Thursday, 02 April 2020


Minyak Atsiri Ganti Promoter Antibiotik pada Unggas

11 Apr 2016, 18:21 WIBEditor : Kontributor

Setelah sekitar setengah abad berjaya sebagai pendorong pertumbuhan (growth promoter) pada hewan ternak, dominasi antibiotik kelihatannya akan usai. Sudah semakin banyak ditemukan alternatif potensial sebagai promoter pertumbuhan hewan ternak, di antaranya termasuk minyak atsiri.

Penggunaan antibiotik dosis rendah (subtherapeutic dose) sebagai promoter pertumbuhan pada hewan ternak dimulai di Amerika Serikat tahun 1950. Sebagai bahan tambahan dalam pakan, antibiotik dapat menaikkan tingkat pertumbuhan dan efisiensi pakan pada hewan ternak. Klaim tentang manfaatnya termasuk peningkatan kualitas daging, yakni kadar lemak lebih rendah dan kadar protein yang lebih tinggi. Juga pengendalian terhadap patogen Salmonella, Compylobakter, Escherichia coli dan lainnya yang juga patogen bagi manusia.

Reaksi kontroversial kemudian bermunculan di mancanegara tentang dampak negatif penggunaan antibiotik, yakni karena residu antibiotik pada produk ternak pangan dan menimbulkan resistensi pada mikroba patogen pada ternak yang juga patogen bagi manusia. Apalagi oleh penggunaan berlebihan antibiotik dalam suatu jangka waktu tertentu. Ini bisa mengancam kesehatan manusia dan menjadikan antibiotik tidak lagi mempan sebagai obat untuk hewan maupun manusia. Oleh sebab itu, penggunaan antibiotik sebagai promoter pertumbuhan harus dibatasi atau dihentikan, diganti dengan bahan-bahan lain.

Di antara pelopor pembatasan bahkan penghentian antibiotik sebagai promoter pertumbuhan adalah negara-negara Eropa. Dimulai dengan pelarangan penggunaan avoparcin oleh Swedia (1986), beberapa negara lainnya menyusul dan tahun 1997 Uni Eropa secara resmi melarangnya. Selanjutnya hingga Januari 2006, Uni Eropa sudah melarang penggunaan spiramycin, tylosin, virginyamycin, Zn-bacitracin, carbadox, olaquindox, flavophopholipol, avilamycin, salinomycin-Na dan monensin-Na.

Alternatif Bermunculan

Ada banyak jenis bahan promoter pertumbuhan hewan ternak yang sudah dan sedang dikembangkan sebagai pengganti antibiotik. Bahan-bahan yang bersifat alami dan tidak menimbulkan masalah resistensi bakteri patogen maupun residu berbahaya meliputi asam-asam organik, probiotik, prebiotik, sinbiotik, fitogenik, enzim, perangsang kekebalan dan lainnya.

Satu artikel karya Dr. Jiri Broz dan Dr. Christophe Paulus dalam PoultrySite edisi September 2015 mengungkap kinerja dan potensi beberapa bahan untuk dijadikan pengganti antibiotik sebagai promoter pertumbuhan hewan. Dijelaskan, tidak lagi diragukan bahwa kemanjuran promoter pertumbuhan terutama didasarkan pada efek antimikroba dan kemampuan bahan mempengaruhi dan mengubah komposisi dan konsentrasi keseluruhan mikroflora usus. Dapat dipahami adanya kemampuan sejumlah bahan tambahan pakan tradisional sebagai promoter pertumbuhan hewan, seperti asam organik, probiotik, prebiotik, senyawa minyak atsiri, dan senyawa-senyawa Zn (seng) dan Cu (tembaga).

Belakangan ini beberapa di antara bahan tersebut digambarkan dengan istilah ‘eubiotics’ yang berasal dari kata bahasa Yunani ‘eubiosis’ yang menunjuk pada keseimbangan optimal mikroflora dalam saluran gastrointenstinal.

