Sabtu, 15 Desember 2018


IPB Temukan Bungkil Kedelai Analog

23 Jul 2018, 15:13 WIBEditor : Ahmad Soim

Ketergantungan bungkil kedelai impor untuk pakan ikan bisa dihentikan dengan ditemukannya bungkil kedelai analog oleh Institut Pertanian Bogor (IPB).

 

Prof Muhammad Agus Suprayudi dalam orasi ilmiah Guru Besar IPB mengungkapkan impor bungkil untuk pakan ternak mencapai 4,3 juta ton pada tahun 2017, mengalami kenaikan sebesar 89,1 persen dalam satu dekade, dengan kenaikan rata-rata 8,9 persen per tahun.

 

“Dalam satu dekade itu, harga kedelai dunia mendekati dua kali lipat dan diprediksi harganya akan terus meningkat dengan semakin tingginya permintaan kedelai, baik untuk manusia maupun pakan hewan” tambah Prof M Agus Suprayudi saat menyajikan makalah Orasi Ilmiahnya berjudul “Peran Ilmu Nutrisi Ikan dan Kemandirian Bahan Pakan Lokal dalam Mendukung Produksi Akuakultur yang Berkelanjutan” di IPB  Bogor (21/7).

 

Prof Agus Suprayudi mengatakan dengan ketergantungan yang sedemikian besar pada bungkil kedelai impor, maka jika terjadi pengurangan atau bahkan penghentian pasokan oleh negara produsen, yang mungkin disebabkan oleh adanya force majeur atau embargo, akan dapat menyebabkan terjadi goncangan dalam industry akuakultur Indonesia.

 

“Hasil penelitian kami menyimpulkan bahwa bungkil ekdelai merupakan sumber protein termurah di antara sumber protein nabati dan hewani yang ada dan digunakan dalam prosentasi yang cukup besar dalam pakan ikan,” ungkap Prof Agus.

 

Karena posisinya yang strategis dalam pakan ikan dan ketergantungan yang tinggi pada produk impor, maka diperlukan terobosan untuk menyediakan bahan penggantinya.

 

“Dari berbagai kandidat bahan baku lokal yang ada, biji karet terpilih sebagai pengganti bungkil kedelai   karena merupakan produk samping dari agroindustry karet,” jelasnya. Biji karet yang telah dikeluarkan minyaknya memiliki kandungan protein dan asam amino yang mirip dengan bungkil kedelai.

 

“Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa bungkil biji karet dapat menggantikan bungkil kedelai tanpa menimbulkan efek negative hingga level 50 persen,” ungkap Prof Agus Suprayudi yang menyebut bungkil biji karet memiliki prospek kedepan sebagai sebagai bungkil kedelai analog.

 

Tokoh perkebunan Indonesia Soedjai Kartasasmita ketika dimintai pendapatnya tentang pemanfaatan biji karet untuk pakan ikan, sesuatu yang mungkin. “Terutama bila harga biji karet di tingkat petani menarik buat mereka,” tambah usai mengikuti orasi ilmiah ini.

 

Sejalan dengan Visi IPB 4.0 lanjutnya kehadiran tepung ikan anolog juga menjadi perhatian Prof Agus Suprayudi yang dikukuhkan sebagai prof bidang nutrisi ikan. “Tepung ikan analog sudah dalam tahap uji coba untuk pakan ikan nila,” tambah Prof Agus yang juga Kepala Departemen Akuakultur Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB. Som

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018