga 6 bulan.

Sedangkan pendekatan non teknis, kata Syakir, yakni menata distribusi sentra produksi, distribusi hasil antar wilayah, pembenahan supply chain, serta menerbitkan regulasi untuk menjamin kecukupan dan distribusi produksi secara permanen.

Karena Indonesia memiliki ragam ekosistem, Balitbangtan juga mengeluarkan peta penyebaran di luar sentra produksi yang ada. Bahkan sudah direkomendasikan Sulawesi dan Sumatera Selatan dan Sumatera Barat sebagai sentra produksi bawang merah dan cabai. “Kita harapkan propinsi-propinsi tersebut bisa berkontribusi sepanjang tahun sehingga bisa menekan kekurangan pasokan pada saat-saat tertentu,” kata Syakir. Yul

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018