Dalam literatur, hipotesis cara kerja dan manfaat asam organik sebagai bahan tambahan pakan meliputi perbaikan palatabilitas dan menurunkan pH pakan, bersifat antimikroba dan pengawet pakan, mengurangi pH usus dan meningkatkan aktivitas pepsin, mempengaruhi mikroflora saluran pencernaan dan menurunkan coliform dan diare, serta meningkatkan daya cerna nutrisi. Uni Eropa sudah mengizinkan penggunaan asam fumarik, asam sitrat, asam formiat, asam laktat, asam benzoat, dan sejumlah senyawa garam sebagai pengawet maupun sebagai promoter pertumbuhan ternak.

Probiotik berupa mikroorganisme sudah digunakan di Uni Eropa dan Amerika Serikat sebagai promoter pertumbuhan hewan monogastrik (termasuk unggas). Dugaan cara kerjanya antara lain mencegah menempelnya bakteri patogen pada reseptor epitel usus, menghimpun bakteri patogen, meningkatkan sintesis asam laktat, menghasilkan bahan antibakteri, menurunkan produksi amino toksik dalam saluran pencernaan, serta meningkatkan pertahanan usus terhadap infeksi virus.

Prebiotik dikembangkan sejak 1995 dengan konsep pemberian oligosakarida yang tak tercernakan untuk mengendalikan atau memanipulasi komposisi mikroba dan atau aktivitasnya sehingga mikroflora yang menguntungkan tidak terganggu. Masih dalam tingkat pengembangan termasuk untuk unggas, hasilnya di lapangan belum konsisten.

Minyak Atsiri Solusi Kunci

Artikel tersebut menyebutkan pula bahwa senyawa minyak atsiri menunjukkan potensi menggantikan antibiotik sebagai promoter pertumbuhan hewan, termasuk unggas. Sifat antibakterinya mampu mengubah komposisi mikroflora usus. Pada unggas, sejumlah periset melaporkan formulasi khusus minyak atsiri menimbulkan modifikasi menyeluruh mikroflora, reduksi jumlah Clostridium perfringens dan E. Coli dalam usus, serta peningkatan produksi enzym pencernaan. Banyak di antara keberhasilan tersebut diperoleh dari kombinasi minyak atsiri dengan bahan lain termasuk asam benzoat.

Sementara itu riset yang dlakukan oleh satu produsen pakan terkemuka, Cargill sejak 2009 telah sampai pada kesimpulan bahwa minyak atsiri merupakan solusi kunci untuk pengganti antibiotik sebagai promoter pertumbuhan ternak unggas. Dasarnya adalah penggunaan minyak atsiri memiliki dampak terhadap ke-empat fungsi utama usus, yakni aktivitas antimikroba, pengaturan (modulasi) respon kekebalan, aktivitas antioksidan, perbaikan daya cerna nutrisi, dan rangsangan terhadap produksi lendir (mucus). Riset dilakukan oleh Pusat-pusat Inovasi Nutrisi Hewan Cargill di Amerika Serikat, Belanda, Perancis, Polandia, Jordania dan India.

Selain itu, hanya minyak atsiri yang memiliki aktivitas spektrum luas terhadap patogen sekaligus juga memiliki dampak langsung terhadap fungsi pencernaan. Minyak atsiri juga terbukti efisien dalam kondisi usus terinfeksi oleh bakteri seperti pada Salmonellosis dan Coccidiosis. Minyak atsiri terbukti dapat menjadi pengganti yang ampuh bagi antibiotik karena lebih dari 85% hasil sebagai promoter pertumbuhan menunjukkan perbedaan minim antara penggunaan antibiotik dan minyak atsiri.

Hasil riset Cargill menunjukkan bahwa senyawa-senyawa pilihan minyak atsiri, khususnya yang berasal dari thyme, oregano dan kayu manis memiliki efek yang paling komprehensif terhadap kesehatan keseluruhan saluran pencernaan. Mereka juga menemukan bahwa kemanjuran maksimal dapat diperoleh melalui penggunaan kombinasi minyak atsiri dengan asam-asam organik. Olson PS

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018