Sabtu, 07 Desember 2019


Kampanye Ayam dan Telur 2019, Targetkan Emak-Emak Perkotaan

03 Nov 2019, 20:41 WIBEditor : Gesha

Kampanye ayam dan telur 2019, menargetkan emak-emak perkotaan | Sumber Foto:IRA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Para pelaku usaha perunggasan kembali menggelar kegiatan kampanye daging ayam dan telur untuk dapat mendorong peningkatan konsumsi dua bahan pangan kaya protein hewani tersebut di masyarakat. Tahun 2019, emak-emak perkotaan jadi target utama.

Sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, tahun ini kegiatan kampanye gizi komoditas daging ayam dan telur dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Ayam dan Telur Nasional (HATN) sekaligus Worl Egg Day 2019. 

Mengangkat tema sentral “ Ayam dan Telur untuk Indonesia Sehat dan Cerdas”, kegiatan kampanye kali ini melibatkan partisipasi ibu rumah tangga yang tergabung dalam wadah PKK di wilayah kota Pekanbaru Provinsi Riau dan DKI Jakarta. 

“Kami mengajak ibu-ibu PKK berperan serta mengingat peran mereka sangat besar dalam penyediaan menu keluarga sehari-hari, ” kata Ketua Pelaksana HATN 2019, Ricky Bangsaratoe, disela acara kampanye gizi ayam dan telur, di Jakarta, Kamis (31/10). 

Berlangsung di Gedung Dinas Teknis DKI Jakarta,  kegiatan kampanye gizi di wilayah Jakarta menampilkan enam pembicara yang memaparkan  mulai dari  proses produksi daging ayam dan telur di tingkat pembudidaya hingga tatacara proses penyimpanannya di tingkat konsumen termasuk penjelasan seputar kandungan  gizi dari kedua produk unggas tersebut. Tak seperti biasanya kali ini ditampilkan pelaku usaha pembibitan ayam kampung, Nariyanto yang memaparkan keunggulan dari ayam kampung.

Banyaknya lontaran pertanyaan dan pernyataan dari para peserta di sesi tanya jawab menjadikan acara kampanye kian seru dan  cukup memberikan gambaran  bahwa ternyata  masih terdapat persepsi keliru di kalangan ibu rumah tangga di kota besar yang notabene umumnya dari kalangan ekonomi menengah ke atas. 

 Antara lain  ada ibu yang berpendapat bahwa harga produk unggas tergolong mahal , daging ayam  tak baik dikonsumsi karena disuntik hormon pertumbuhan dan adanya kekhawatiran mengenai peredaran telur palsu . 

“Pandangan bahwa harga produk unggas mahal tak berdasar. Karena kalau kita hitung harga per butir telur saat ini hanya sekitar Rp 1.500 tak jauh beda dengan sebuah kerupuk yang  nilai gizinya jauh lebih rendah dari telur,” jelas Rachmat Nuriyanto, praktisi obat hewan yang menjadi narasumber di acara kampanye gizi, di Jakarta.

Mengenai adanya pendapat bahwa daging ayam mengandung  hormon , Rachmat yang saat ini menjabat  Dewan Penasehat organisasi Asosiasi Obat Hewan Indonesia (ASOHI) menegaskan bahwa sudah lama pemerintah melarang ternak ayam yang dibudidayakan disuntik   hormon untuk mempercepat pertumbuhan ayam. Karena itu ia menjamin bahwa saat ini daging ayam sangat aman dikonsumsi  baik oleh anak-anak maupun orang dewasa.

Ia juga mengemukakan bahwa tak benar bila ada yang berpendapat telah beredar di pasaran telur palsu. Yang benar adalah memang kadang di pasaran dijumpai telur yang berasal dari usaha pembibitan ayam atau biasa disebut telur bertunas. Telur ini bukan berasal dari peternakan ayam ras petelur sehingga biasanya di bagian tengahnya terdapat semacam titik atau bercak darah.

“Telur kadang menjadi seperti tidak normal karena kuning telurnya hampir menyatu dengan putih telur. Ini menandakan telur sudah terlalu lama disimpan di suhu ruang. Yang begini jelas bukan telur palsu tetapi teksturnya menjadi berubah karena pengaruh lama penyimpanan,” tutur Rachmat.

 

Dokter hewan alumnus FKH IPB ini meminta masyarakat tak perlu takut untuk mengkonsumsi daging ayam dan telur karena kedua bahan pangan itu kaya akan gizi (asam amino, vitamin dan mineral) yang dibutuhkan bukan hanya oleh anak-anak tetapi juga orang dewasa bahkan lanjut usia. 

Reporter : IRA
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018