Saturday, 22 February 2020


Teknologi Genom Mengurangi Resiko Gagalnya Bibit Kelapa Sawit

07 Apr 2016, 13:14 WIBEditor : Clara Agustin

 

“Resiko bibit gagal atau jelek mencapai 30% dalam setiap pertanaman kelapa sawit (peremajaan) dan baru akan diketahui setelah 4-5 tahun. Dengan teknologi genom, resiko bibit gagal atau jelek berkurang hingga hanya sekitar 0,5%,” kata Direktur Utama Badan Pengeleola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Bayu Krisnamurthi saat acara Seminar Pemanfaatan Peta Genom dalam Peremajaan Sawit pada hari Selasa (5/4).

 

Pada Perkebunan sawit rakyat, produktivitas mencapai 2-3 ton CPO (minyak sawit) per ha per tahun. Sedangkan pada perusahaan swasta telah mencapai 5-7 ton CPO per ha per tahun.  

Dengan ‘peta genom lengkap’, dapat diketahui bibit tersebut gagal/jelek dalam waktu dini. Sehingga dapat segera diganti dengan bibit yang lebih produktif. “Peta genom ini saya rasa bisa mengidentifikasi secara menyeluruh dan ini merupakan sebuah revolusi dalam teknologi karena kegiatan peremajaan saat ini cukup banyak yang mendapatkan kerugian karena kesalahan identifikasi bibit,” paparnya.

Sebagai sumber devisa negara terbesar dari sektor pertanian, pengembangan kelapa sawit harus semakin digencarkan, yakni dengan peningkatan produksi dan produktivitas. Cara yang konvensional, membutuhkan waktu yang cukup lama, yaitu hingga bertahun-tahun. Makanya mengatasi masalah melalui penelitian di bidang pemuliaan tanaman dan rekayasa genetika (Teknologi Genom), menjadi solusi jitu. Penyaringan genom (Genom Screening) dan Pemetaan (Genom Mapping) di bidang teknologi deteksi akurasi kemurnian bahan tanam genetik tanaman kelapa sawit untuk benih unggul sungguh menarik untuk diterapkan di Indonesia.

Selain itu, Teknologi Genom dapat mengatasi masalah-masalah yang terkait lingkungan, yaitu pemanfaatan lahan yang dianggap merusak hutan. Dalam hal ini melestarikan hutan. “Dengan memanfaatkan Teknologi Genom dapat diuapaykan pengembangan kelapa sawit pada lahan terbatas dan kesuburan tanah rendah (degraded land), namun dapat menghasilkan produktivitas tinggi sehingga mengurangi penggunaan kawasan hutan,” kata Sekretaris Direktorat Jenderal Perkebunan, Irmidjati R Nurbahar.

Dengan memetakan genetik tanaman kelapa sawit tersebut melalui Peta genom, kita berharap bisa memperoleh benih/bahan tanam kelapa sawit yang unggul dengan spesifik cirri-ciri, yaitu: misalnya bahan tanam kelapa sawit yang tahan terhadap kekeringan, tahan terhadap penyakit, bahkan yang mempunyai produktivitas tinggi dan lain-lainnya, yang mempunyai keunggulan dibandingkan bahan tanam kelapa sawit lainnya. “Tidak hanya itu, Teknologi Genom dapat membuka banyak terobosan bagi kemandirian pangan serta produksi bioenergi (biodiesel, biofiul, bioetanol),” ujar Irmi. Cla

 

 

 

Editor : Ahmad Soim

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018