Tuesday, 22 September 2020


Jika Panic Buying , Stok Daging Bisa Habis 2 Bulan !

20 Mar 2020, 12:22 WIBEditor : GESHA

Stok daging akan terus dijaga | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Masuknya virus corona di Indonesia sejak 2 Maret 2020 silam, masih belum berimbas pada kenaikan harga daging. Namun beberapa pihak mengkhawatirkan jika pemerintah mulai melakukan lockdown dan terjadi panic buying

Direktur Utama PT Estika Tata Tiara Tbk (Kibif), Yustinus Sadmoko menuturkan pihaknya memastikan supply kebutuhan daging hingga 6 bulan ke depan masih aman.

Dirinya hanya khawatir jika terjadi lonjakan permintaan yang tiba-tiba atau panic buying akibat dari penyebaran virus corona yang semakin massif, apalagi jika pemerintah akhirnya melakukan lockdown. “Jika terjadi peningkatan permintaan akibat penyebaran virus corona, pasokan yang ada bisa habis hanya dalam waktu dua atau tiga bulan,” tuturnya.

Diakui oleh Yustinus, hingga sekarang belum ada memang belum ada panic buying , hanya saja permintaan meningkat lantaran mendekati Ramadhan. Di mana, biasanya memang kebutuhan daging di supermarket permintaannya meningkat. Begitu juga ke pasar-pasar tradisional yang distribusinya hingga 90 persen. "Jadi kita lihat permintaan naik tapi itu karena memang sudah season-nya, belum lihat pengaruhnya dari corona," jelasnya.

Dia melanjutkan pasokan daging dipastikan aman karena Badan Logistik (Bulog) dan beberapa BUMN lainnya telah menyiapkan daging kerbau sebanyak 25.000 ton. Impor daging kerbau ini diperkirakan masuk pasar Indonesia pada April, berdekatan dengan awal masuk bulan Ramadan.

Impor 25.000 ton daging kerbau ini merupakan bagian dari penugasan impor 100.000 ton daging kerbau tahun ini. Sementara, untuk impor daging sapi dari Brazil, Bulog tidak lagi mendapatkan penugasan.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto mengatakan, pemerintah akan mengimpor daging kerbau sebanyak 170.000 ton. Sebelumnya, Kementerian Pertanian (Kementan) menyebutkan, jumlah kebutuhan daging sapi dan kerbau sekitar 376.035 ton. Sementara, ketersediaannya mencapai 517.872 ton, dengan 290.000 ton di antaranya berasal dari impor.

Kondisi Pasar

Sedangkan dilihat dari kondisi perdagangan daging di pasar-pasar, pedagang daging mengaku penjualan di pasar cenderung sepi. Meskipun harga belum mengalami kenaikan. “Harga normal Rp 120 ribu per kilogram, baik yang lokal maupun impor. Tapi pembeli sepi, karena Corona. Pada enggak keluar rumah,” tutur pedagang daging sapi di Pasar Jatinegara, Yunus.

Diakui Yunus, omzetnya turun sejak Akhir Februari silam. “Kalau dihitung, turun sampai 30 persen. Saya enggak menduga efeknya bisa seperti ini, enggak sampai ditinggal konsumen,” tuturnya.

Mengenai kemungkinan diborong atau naik ketika saat terjadi panic buying, Yunus sebenarnya tidak berharap terjadi demikian. “Takut juga kalau tiba-tiba beli banyak-banyak. Takut rusuh aja. Bukannya untung malah jadi dijarah. Itu aja sih ditakutkannya. Semoga tidak terjadi,” harapnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Kabupaten Bogor, puluhan lapak pedagang daging sapi terlihat sepi di Pasar Cibinong, Kabupaten Bogor. “Sudah sepi dari awal Maret kemarin. Harga sih masih standar di kisaran Rp 130 ribu per kilogram. Tidak naik,” tutur pedagang daging sapi di Pasar Cibinong, Maman.

Diakui dirinya, pedagang sudah mendapatkan surat edaran untuk menjaga kebersihan pasar untuk mencegah penyebaran virus Corona. “Kita juga dilarang untuk menimbun barang seperti daging ini. Sampai sekarang sih masih aman-aman saja. Pasokan ada terus. Tapi pembelinya kurang,” tuturnya.

Data dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat, kebutuhan daging di Jabar mencapai 193.255 ton atau setara dengan 1.017.138 ekor sapi. Hingga sekarang hanya 30 persen kebutuhan daging yang bisa dipenuhi oleh peternakan sapi lokal Jabar. Sisanya dipenuhi melalui impor regional dan asing.

Dari 27 kabupaten/kota di Jabar, terdapat 9 kabupaten/kota yang memiliki jumlah kebutuhan impor yang lebih tinggi daripada produksi lokal. Mulai dari Kabupaten Bogor, Kab. Sukabumi, Purwakarta, Karawang, Kota Bogor, Kota Sukabumi, Bandung, Depok dan Tasikmalaya.

Reporter : NATTASYA
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018