Sabtu, 07 Desember 2019


Selamatkan Unggas Nasional dengan Industri Pakan Terintegrasi di Daerah

13 Nov 2019, 12:11 WIBEditor : Gesha

Industri Unggas Nasional bisa terselamatkan dengan adanya industri pakan yang terintegrasi | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Industri unggas nasional memang seringkali goyang jika komponen utamanya yaitu pakan juga goyah. Terlebih jika harga pakan merangkak naik. Disaat produksi bahan baku pakan sudah kokoh, bukan tidak mungkin untuk bisa mengembangkan industri pakan terintegrasi di daerah sentra unggas.

Menurut penjelasan Mantan Menteri Pertanian 2000-2004, Prof. Bungaran Saragih, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), produksi ayam ras pedaging di tahun 2018 sebesar 2,1 juta ton. Sedangkan untuk produksi ayam petelur sebesar 1,6 juta ton.

"Industri unggas kita ini merupakan TOP 3 penyumbang PDB terbesar di Indonesia dalam sektor pertanian. Menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 2,5 juta jiwa, penyerap 65 persen protein hewani, serta industri hulu makanan nasional berupa olahan dan restauran berbasis ayam (unggas) yang paling berkembang," terang Bungaran saat acara Forum Diskusi Agrina 'Penyediaan Jagung Pakan Sesuai Harga Acuan untuk Meningkatkan Daya Saing Industri Ayam Nasional' di Jakarta, Rabu (13/11).

Walaupun termasuk industri yang paling berkembang di Indonesia (sektor pertanian), biaya produksi industri unggas nasional termasuk tinggi. Biaya pokok produksi saja bisa mencapai Rp 15 ribu sampai  Rp 18 ribu per kg, sedangkan di Brasil hanya Rp 9 ribu hingga Rp 10 ribu per kg. "Mengapa tinggi? Ini terkait dengan biaya pakan yang cukup tinggi. Apalagi biaya pakan merupakan komponen terbesar dalan biaya produksi," ungkap Bungaran.

Bungaran menjelaskan bahwa industri unggas terbesar di dunia dipegang oleh Brasil dan Amerika Serikat. Hal tersebut juga sejalan dengan produksi bahan baku pakan yaitu jagung dan kedelai yang tinggi dari kedua negara tersebut.

"Mereka ini selain membangun industri unggas, dibangun juga industri pakannya. Yang menjadikan mereka juga sebagai produsen pakan unggas terbesar di dunia (termasuk Cina juga). Tetapi kedepannya mereka akan membatasi ekspor bahan baku pakan karena terkait pengembangan minyak nabati, sehingga target utamanya nanti adalah ekspor daging unggas karena nilai tambahnya jauh lebih besar dibandingkan bahan baku pakan. Ini tentu akan mengancam industri unggas dalam negeri," jelas Bungaran.

 

"Jadi mulai saat ini kita harus mengembangkan roadmap indsutri pakan secara komprehensif dan sistematis dari hulu hingga hilirnya. Kalau bisa bukan hanya sebatas pengembangan industri pakannya saja, melainkan bersinergi juga dengan industri unggasnya. Dengan demikian, akan tercipta  indsutri pakan dan unggas yang saling berintegrasi serta berkelanjutan kedepannya," ungkap Bungaran.

Bukan hanya itu, Bungaran menyarankan agar industri pakan bukan hanya terpatok pada bahan baku jagung dan kedelai saja, melainkan mengembangkan baham baku lokal seperti palm kernel beans. "Kita ini industri kepala sawit terbesar di dunia dan di dalamnya, palm kernel beans dapat kita kembangkan menjadi pakan unggas. Itu nutisinya cukup bagus untuk pakan unggas. Jadi kita tidak perlu melakukan impor untuk bahan baku pakan unggas (jagung dan kedelai), cukup dari perkebunan kelapa sawit saja," terang Bungaran.

 

 

 

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018