Saturday, 22 February 2020


Pertanian Kecil Penopang Utama Ketahanan Pangan

16 May 2016, 11:58 WIBEditor : Kontributor

Di antara sukses mengesankan pencapaian sasaran Tujuan Pembangunan Milenium (Millenium Development Goals/MDGs) adalah keberhasilan mengurangi separoh kemiskinan, kelaparan dan kematian anak yang parah secara global. Namun, di balik keberhasilan agenda pembangunan dengan MDGs, International Food Policy Research Institute (IFPRI) melihat masih ada sejumlah tantangan yang sangat besar.

Agenda pembangunan dengan MDGs yang berlangsung tahun 1990-2015 itu kini diganti dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). SDGs yang disahkan Sidang Umum PBB 15 September 2015 untuk agenda pembangunan global 15 tahun ke depan. SDGs terdiri dari 17 tujuan dengan 169 sasaran. Di antara tujuan inti adalah penghapusan kemiskinan, kelaparan, malnutrisi yang parah serta melestarikan planet bumi.

Sementara itu, International Food Policy Research Institute (IFPRI) baru saja (31 Maret 2016) meluncurkan “2016 Global Food Policy Report” (Laporan Kebijakan Pangan Global 2016) yang berisi tinjauan mendalam terhadap perkembangan kebijakan pangan utama dan kejadian-kejadian di tahun 2015, serta eksaminasi terhadap tantangan utama dan peluang di tahun mendatang. Topik-topik yang dibahas dalam laporan itu termasuk perubahan iklim dan petani kecil, diet berkelanjutan, kehilangan dan limbah pangan, serta manajemen air dan lainnya.

Petani kecil, menurut laporan tersebut, memainkan peran unik dalam agenda pembangunan global yang baru dan dapat memberi sumbangan sangat berarti untuk pencapaian beberapa SDGs. Bila tepadu dengan ekonomi pedesaan yang beraneka ragam dan rantai nilai pangan pertanian, pertanian skala kecil dapat menyumbang pada pertumbuhan yang lebih inklusif dan pembukaan lapangan kerja. Dukungan berupa jaringan pengaman dan lapangan kerja luar pertanian untuk penganeka ragaman kegiatan hidup akan dapat membantu pembangunan masyarakat pedesaan dan memutus siklus kemiskinan, kelaparan dan kurang gizi.

Rentan dan Terabaikan

Laporan IFPRI menekankan petani kecil memegang peran sangat penting dalam ketahanan pangan dan nutrisi global. Juga sebagai pendukung pencapaian tujuan serangkaian pembangunan dan perubahan iklim. Sekitar 500 juta unit pertanian kecil di negara-negara berkembang menyumbang 80% produksi pangan di Asia dan Afrika.

Pertanian kecil merupakan penopang utama ketahanan pangan dan nutrisi global. Tetapi mereka rentan dan sering terabaikan. Petani kecil sendiri justru merupakan bagian terbesar dari sekitar 800 juta penduduk masih miskin dan kelaparan di dunia saat ini. Dengan memperkuat kekenyalan dan daya komersial para petani kecil, khususnya kaum perempuan dan pemuda, kapasitas pertanian kecil menyumbang pada pencapaian tujuan pembangunan global dapat meningkat. Kemiskinan dan kerawanan pangan di pedesaan dapat berkurang dan sumbangannya pada SDGs semakin luas.

Laporan tersebut mengingatkan adanya bukti-bukti kuat bahwa perubahan iklim akan terus membawa dampak negatif pada sektor pertanian. Hal ini meningkatkan kerentanan petani kecil, terlebih di daerah tropis. Perubahan iklim memperburuk tantangan produksi yang dihadapi petani kecil. Kemungkinan kehilangan hasil dan kerugian pertanian meningkat, demikian juga serangan hama dan penyakit hingga pengurasan aset petani. Perkiraan umum saat ini menggambarkan bahwa perubahan iklim dalam beberapa tahun ke depan akan menurunkan hasil tanaman pangan pokok seperti jagung, padi dan gandum.

Menghadapi dampak langsung perubahan iklim, terlebih kejadian cuaca ekstrim dengan intensitas dan frekuensi tinggi seperti gelombang panas, kekeringan yang parah, curah hujan berlebihan dan banjir, serta badai tropis, para petani kecil sangat rentan. Sumberdaya dan kapasitas mereka sangat terbatas. Banyak di antaranya yang berpenghasilan rendah dan kekurangan akses ke pendidikan, tanah, pelayanan perkreditan dan finansial, bantuan teknis dan pasar. Keterbatasan ini menghambat daya mereka beradaptasi terhadap efek perubahan iklim sehingga produksi dan daya tahan terpengaruh.

Untuk membangun daya tahan petani kecil terhadap goncangan iklim (climate shocks) maka perlu dilakukan investasi berupa tindakan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim. Dalam hal ini pertanian cerdas-iklim (climate–smart agriculture /CSA) dapat menawarkan peluang bagi petani kecil untuk secara berkelanjutan dan efisien memproduksi tanaman lebih bergizi seraya menyumbang pada kegiatan positif menghadapi iklim.

Strategi CSA

Dikemukakan, strategi untuk pengembangan dan adaptasi mitigasi perubahan iklim seyogyanya merupakan komponen terpadu upaya memperkuat sumbangan petani kecil pada ketahanan pangan, nutrisi dan aksi iklim global. Pengembangan dan pelaksanaan strategi yang bertujuan lipat ganda demikian membutuhkan penilaian holistik sinergi, pertukaran dan peluang maupun koordinasi bantuan kepada petani kecil oleh berbagai pihak.

CSA menawarkan strategi tiga-kemenangan (triple-win strategy). Yakni, secara simultan memajukan produktivitas petani kecil atas tanaman bergizi, membantu petani kecil beradaptasi pada perubahan iklim, serta mengurangi kontribusi pertanian terhadap perubahan iklim. Penggunaan pendekatan CSA dalam pertanian dinilai dapat menghasilkan imbalan yang tinggi.

Di antara contoh implementasinya yang dipaparkan dalam Laporan IFPRI itu adalah pengembangan tanaman siap-iklim, seperti padi C4 yang mampu menggandakan efisiensi penggunaan air sekaligus meningkatkan hasil hampir sebesar 50% dan meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen sebesear 30%.

Di Niger, Afrika, para petani kecil mengembangkan penumbuhan kembali pohon dan belukar dengan teknik regenerasi alami. Sejak dimulai 1980-an, areal tanamnya sudah mencapai 5 juta ha, atau separuh dari total areal pertanian di negeri itu. Kegiatan wanatani (agroforestry) sederhana dan murah biaya itu berhasil menganeka-ragamkan kehidupan, menggandakan pendapatan petani, meningkatkan keragaman hayati dan memerangi desertifikasi (penggurunan).

Multi manfaat juga diperoleh petani kecil di Dataran Indo-Gangga, India yang mengadopsi sistem tanam tanpa olah tanah (zero-tillage). Dalam jangka 3 tahun (2009-2912), emisi gas karbon pertanian bisa berimbang dengan pembenaman karbon di lahan pertanian. Petani sendiri memperoleh kenaikan pendapatan hampir US$ 100 per hektar per tahun oleh asupan dan biaya pertanian yang lebih rendah. Olson PS

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018