Friday, 05 June 2020


Masa Pandemi, Peternak Dihimbau Terapkan Biosekuriti 3 Zona

21 May 2020, 19:12 WIBEditor : Gesha

Peternak dihimbau terapkan 3 zona biosekuriti | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di masa pandemi  Covid -19 risiko terjadinya penularan penyakit semakin besar, baik dari manusia ke hewan ternak maupun sebaliknya. Karena itu, sejumlah pakar manajemen peternakan mengimbau peternak di tanah air sesegera mungkin pengimplementasikan aktivitas biosekuriti 3 zona. 

“Saat ini sudah semakin banyak  pelaku usaha ternak ayam ras yang menerapkan teknik biosekuriti  3 zona  dan hasilnya bukan hanya kesehatan ternak tak terganggu,  produksi  daging dan telur ayam di farm  juga terjaga stabil ” kata konsultan biosekuriti peternakan unggas, Alfred Kompudu pada acara Seminar Online Biosekuriti  yang diselenggarakan PT Gallus Indonesia Utama, belum lama berselang. 

Alfred  mengemukakan, sebagaimana manusia, ternak unggas juga bisa  terpapar penyakit yang disebabkan oleh virus. Fakta menunjukkan, di tengah pandemi  COVID 19 pun masih ada ternak unggas yang terserang penyakit flu burung, salah satu penyakit  hewan  yang disebabkan oleh virus Avian Influenza (AI).

Kejadian ayam ras terserang AI  belakangan dilaporkan di Kabupaten Sidrap Sulawesi Selatan dan Kabupaten Bondowoso Jawa Timur yang total  menyebabkan kematian ternak hingga puluhan ribu ekor. “Pemerintah daerah  melalui aparat dinas terkait langsung  berkoordinasi  dengan institusi Balitvet guna melakukan langkah-langkah pengendalian,” katanya.

Dari gambaran kasus tersebut, Alfred mengingatkan bahwa  kejadian penyakit  akibat virus terutama flu burung masih terus mengancam kegiatan usaha perunggasan. Karenanya langkah-langkah antisipasi perlu digiatkan oleh peternak agar farm mereka  bisa aman dari penularan penyakit  yang berpotensi menimbulkan kerugian materi yang besar itu.

Sebagian peternak ayam ras kini mulai  mengimpelentasikan teknik biosekuriti 3  zona  karena sudah merasakan sendiri bahwa cara ini bisa mengamankan ternak dari kemungkinan terserang penyakit berbahaya.  “Prinsip biosekuriti itu bagaimana bisa mencegah supaya kuman tidak masuk dan menyebar kemana-mana,” jelas Alfred.

Dengan mengimplementasikan Biosekuriti 3 zona berarti peternak tak hanya mencegah mikro organisme menginfeksi ternak unggas,  namun juga menyaringnya hingga tiga lapisan perlakuan. Peternak juga menjadi terbiasa menerapkan perilaku hidup  bersih dan sehat , melaksanakan kegiatan budidaya ternak  sesuai GFP (Good Farming Practices) sehingga pada gilirannya daya saing produk yang dihasilkan  juga bisa ditingkatkan. 

Di acara seminar online yang dipandu pimpinan Majalah Infovet, Bambang Suharno, itu Alfred Kompudu  menjelaskan  bahwa elemen biosekuriti meliputi tiga hal yakni isolasi, kontrol lalu lintas/pergerakan dan sanitasi (cleaning and desinfection) . 

Dengan menerapkan biosekuriti 3 zona,maka lingkungan farm dibagi atas tiga zona yakni zona merah (area kotor),  zona kuning  (area perantara /buffer)  dan zona hijau (area bersih). ”Masing-masing zona dilengkapi SOP yang harus dijalankan secara konsekuen,” tutur Sarjana Peternakan  alumnus Universitas Hasanudin  itu.     

Yang dipandangnya penting dalam pengimplementasian Biosekuriti 3 zona adalah jangan sampai longgar dalam melaksanakan aturan-aturan (SOP) yang telah dibuat.  Kegiatan monitoring dan evaluasi juga harus dilakukan secara terprogram .

Efektivitas Disinfeksi  

Pakar kesehatan Hewan, Baskoro Tri Caroko menekankan bahwa  vaksinasi  terhadap ternak saja tidak cukup karena tidak ada vaksin yang memberikan proteksi 100 persen. Untuk melakukan langkah preventif  terjangkitnya  penyakit maka kegiatan disinfeksi secara efektif menjadi hal yang penting.

Sumber penularan (zoonotic pools) penyakit itu menurut Baskoro banyak macamnya , namun di lingkungan peternakan ayam yang setiap hari muncul adalah material organik seperti kotoran ayam, sisa pakan, darah, debu dan  tanah .  Material organik tersebut ketika keberadaannya diabaikan maka akan muncul masalah.

Upaya disinfeksi sebagai bagian dari kegiatan biosekuriti, menurut  Baskoro, bisa dijadikan sebagai  salah satu solusi untuk mengatasi dampak negatif dari cemaran material organik di lingkungan kandang.  “Namun  kegiatan disinfeksi harus dilakukan secara efektif  dan ramah lingkungan  agar dapat menekan risiko kejadian kasus dengan pembiayaan yang efisien,” tutur dokter hewan alumnus FKH UGM itu. 

Terkait dengan implementasi Biosekuriti 3 zona, Kegiatan disinfeksi yang penting dilakukan di lingkungan peternakan ayam adalah  disinfeksi kandang, disinfeksi peralatan serta disinfeksi ruangan baik  ruangan zona  01 maupun zona 02 dan 03.

Disinfeksi bisa dikatakan telah benar dilaksanakan bila dapat mencegah terbentuknya sumber penularan, mereduksi jumlah mikroorganisme patogen, memutus rantai penyebaran penyakit menular,mencegah risiko kasus penyakit berulang (re-emerging) dan menjadikan lingkungan peternakan aman, nyaman dan kondusif.

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018