Saturday, 22 February 2020


Mengenal Sagu Kasbi Lebih Dekat

02 May 2016, 11:35 WIBEditor : Kontributor

Saat ini cara memakan sagu kasbi jauh lebih praktis dibandingkan dengan pangan utama lainnya. Ambil selempeng kasbi celupkan ke dalam teh atau kopi, lalu dimakan. Kebiasaan ini mungkin sama ketika kita memakan biskuit yang dicelupkan ke dalam minuman. Kasbi akan segera terasa lembut di mulut, renyah dan mengenyangkan.

Itu sebagian cerita begitu menariknya sagu kasbi ini jika dijadikan pangan utama pendamping beras. Menariknya lagi, sagu kasbi yang telah berinovasi ini rendah gula, sehingga sangat cocok untuk penderita diabetes. Nah, untuk mengenal lebih dekat, para peneliti di BPTP Maluku Utara berbagi  cerita.

Kasbi dalam bahasa lokal berarti ubi kayu, sedangkan sagu kasbi adalah ubi kayu yang diolah menyerupai sagu lempeng sebagai makanan pokok di beberapa daerah di Kota Tidore Kepulauan dan Maluku Utara pada umumnya. Ubi kayu di daerah ini tidak dijual secara gelondongan/mentah tetapi diolah dulu dalam bentuk sagu. ‘Sagu kasbi’  yang diolah dari bahan baku ubi kayu.  ‘Sagu kasbi’ dibuat dengan cara mencetak tepung kasbi dalam cetakan berbentuk persegi, kemudian memanggangnya dalam forna/cetakan sagu.

Ketersediaan lahan yang mayoritas lahan kering, menyebabkan Maluku Utara merupakan daerah yang rawan pangan jika hanya menggantungkan pangan pokok pada beras. Tetapi dengan adanya sagu kasbi, Tidore Kepulauan dikategorikan daerah yang bisa swasembada pangan.

Sagu kasbi sangat cocok sebagai bahan pangan di musim paceklik karena memiliki daya tahan yang lama, yaitu 1-2 tahun, apabila disimpan dalam kondisi yang baik dan kering. Pada umumnya masyarakat Maluku Utara biasanya mengkonsumsi sagu kasbi sebagai pengganti nasi  dengan cara dicelupkan ke dalam kuah sayur dari makanan hingga lembek lalu dikonsumsi bersama lauk pauk ikan dan sayur. Selain itu ‘sagu kasbi’ juga dikonsumsi pada saat sarapan pagi dengan dicelupkan dalam minuman teh dan kopi.

Kasbi Berinovasi

Usaha produksi sagu kasbi ini masih dilakukan secara tradisional sehingga mutunya masih rendah, subsisten dan pemasarannya masih lokal. Karena memang segmentasi produksi sagu kasbi khusus untuk pengganti beras. Meskipun demikian masih ada peluang untuk melakukan perbaikan teknologi sehingga sagu kasbi dapat diterima oleh konsumen sesuai dengan seleranya.

Sagu kasbi ini dibuat oleh hampir semua rumah tangga di kelurahan ini baik untuk konsumsi sendiri maupun untuk dijual ke pasar mingguan di kecamatan Kota Tidore Utara atau bahkan ada pembeli yang menjual kembali di Pasar Kota Ternate. Sagu kasbi yang berasal dari Kelurahan Jaya ini sudah terkenal bahkan sampai ke provinsi lain seperti Papua, Maluku dan Sulawesi.

Kesan inferior dalam mengkonsumsi sagu kasbi di Kota Tidore Kepulauan belum ada, bahkan dengan penganekaragaman pangan mampu menunjang ekonomi keluarga. Pemerintah harusnya memberikan apresiasi dan penghargaan kepada daerah yang tidak tergantung pada produksi padi atau beras. Bukan malah sebaliknya daerah yang mengkonsumsi pangan non beras dikategorikan daerah yang rawan pangan. Karena masyarakat Maluku Utara sejak jaman dahulu sudah terbiasa mengkonsumsi sagu, tetapi berhubung populasi sagu semakin lama semakin menyusut maka pengembangan pangan yang menyerupai sagu lempeng patut diberikan apresiasi.

