Wednesday, 26 February 2020


Cegah Meluas, Prototipe Vaksin ASF Siap Diproduksi

24 Jan 2020, 15:50 WIBEditor : Gesha

Kementan mempersiapkan vaksin ASF | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Surabaya --- Sejak merebaknya kasus Demam Babi Afrika atau African Swine Fever (ASF) pada akhir tahun 2019 di Sumatera Utara, Kementan telah melakukan langkah-langkah strategis pencegahan dan pengendalian. Salah satu langkah jangka panjang adalah pengembangan vaksin ASF. 

"Saat ini belum ada vaksin ASF yang efektif tersedia untuk pencegahan penyakit ini, sehingga saya minta 12 Pakar Kesehatan Hewan Indonesia dari Unud, Unair, IPB, Unibraw, dan UGM serta unit teknis di Kementan untuk segera mengembangkan vaksin ASF ini," ungkap I Ketut Diarmita, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH), Kementan.

Menurutnya, virus penyebab ASF ini sangat bandel, karena bisa tahan lama di produk dan lingkungan. Pelaksanaan strategi pengendalian dengan pengawasan lalu lintas, desinfeksi, disposal dan biosekuriti saat ini masih belum cukup membendung penyebaran penyakit.  "Pengembangan vaksin ASF ini diharapkan akan memberikan solusi ke depan untuk pencegahan penyakit," ucap Ketut. 

Sementara itu, Kepala Pusat Veteriner Farma (Pusvetma), unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Ditjen PKH, Agung Suganda menyatakan kesiapannya untuk mengawal dan memfasilitasi pengembangan vaksin tersebut. Hal itu disampaikan pada saat membuka Rapat Koordinasi Tim Pakar Pengembangan Vaksin ASF mewakili Dirjen PKH di Surabaya.

Dalam kesempatan yang sama, salah satu pakar dari Fakultas Kedokteran Hewan, Univeristas Udayana, Prof. IGN Kade Mahardika menyampaikan bahwa pembuatan vaksin ASF sangat kompleks, karena saat ini penelitian dasar tentang hal ini belum mencukupi. Ia menjelaskan bahwa karakteristik biologis virus ASF sangat kompleks dengan genom yang besar, dan setengah protein virusnya tidak diketahui fungsinya. Begitu pula dengan mekanisme perlindungan terhadap ASF yang belum banyak diketahui. 

Lebih lanjut, Mahardika juga menyampaikan kendala pengembangan vaksin ASF yang selama ini berjalan yakni penelitian tentang virus hidup dibatasi hanya di laboratorium dengan tingkat biosekuriti yang tinggi, kurangnya model hewan kecil yang tepat dan ekonomis untuk percobaan, serta beberapa kendala teknis lainnya. 

"Oleh karena itu, kami mengembangkan vaksin ASF berbasis teknologi DNA rekombinan pada prokaryota dengan sistem Chaperone kombinasi protein struktural dan non struktural yang aman dan dapat diproduksi cepat. Prosesnya sudah kita laksanakan, dan saat ini master seed sudah siap untuk dibuatkan prototipenya di Pusvetma," tambahnya

Reporter : Kontributor
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018