Friday, 05 June 2020


Musim Penghujan, Pedet Kambing Boerka Lebih Cepat Montok

21 May 2020, 20:07 WIBEditor : Gesha

Kambing Boerka jadi unggulan baru bagi peternak | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Medan --- Jenis Kambing Boerka sekarang ini sudah banyak dikenal peternak. Bahkan menjadi salah satu kambing harapan unggul dari Kementerian Pertanian dengan berbagai keunggulannya.

Kambing Boerka adalah kambing hasil persilangan kambing Boer dengan kambing kacang. Kambing Boer adalah kambing yang didatangkan dari Australia. Sedangkan kambing kacang adalah kambing lokal Indonesia.

Persilangan ini bertujuan untuk meningkatkan produktifitas kambing lokal yang masih rendah. Sebab kambing lokal mempunyai kelebihan mampu berproduksi dalam kondisi lingkungan yang kurang baik, hanya saja bobot dewasanya masih rendah. Sedangkan kambing Boer memiliki kemampuan produksi penghasil daging yang baik. Sayangnya kambing ini kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan di Indonesia. 

Salah satu keunggulan dari kambing jenis ini adalah bobot lahirnya yang bisa mencapai 3 kg dan bobot sapihnya 12 kg dengan pertambahan bobot badan harian pra sapih (PBBH) 61,30 g/ekor/hari.

Karena di Indonesia memiliki dua musim yang dominan yaitu musim hujan dan kemarau, peneliti dari Loka Penelitian Kambing Potong, Simon Elieser dan R. Rosartio melakukan penelitian pertumbuhan pra sapih kambing Boerka.

Seperti diketahui Sumatera Utara memiliki musim kemarau dan musim penghujan. Dan oleh peneliti, Kambing yang lahir bulan Maret-Juli dikelompokkan dalam musim kemarau. Sedangkan yang lahir bulan Agustus-Desember dimasukkan dalam kelompok musim penghujan. 

Penelitian ini melibatkan 156 ekor kambing Boerka F1 yang lahir tahun 2018-2019 dengan umur 0 - 6 bulan dan dilihat bobot lahir, bobot sapih 3 bulan serta PBBH. 

Dari hasil pengamatan menunjukkan bobot kambing yang lahir di musim kemarau, rata-rata adalah 2,6 kg (jantan) dan 2,3 kg (betina). Sedangkan Kambing yang lahir di musim penghujan, rata-rata bobot lahirnya 2,3 kg (jantan) dan 2,1 kg (betina).

Untuk bobot sapih kambing yang lahir musim kemarau  10,2 kg (jantan) dan 8,3 kg untuk betina. Begitu juga untuk bobot sapih kambing yang lahir di musim penghujan 9,9 kg (jantan) dan 8,4 kg (betina).

Dari data tersebut bisa disimpulkan bahwa Kambing yang lahir pada musim kemarau telah melewati masa buntingnya di musim penghujan, sehingga rumput cukup tersedia bagi induk saat bunting dan menghasilkan bobot lahir yang maksimal. Sedangkan yang lahir di musim penghujan, bobotnya lebih kecil karena selama bunting, indukan mengalami musim kemarau yang susah mendapatkan pakan.

Sedangkan rata-rata pertambahan berat badan harian (PBBH) (gram/ekor/hari) kambing yang lahir musim kemarau adalah 84,52  gram/ekor/hari (jantan) dan 66, 81 gram/ekor/hari (betina).

Untuk kambing yang lahir musim penghujan rataan berat badan harian (PBBH) adalah 85,45 gram/ekor/hari (jantan) dan 69,89 gram/ekor/hari (betina). Sehingga dapat disimpulkan, pertambahan berat badan dari pedet selama musim hujan jauh lebih cepat daripada di musim kemarau. 

Reporter : Rahmawati
Sumber : Puslitbang Peternakan
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018