Sejak delapan tahun  lalu, BPTP Maluku Utara berupaya memodernkan sagu kasbi tersebut. Modernisasi sagu kasbi ini ternyata berhasil, sekarang masyarakat sudah mampu membuat sagu kasbi yang bermutu tinggi dengan aneka rasa.

Sebagian besar wanita tani (75%) Kelurahan Jaya berprofesi sebagai pembuat sagu kasbi. Produksi sagu kasbi dilakukan 3 kali tiap minggu dengan kapasitas produksi sebelum introduksi teknologi sagu kasbi aneka rasa (coklat, strawberry, jeruk, mangga, dan original) rata-rata 300 - 1000 lempeng, dengan harga  Rp 500/lempeng.

Dari hasil pengkajian yang dilakukan oleh BPTP Maluku Utara, produk sagu kasbi yang disukai adalah yang diberi rasa coklat dan strawberry sedangkan untuk tekstur yang paling disukai adalah sagu kasbi rasa coklat. Untuk ukuran potongan bentuk stik dan persegi empat yang disukai.

Sedangkan keunggulan dari produk sagu kasbi aneka rasa ini dari aspek kandungan gizi adalah pada kandungan protein yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang original (tanpa rasa tambahan) karena difortifikasi dengan susu bubuk instan.

Menambah Pendapatan

Dari hasil analisis ekonomi usaha pengolahan sagu kasbi di Kota Tidore Kepulauan, dapat diketahui bahwa usaha ini layak untuk diusahakan. Biaya investasi yang dibutuhkan sebesar Rp 6.655.000. Nilai net B/C sebesar 0,34.  Dengan nilai tersebut dapat diketahui bahwa usaha sagu kasbi layak untuk diusahakan (lebih dari 0).

Nilai return of investment (ROI) sebesar 34,07% artinya dengan biaya seratus rupiah akan mendapatkan keuntungan sebesar Rp 34,07. Selain itu dari indikator NPV maupun IRR juga menunjukkan pengolahan sagu kasbi layak diusahakan dengan nilai NPV Rp 4.429.395 dan IRR sebesar 27% di atas bunga bank 22%.

Pada usaha sagu kasbi ini sensitivitas dihitung dengan asumsi ada penurunan volume penjualan sebesar 5%  tanpa mengalami kenaikan harga. Selain itu juga ada asumsi kenaikan harga bahan baku sebesar 10% yang biasa terjadi pada saat panen sangat kurang atau pada saat hari-hari besar keagamaan.

Dari hasil perhitungan nilai kepekaan dapat diketahui bahwa usaha pengolahan sagu kasbi sangat rentan/sensitif terhadap perubahan harga bahan baku maupun penurunan volume penjualan.

Sebaran

Pada saat ini produk sagu kasbi aneka rasa telah menyebar hampir di semua daerah sentra produksi sagu kasbi di antaranya Pulau Hiri, Ternate, Halmahera Selatan dan Halmahera Utara. Sedangkan dari aspek perkembangan dan penyebaran inovasi, Kelurahan Jaya telah menjadi pusat pelatihan yang tumbuh dengan sendirinya seperti telah banyak kelompok tani dan bahkan mahasiswa yang datang belajar proses pengolahan sagu kasbi ke kelurahan ini.

Dampak positif dari terkenalnya Kelurahan Jaya, Kota Tidore menyebabkan terus bertambahnya permintaan produk sagu kasbi aneka rasa sehingga produsen harus bekerjasama dengan petani ubikayu di Halmahera Barat untuk mencukupi kebutuhan bahan bakunya. Pada saat ini kelompok wanita tani produsen sagu kasbi telah berkembang dengan memproduksi aneka kue berbahan dasar ubi kayu dengan produk andalan brownies kasbi.

Muhammad Assagaf, C. Sugihono, Y. Saleh, A. Notosusanto

Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Maluku Utara

Jl. Komplek Pertanian Kusu No.1 Sofifi-Kota Tidore Kepulauan;

Korespondensi: bptp.malut@yahoo.com

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018