Sabtu, 15 Desember 2018


Bawang Solok Jawab Tantangan Menteri Amran

15 Agu 2018, 12:19 WIBEditor : Kontributor

Belum genap 2 tahun, setelah Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mencanangkan Kabupaten Solok sebagai sentra bawang merah Nasional Desember 2016 lalu. Kini, kabupaten Solok optimis mampu menjawab tantangan Menteri Amran tersebut.

Saat itu, Menteri Amran menargetkan luas tanaman bawang merah di kabupaten ini mencapai 10 ribu hektar pada tahun 2019. Hebatnya, baru pertengahan tahun 2018 luas tanaman tersebut telah mencapai 8 ribu hektar. Ini artinya, Kabupaten Solok sudah bisa dipastikan akan menjadi sentra bawang nasional.

Sejalan dengan optimisme tersebut, Rabu (15/8) di kecamatan Lembah Gumanti digelar Focus Group Discussion Pemanfaatan Instore Dryer (ID) pada Bawang Merah, kerjasama BB-Pascapanen, Dinas Pertanian Kabupaten Solok dan AFACI. Acara ini dibuka oleh Febriyezi, Kasie Kerjasama mewakili Kepala BB-Pascapanen.

Kegiatan ini menurut Febriyezi bertujuan untuk melihat perkembangan pemanfaatan ID dan sekaligus mendapatkan masukan langsung dari petani seputar pemanfaatan inovasi teknologi tersebut. 

Kepala Bidang Penyuluhan yang juga merangkap Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Kebupaten Solok, Sri Anima menjelaskan komoditi bawang memang sudah ada sejak lama di Kabupaten ini. Namun sayangnya dulu bawang belum menjadi komoditi utama.

“Dulu petani di Kabupaten Solok, khususnya di Kecamatan Lembah Gumanti kebanyakan bertani dengan system multi komoditi, bawang belum dianggap sebagai komoditti penting. Namun sekarang, bawang menjadi tanaman primadona di kawasan ini” ujarnya yang didampingi oleh Kepala Seksi Pengolahan dan Pemasaran  pada Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Solok, Marlis.

Begitu cepat pertambahan luas bawang merah di daerah ini terjadi setelah pencanangan oleh Mentan. Gerakan Kementerian Pertanian 2 tahun lalu itu telah menyulap kawasan Solok sebagai lumbung bawang merah.

“Kondisi kesuburan tanah yang sangat bagus,iklim yang mendukung dan harga jual yang menggiurkan adalah motivasi utama yang mempercepat gerakan itu” kata Marlis menambahkan.

Dewa Penyelamat

Sri Anima juga menambahkan, begitu tinggi pertumbuhan bawang merah di Kabupaten Solok, jangan heran jika bisa menyaksikan banyak rumah-rumah yang mewah (bagus) berubah karena tertutup dengan jemuran bawang.

Sistem penjemuran alami menggunakan sinar matahari ini masih menjadi cara efektif untuk menjemur bawang. Namun  sayang, cara ini menghadapi banyak masalah. Kawasan bawang ini adalah dataran tinggi yang banyak curah hujannya dan dalam satu tahun, jumlah hari hujannya menjadi 250 hari. Kondisi ini sangat menyulitkan petani untuk mengeringkan bawang.

Untuk mengatasi masalah itu, sejak 10 bulan lalu BB Pasca  Penen  mengembangkan teknologi Instrore Drying (ID) pada tingkat petani. 

Menurut, Peneliti dari BB Pasca Panen, Dondy Setyabudi dan Tatang Hidayat teknologi ini mampu mempercepat proses pengeringan. Kalau cara konvensional perlu waktu 15 – 21 hari pengeringan, maka dengan ID ini bawang bisa dikeringkan dalam waktu 5 hari. ID juga mampu mempertahankan kualitas bawang merah dan mampu mencegah pertumbuhan tunas.

Sekretaris Kelompok Tani Bintang Timur, Nagari Sungai Nanam Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, H. Mulyadi Malin Sati menuturkan kehadiran ID di tingkat petani ini seperti dewa penyelamat.

H. Mulyadi menceritakan, dahulu bawang seringkali busuk setelah dipanen karena udara yang dingin. Mutu bawang yang  tidak bagus, busuk, hitam dan bertunas menjadikan harga bawangnya murah,  “ Kalau harga standar Rp. 15 ribu, bawang petani kami hanya dihargakan Rp, 10 -12 ribu paling tinggi. Setelah dapat ID pengeringan lebih cepat dan mutunya lebih bagus, kita bisa bersaing Brebes,” kata Mulyadi. Lis.

 

Editor : Gesha

BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018