Wednesday, 26 February 2020


Puluhan Babi di Bali Mati Mendadak, Bumi Dewata Waspada ASF

31 Jan 2020, 16:25 WIBEditor : Gesha

Peternakan Babi di Bali | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Denpasar --- Beberapa hari terakhir, Pemerintah Provinsi Bali tengah meningkatkan kewaspadaan terkait African Swine Fever (ASF) yang menjangkiti ternak babi. Hal tersebut menyusul puluhan ternak babi mati mendadak di Kecamatan Sukawati, Tabanan dan Badung.

"Benar, ada 25 peternak babi yang melaporkan ternaknya mati mendadak. Ada yang mati sampai 70 ekor dalam satu malam. Gejalanya berbeda-beda. Sedang kita cek, apakah mengarah kepada satu penyakit tertentu," beber Kabid Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Dinas Pertanian Gianyar, Made Santiarka.

Dirinya menambahkan gejala kematian ternak babi di Sukawati ini berbeda dengan ternak babi di Tabanan dan Badung. "Ada yang mencret darah, hilang nafsu makan dan lain sebagainya. Kita sudah kirimkan sampelnya ke laboratorium. Masih menunggu hasil lab," tuturnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. "Ada beberapa anak babi yang mati karena cuaca ekstrim," ungkap Kabid Keswan Kesmavet pada Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Jembrana. drh I Wayan Widarsa.

drh. Wayan mengaku telah mengirimkan sampel darah dari ternak babi yang mengalami mati mendadak. "Kita sudah kirimkan ke Balai Besar Veteriner di Denpasar dan tengah menunggu hasilnya," bebernya.

Sebelumnya, Kabupaten Tabanan mengalami kematian mendadak dari puluhan babi di beberapa desa, antara lain Desa Jegu, Rejasa dan Desa Buahan. Data terakhir tercatat ada kurang lebih 119 ekor babi mati, baik indukan maupun babi penggemukan. 

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali, Ida Bagus Wisnuardhana menuturkan pihaknya sudah melakukan identifikasi kematian luar biasa ternak babi di Provinsi Bali. "Lokasi pertama di Pesanggrahan (Kota Denpasar), Abiansemal dan Mengwi (Kab. Badung) dan Jegu (Kabupaten Tabanan). Tapi kematian ini terus berkembang di beberapa kabupaten lainnya," tuturnya.

Mengenai jumlah se-Provinsi Bali, Wisnuardhana menuturkan ada sekitar 600-700 ekor yang mengalami kematian. "Tapi statusnya masih belum jelas ASF atau bukan. Masih dicek sampel darah, daging dan fesesnya," tuturnya.

Kepala BBVet Denpasar, I Wayan Masa Tenaya mengaku sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengambilan sampel terhadap ternak babi di Provinsi Bali. "Sampel suspect yang kita ambil dikirimkan ke Medan terkait pengujian sampel penyakit Babi . Memang BBVet Medan menjadi lab rujukan penyakit babi," tuturnya.

Pihaknya juga sudah melaporkan kejadian tersebut kepada pusat yaitu Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian. Namun Wayan optimis matinya babi-babi tersebut bukan karena ASF. "Kemungkinan karena pengaruh cuaca saja. Apalagi di Bali ini terasa sekali pancarobanya, peralihan dari musim kemarau panjang ke musim hujan," tuturnya.

Menilik sejarah, penyakit pada Babi yang memang sudah ada di Bali antara lain Septicemia epizootica (SE), Hog Colera dan Streptococcus. "Di Bali memang belum ada sejarahnya. Namun dengan viralnya pemberitaan di media, peternak babi yang was-was kemudian melaporkan kepada BBVet Denpasar. Bagus malah, berarti tingkat kewaspadaan peternak makin tinggi," tuturnya.

Tingkatkan Biosecurity

Lebih lanjut Wayan menuturkan peningkatan kewaspadaan petani harus juga dibarengi dengan meningkatkan biosecurity dan biosafety. "Paling penting, jangan pernah memberikan makanan sisa kepada ternak babi," tukasnya. 

Kebersihan kandang dan asupan makanan menjadi kunci dari pencegahan penyakit. Karena itu, diharapkan Dinas Pertanian terkait bisa mengintensifkan biosecurity di wilayahnya masing-masing. Biosecurity berfungsi untuk membersihkan kandang, serta antisipasi terjadinya virus ASF. "Bahkan diharapkan Dokter hewan dan paramedis hewan di masing-masing kecamatan berkeliling ke kandang-kandang peternakan babi untuk sosialisasi," tuturnya.

Sekali lagi, dirinya menegaskan jika ditemui kematian mendadak dari ternak babi untuk segera melaporkan ke Dinas Pertanian terkait maupun Balai Veteriner terdekat. "Nanti akan ada tim maupun dokter hewan yang akan melakukan pengambilan sampel dan diperiksa," tuturnya.

Babi yang mengalami kematian tersebut kemudian dikuburkan dengan tingkat kedalaman tertentu. "Jangan dibuang ke sungai, jangan dipotong supaya tidak ada penyebaran penyakit," tukasnya. 

Reporter : NATTASYA
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018