Saturday, 22 February 2020


Bram Brahmantiyo: Mengemas Kearifan Lokal Jadi Modern

02 May 2016, 11:15 WIBEditor : Kontributor

Ada sebuah kearifan lokal di Kota Tidore, Maluku Utara yang telah berkembang sejak nenek moyang. Namanya ‘Sagu Kasbi’, mungkin kedengaran agak asing, tapi setelah kita lihat di daerah asalnya, ternyata nama itu  adalah sebuah sebutan untuk jenis makanan tradisional yang  diolah dari singkong. Pangan rakyat ini mulanya adalah makanan pokok masyarakat di zaman ‘doeloe’, namun sekarang menjadi makanan pelengkap saja.

Kepala BPTP Maluku Utara, Bram Brahmantiyo yang baru dua bulan menjabat di sana menjelaskan, banyak kearifan lokal yang berkembang di masyarakat Maluku Utara, salah satunya adalah sagu kasbi. “Setelah melihat cara pembuatan dan hasil olahan singkong ini, saya yakin jenis pangan lokal ini bisa dikembangkan dengan inovasi menjadi produk modern dengan nilai jual yang tinggi”.

BPTP Maluku Utara, melalui para penelitinya sudah lama mengembangkan pangan rakyat ini dan alhamdulillah sekarang telah berkembang menjadi pangan pendamping beras yang utama.

“Coba bayangkan, jika nelayan pergi mencari ikan, mereka pasti membawa sagu kasbi, karena makanan ini gampang sekali dikonsumsi dan awet. Kalau dibandingkan dengan membawa beras yang harus dimasak dulu, kasbi lebih praktis, tinggal celupkan ke dalam kopi atau teh, makanan ini siap dimakan dan memberikan rasa kenyang,” ujarnya menambahkan.

Kota Tidore Kepulauan merupakan salah satu wilayah Maluku Utara yang memiliki lahan potensial seluas 179.663 ha,yang sudah dimanfaatkan untuk perkebunan rakyat dan lain-lain sebesar 83.796 ha.  Hal ini berarti masih ada lahan potensial yang masih belum dimanfaatkan sebesar 95.867 ha.  Sektor pertanian merupakan sektor yang menjadi penggerak perekonomian wilayah Kota Tidore Kepulauan. 

Untuk tanaman pangan didominasi oleh tanaman ubi kayu. Komoditas ubi kayu banyak diusahakan di Kota Tidore Utara Kepulauan pada lahan kering dengan tingkat kesuburan tanah yang masih rendah, dan diproduksi sebagai bahan pangan mensubstitusi beras.  Secara umum ubi kayu dibudidayakan secara tradisional dan subsistem.

Ubi kayu ini dikembangkan sebagai penunjang ketahanan pangan, dalam rangka mengurangi tingkat konsumsi beras karena ubi kayu dapat menjadi bahan pangan alternatif penghasil karbohidrat. Selain sangat adaptif pada berbagai kondisi tanah dan iklim. Di Maluku Utara ubi kayu diolah menjadi berbagai produk makanan, salah satu yang sangat terkenal adalah sagu kasbi.

Usaha penganekaragaman pangan ini sangat penting artinya untuk mengatasi masalah ketergantungan pada satu bahan pangan pokok saja.Misalnya dengan mengolah ubi kayu menjadi berbagai bentuk awetan yang mempunyai rasa khas dan daya simpan yang lama. Salah satu bentuk olahan ubi kayu adalah “sagu kasbi” (sagu ubi kayu).

Peran BPTP

Melihat begitu banyak kearifan lokal ini, Bram menjelaskan, selain menjalankan tugas dan fungsi pokok yang diemban oleh BPTP dari Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, BPTP Maluku Utara juga akan berupaya menggali dan mengembangkan berbagai inovasi untuk menunjang keanekaragaman pangan yang berkembang di masyarakat.

Untuk mewujudkan itu, dia yakin koordinasi dengan pemerintah daerah adalah kunci keberhasilannya, sehingga tahap awal di kepemimpinannya ini, dia akan mencoba meningkatkan hubungan dengan pemerintah daerah. Lis

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018