Saturday, 29 January 2022


Peluang Besar Bangun Industri Tepung Telur di Dalam Negeri

18 Oct 2019, 19:59 WIBEditor : Yulianto

pekerja sedang menata telur | Sumber Foto:Julian

Banyak manfaat jika Indonesia bisa membangun industri tepung telur. Selain mengurangi impor juga bisa mengisi bahan baku industri makanan di dalam negeri.

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta---Gejolak harga telur kerap saja terjadi. Kondisi tersebut membuat kalangan peternak layer (petelur) terombang-ambing. Bahkan akibat anjloknya harga telur ada beberapa peternak terpaksa gulung tikar.

Guna menjaga keseimbangan pasokan dan permintaan, mencuat gagasan membangun industri tepung telur di dalam negeri. Gagasan itu mencuat dari diskusi Perintisan Industri Pengolahan Telur yang diselenggarakan PATAKA di Jakarta, Kamis (17/10).

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengatakan, saat ini produksi telur di dalam negeri tiap tahun naik 1 juta butir. Artinya ada peningkatan tren yang sangat signifikan.

“Karena itu perlu ada keseimbangan. Harus dilakukan bersama mengatasi telur di Indonesia. Kita ingin menata ke depan, termasuk data populasi harus benar-benar riil,” katanya.

Data Ditjen PKH, prognosa populasi ayam layer komersial tahun 2019 per bulan berkisar antara   314.241.085-351.161.573 ekor, dengan rata-rata populasi layer komersial umur produktif (19–92 minggu) sebanyak 263.918.004 ekor. Sedangkan potensi produksi  telur tahun 2019 sebanyak  4.753.382 ton dengan rata-rata per bulan 396.115 ton.

Sementara kebutuhan telur tahun 2019 sebanyak 4.742.240 ton atau dengan rata-rata per bulan  395.187 ton. Artinya ada surplus telur ayam ras tahun 2019 sebanyak 11.143 ton dengan rata-rata per bulan 929 ton. “Dengan surplusnya produksi telur memang perlu ada pengembangan dalam industri telur, misalnya dengan membangun industri tepung telur,” kata Ketut.

Apalagi menurutnya, meski sudah surplus telur, tapi di sisi lain justru Indonesia masih mengimpor tepung telur.  Jumlah impor tepung telur tahun 2018 sebanyak 2.906 ton dan telur olahan lainnya 1.432 ton. Sedangkan tahun 2019, impor tepung telur sebanyak 2.750 ton dan olahan telur lainnya sekitar 549 ton. “Impor terbanyak dari India dan Ukraina,” katanya.

Banyak Manfaat

Menurut Ketut, banyak manfaat jika Indonesia bisa membangun industri tepung telur. Selain mengurangi impor juga bisa mengisi bahan baku industri makanan di dalam negeri. Selama ini produk olahan telur seperti tepung telur digunakan dalam berbagai bentuk produk olahan pangan oleh industri makanan dan kuliner. 

Manfaat lainnya dari adanya industri tepung telur adalah memiliki daya simpan (shelf life) yang panjang tanpa kehilangan nilai gizi, volume bahan menjadi lebih kecil. Selain itu, lebih hemat ruang dan biaya penyimpanan. “Tepung telur juga memungkinkan jangkauan pemasaran yang lebih luas dan penggunaannya lebih beragam dibandingkan telur segar,” katanya.

Ketut melihat peluang industri tepung telur cukup besar. Pertama, karena permintaan impor yang cukup tinggi menunjukkan bahwa masih ada peluang pasar yang dapat dipenuhi oleh produk yang dihasilkan dalam negeri. Kedua, target dari penjualan produk ini adalah industri pangan seperti industri food mix, biskuit, mie, roti, dan industri non pangan.

Ketiga, pemasaran produk ini cukup mudah. Hal ini disebabkan karena tepung telur merupakan kebutuhan dari industri.  “Investasi industri tepung telur di indonesia secara bisnis menjanjikan juga mendukung pengembangan industri peternakan ayam petelur,” tuturnya.

Yudianto Yugiarso, Ketua Presidium Pinsar Nasional mendukung upaya pemerintah untuk membangun industri tepung telur. Menurutnya, gagasan industri pengolahan telur ini menurut peternak ada dua hal yang melatarbelakangi.

Pertama, jatuhnya harga telur atau daging ayam yang senantiasa selalu berulang tiap tahun dan tidak pernah terselasaikan dengan baik. Kedua, tujuan perintisan tepung telur ini adalah sebagai penyangga.

Pada tahun 1984, menurut Yudianto, peternak masih menikmati usahanya. Namun bergulirnya waktu, ketika pelaku industri peternakan masuk mulai terasa. Apalagi kini banyak telur dari perusahaan yang masuk ke pasar becek. “Kami sudah merasa jenuh dengan kondisi turunnya harga telur, terutama mengenai permasalahan masuknya Hatching Egg ini” tegasnya.

Reporter : Julian
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018