Thursday, 02 April 2020


Stok Daging Sapi dan Telur Ayam, Melimpah Hingga Awal Tahun 2020

26 Dec 2019, 11:15 WIBEditor : Gesha

Permintaan daging sapi dan telur ayam setiap bulannya akan selalu ada | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Menjelang akhir tahun, biasanya stok bahan pangan (terutama telur, daging ayam dan sapi) mengalami kenaikan harga akibat stoknya menipis. Di akhir tahun 2019 dan menjelang tahun 2020, berdasarkan keterangan dari Direktorat Peternakan dan Kesehatan Hewan, memastikan bahwa stok pangan asal hewan yang terdiri dari daging dan telur ayam ras serta daging sapi, dalam kondisi aman.

Sesuai laporan realisasi produksi secara online dari para pelaku usaha perunggasan, potensi produksi tahun 2019, serta data konsumsi daging ayam ras sesuai hasil Kajian Konsumsi Bahan Pokok (Bapok) BPS 2017 sebesar 12,13 kg/kapita/tahun, diperkirakan kebutuhan daging ayam tahun 2019 adalah sebesar 3.251.745 ton, sedangkan ketersediaan daging ayam adalah 3.488.709 ton.

"Untuk tahun ini dapat dikatakan produksi daging ayam mengalami surplus  236.964 ton. Kalau dirata-ratakan setiap bulannya  surplus sebesar 19.747 ton," ungkap Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner, Syamsul Ma'arif.

Terkait kondisi stok telur ayam ras, Syamsul menjelaskan bahwa data konsumsi telur  sebesar 17,69 kg/kapita/tahun, diperkirakan ketersediaan telur ayam ras di Indonesia sebesar 4.753.382 ton, dan angka kebutuhan sebesar 4.742.240 ton. Hal ini berarti masih ada neraca surplus sebesar 11.143 ton atau 929 ton per bulan.

“Surplus telur ini dapat kita manfaatkan untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengembangan industri olahan telur dalam negeri, juga dapat kita jadikan komoditas untuk ekspor”, ungkapnya. 

Untuk daging sapi, pada tahun 2019 ini kebutuhan nasional untuk daging sapi diperkirakan sekitar 686.271 ton dengan asumsi konsumsi sebesar 2,56 kg/kapita/tahun. Adapun ketersediaan daging sapi berdasarkan produksi dalam negeri sebesar 404.590 ton yang dihasilkan dari 2.02 juta ekor sapi yang dipotong. 

Berdasarkan data tersebut, masih diperlukan tambahan sebanyak 281.681 ton yang dipenuhi melalui impor, yakni impor sapi bakalan setara 99.980 ton, impor daging sapi 92.000 ton, dan daging kerbau 100.000 Ton. Dari impor tersebut ada buffer stock sebanyak 10.299 ton. "Biasanya impor ini kebutuhannya untuk bisnis Horeka (hotel, restauran dan katering) karena mereka permintaannya spesifik," ungkap Syamsul.

Adapun khusus untuk Desember 2019 ini, masih ada stok 75.735,76 ton yang terdiri dari stok daging sapi lokal, stok sapi bakalan di feedlotter, stok daging dan jeroan di gudang importir, stok daging kerbau di Bulog, dan stok daging sapi tambahan di PT. Berdikari.

Dengan kebutuhan daging sebesar 56.538 ton, maka pada Bulan Desember 2019 ini masih ada surplus sebesar 19.197,76 ton. “Dengan data-data tersebut, akhir tahun 2019 dan memasuki tahun 2020, stok pangan asal hewan dalam kondisi yang mencukupi dan harga dapat dijaga stabil," tegas Syamsul.

Stok aman dikarenakan Indonesia sudah mandiri dalam penyediaan protein hewani dalam negeri. Syamsul menjelaskan upaya pemerintah dalam menjaga ketersediaan serta stabilitas harga pangan memperhatikan beberapa aspek penting yakni kecukupan stok, distribusi, dan kenaikan permintaan. 

Kementan selalu berkoordinasi dengan instansi terkait, untuk melakukan penghitungan supply-demand bahan pangan pokok asal hewan(daging sapi/kerbau, daging ayam dan telur) secara periodik melalui Rapat Koordinasi Teknis yang dikoordinir Kemenko Perekonomian bersama Kemendag, Kemenperin, dan BPS. “Kami berharap ketersediaan stok pangan asal hewan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) yang cukup dan harga stabil, maka masyarakat dapat merayakan Natal 2019 dan Tahun Baru 2020 dengan sukacita,” pungkas Syamsul.

Reporter : Clara
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018