Friday, 07 May 2021


Meningkatkan Hasil Tidak Mesti dengan Teknologi Tinggi

30 Apr 2014, 16:55 WIBEditor : Kontributor

Produksi pangan dunia harus terus meningkat. Namun, bila tanah tidak subur, atau ada kendala lain, apa yang harus diperbuat oleh petani kecil? Teknologi tinggi dan terkini bisa menjadi jawaban, tetapi itu di luar jangkauan kemampuan teknis dan finansial mereka. Padahal peranan petani kecil mendukung ketahanan pangan dunia sekarang dan mendatang diakui sangat signifikan.

Untuk memecahkan masalah tersebut telah bermunculan berbagai konsep alternatif dari dunia iptek untuk membantu usaha tani kecil. Di antaranya yang cukup menarik adalah gagasan dari Universitas Riset (Pertanian) Wageningen, Belanda. Yakni bahwa cara terbaik untuk meningkatkan hasil tidak mesti dengan menggunakan teknologi tinggi terkini. Gagasan itu bertolak dari pandangan yang lebih mendahulukan pengembangan sistem yang sudah ada katimbang sekedar memperkenalkan teknologi terkini.

Dirjen Wageningen UR Plant Sciences Group menyatakan bahwa dengan konsep tersebut, mereka dapat memberi sumbangan pada intensifikasi pertanian berkelanjutan di mana saja pun di dunia dan dalam kondisi lokal yang bagaimanapun. Wageningen UR telah memberi advis strategi pertumbuhan kepada banyak perusahaan dan pemerintah di Asia, Afrika dan Amerilka Latin. Cara merancang solusi yang cerdas bisa berupa proses inovasi, tetapi tidak mesti berupa teknologi tinggi. Mereka mengembangkan konsep yang viable dan berkelanjutan sesuai dengan kenyataan kondisi sosial ekonomi dan klimatologi setempat.

Di Indonesia, Wageningen UR membantu pengembangan rumah kaca dengan cara sederhana yakni rumah kaca kertas timah dengan ventilasi pasif. Mereka juga mengembangkan konsep-konsep pengembangan rumah kaca yang sesuai di Tiongkok dan Mexico. Aplikasi gagasan Wageningen UR tersebut kini sedang berlangsung dalam satu proyek internasional besar di benua Afrika, yakni membantu petani kecil meningkatkan hasil tanaman dan kesejahteraan dengan cara menyuburkan tanah gersang miskin kandungan nitrogen.

Proyek N2Africa

Di Afrika sejak tahun 2009 berlangsung proyek skala besar yang berbasis ilmiah “riset-dalam-pembangunan” yang dinamai N2Africa Project. Dipimpin oleh Universitas Wageningen dengan dukungan Lembaga Internasional Pertanian Tropis (IITA) dan Pusat Internasional Pertanian Tropis (CIAT) serta didanai Bill & Melida Gates Foundation dan Howard G. Buffet G. Foundation, proyek tersebut memusatkan upayanya mengembangkan fiksasi nitrogen untuk menyuburkan pada lahan petani kecil dengan penanaman tumbuhan leguminosa.

Proyek N2Africa dimaksudkan untuk menyuburkan tanah yang tidak subur karena miskin nitrogen yang banyak terdapat di Afrika. Pemupukan nitrogen mahal dan di luar kemampuan banyak petani kecil di benua itu. Padahal, di udara banyak terdapat nitrogen yang bebas. Mengapa itu tidak dimanfaatkan dan bagaimana caranya?

Ide dasarnya adalah menarik nitrogen bebas di udara ke tanah dengan menanam tumbuhan jenis leguminosa (polong). Bahwa jenis tanaman tertentu termasuk leguminosa mampu menarik nitrogen dari udara melalui simbiosis dengan bakteri Rhizobium, itu sudah merupakan pengetahuan tradisional. Rhizobium, bakteri pengikat nitrogen, terdapat secara alami di tanah. Nitrogen yang diikat melalui proses proses biologis (biological nitrogen fixation/BNF) itu kemudian dilepas ke dalam tanah sehingga meningkatkan kesehatan dan kesuburan tanah. Pada gilrannya akan meningkatkan produktivitas sistem pertanian di lahan bersangkutan.

Untuk berlangganan Tabloid Sinar Tani Edisi Cetak SMS / Telepon ke 081317575066

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018