Jumat, 13 Desember 2019


Tips Kendalikan Ulat Grayak pada Bawang Merah

14 Apr 2016, 00:00 WIBEditor : Tiara Dianing Tyas

Serangan ulat grayak pada tanaman bawang membuat petani resah. Bahkan saat Presiden RI Jokowi bertemu dengan petani bawang merah di Kecamatan Larangan Brebes, petani sempat mengadukan kegelisahan mereka.

Apa yang menyebabkan tanaman bawang petani terserang hama tersebut? Dari hasil kajian Badan Penelitian Pengembangan Pertanian (Balitbangtan) Kementerian Pertanian, ternyata kebiasaan petani bawang merah di Brebes yang kerap menyemprotkan pestisida membuat hama ulat grayak tersebut kebal terhadap pengendali hama.

Ulat bawang (Spodoptera exiguaL.) atau petani kerap menyebut dengan ulat grayak ini merupakan ngengat dengan sayap depan berwarna kelabu gelap dan sayap belakang berwarna agak putih. Imago (ulat dewasa) betina biasanya meletakkan telur secara berkelompok pada ujung daun. Satu kelompok biasanya berkisar 50–150 butir.

Seekor betina mampu menghasilkan telur rata-rata 1.000 butir. Telur dilapisi bulu-bulu putih yang berasal dari sisik tubuh induknya. Telur berwarna putih, berbentuk bulat atau bulat telur (lonjong) berukuran 0,5 mm. Telur menetas dalam waktu 3 hari. Larva S.exigua berukuran panjang 2,5 cm dengan warna yang bervariasi. Ketika masih muda, larva berwarna hijau muda. Jika sudah tua berwarna hijau kecoklatan gelap dengan garis kekuningan-kuningan.

Banyak Cara

Teknologi pengendalian hama ulat grayak yang sering menyerang tanaman bawang merah sudah banyak diteliti. Misalnya dengan pemasangan lampu perangkap (light trap). Petani di wilayah Cirebon dan Brebes sudah banyak melaksanakannya.

Di samping itu juga dapat menggunakan Feromon Exi yang dapat diaplikasikan pada area pertanaman setiap hektar, dibutuhkan 12-24 perangkap. Setiap perangkap diisi dengan air sabun. Feromon Exi ini dipasang mulai saat tanam dan dapat tahan sampai dua bulan atau satu musim tanam.

Dapat juga menggunakan sungkup kain kasa. Cara ini dapat menekan populasi telur dan larva serta intensitas kerusakan tanaman yang secara tidak langsung juga mampu meningkatkan jumlah anakan, tinggi tanaman, jumlah daun, dan jumlah umbi bawang merah. Kelambu kasa plastik tahan sampai 6–8 musim tanam. Di daerah Probolinggo sudah banyak diterapkan petani.

Pengendalian secara manual dengan cara mengumpulkan telur-telur S.exigua dari daun bawang yang terserang kemudian dibuang atau dibenamkan ke dalam tanah. Pengendalian dengan menggunakan insektisida botani yang berasal dari ekstrak akar tuba dan ekstrak ketapang dapat digunakan untuk mengendalikan hama S.exigua dengan dosis 2-4cc/liter air.

Pengendalian dengan pestisida harus dilakukan dengan benar. Yakni, pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval maupun waktu aplikasinya dan per giliran tanaman dengan tanaman yang bukan inang S.exigu. 

Ke depan untuk mengurangi serangan ulat grayak ada beberapa hal yang perlu dilakukan. Pertama, pengaturan peredaran pestisida oleh Pemda, termasuk di dalamnya rotasi peredaran pestisida. Kedua, memberikan pengajaran kepada petani tentang cara bijak pemanfaatan pestisida. Hal ini penting karena petani Brebes masih sangat sulit untuk dipisahkan dari pestisida. Ketiga, perlu dikenalkan teknologi pengendalian yang lain dalam koridor Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Tia

 

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018