Thursday, 02 April 2020


Pakar : Pasca Pelarangan AGP, Perlu Perubahan Manajemen Beternak Ayam

20 Dec 2019, 17:58 WIBEditor : GESHA

Serah terima buku dari pakar manajemen Peternakan Ayam Ras, Tony Unandar (tengah, batik cokelat berkacamata) kepada Direktur Kesehatan Hewan, Fajar Sumping Tjatur Rasa (tengah, batik cokelat) | Sumber Foto:IRA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Saat ini, menurut Tony, tak bisa lagi peternak ayam ras melanjutkan kebiasaan lamanya hanya rutin memberikan pakan buatan pabrikan karena adanya asupan pakan yang tak lagi mengandung AGP (antibiotic growth Promotor) berpotensi membuat ayam  mengalami gangguan pencernaan.

Sejak pemerintah melarang penggunaan AGP sebagai imbuhan pakan, mau tidak mau peternak ayam harus  melakukan perubahan dalam pelaksanaan manajemen pemeliharaan ternaknya agar  performa produksi ternak yang dibudidayakan tetap terjaga.

 

“Selama puluhan tahun pakan ayam  diberi AGP maka  semua menjadi aman. Ayam yang dipelihara peternak bisa berproduksi tinggi sesuai potensinya. Tapi sejak AGP dilarang sebagai imbuhan pakan  mulai muncul kendala di lapangan. Karena itu harus dilakukan perubahan manajemen dalam kegiatan budidaya ayam,” kata pakar Manajemen Peternakan Ayam ras, Tony Unandar, dalam paparannya usai peluncuran buku Manajemen Kesehatan Unggas Modern karya Tony, di Jakarta, Jumat (20/12).

 

 

Agar performa kesehatan ayam tetap terjaga, peternak harus memberikan asupan pengganti AGP , salah satu alternatif yang dianjurkan pemerintah adalah pemberian probiotik . “Dianjurkan pemberian probiotik dilakukan setiap hari mengingat ayam itu dalam satu hari sampai delapan kali buang kotoran , jadi probiotik harus diberikan setiap hari,” tegas Tony.

 

 

Dengan secara rutin dan sejak di usia dini  memberikan probiotik maka kondisi usus ayam dapat diperbaiki sehingga proses pencernaan makanannya pun bisa optimal yang pada gilirannya membuat  sistem kekebalan tubuh ayam menjadi baik ,sehingga otomatis produktivitas ayam itu sendiri menjadi tinggi. Pemberian probiotik bisa ke atas pakan yang diberikan atau ditambahkan ke air minum.

 

 

Ayam Mudah Stres

 

 

Tony mengingatkan bahwa ayam ras di era modern saat ini sangat mudah stres, karenanya disamping rutin memberikan asupan probiotik  peternak juga harus mengupayakan agar lingkungan di sekitar peternakan tak membuat ayam menjadi stres yang bisa berdampak menurunkan produksi telur dan daging yang dihasilkannya.

 

 

Agar tak terpapar bakteri, sanitasi air minum juga harus dijaga demikian juga kondisi ventilasi di dalam kandang jangan sampai buruk yang membuat ayam memiliki keinginan minum terus menerus. “ Teknologi ventilasi yang baik saat ini adalah sistem perkandangan closed house. Peternak diharapkan ke depan bisa menerapkan sistem ini ,” tuturnya.

 

 

Ia menilai saat ini ada tiga hal yang dinamis terkait budidaya ayam ras, pertama perbaikan genetik ternak terus berlangsung di tingkat global. Dua-tiga tahun sekali pasti keluar strain baru dengan tampilan makin luar biasa. Kedua, adanya fenomena pemanasan global sangat bisa menjadi pemicu ayam cepat stres yang berdampak menurunkan produktivitasnya.

 

Ketiga, kejadian mutasi pathogen  terus terjadi yang berdampak munculnya penyakit baru. “Sampai kapanpun kita tak akan bisa menghilangkan penyakit pada ayam. Karena itu upaya pencegah harus terus digiatkan peternak antara lain dengan melakukan kegiatan biosekuriti yang ketat di kandangnya,” ujar Tony. 

Reporter : IRA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018