Friday, 10 July 2020


Produksi Terkerek dengan Peningkatan Konsumsi

23 Jun 2020, 17:24 WIBEditor : Gesha

Tingkatkan konsumsi untuk mengerek produksi | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Di tingkat produksi, efisiensi memang harus dilakukan. Namun peningkatan konsumsi bisa menjadi kurus untuk mengerek produksi.

"Kenapa kita hanya terus berkutat bagaimana meningkatkan jumlah produksi, tetapi tidak berpikir meningkatkan permintaan (increase demand) dengan kampanye konsumsi. Konsumsi protein hewani untuk menyeret dan meningkatan pendapatan per kapita," beber Ketua Umum Gabungan Perusahaan Perbibitan Unggas/GPPU Achmad Darwami.

Berdasarkan data yang dilansir tabloidsinartani.com dari Buku Statistika Peternakan dan Kesehatan Hewan, selama tahun 2018 konsumsi daging sapi per kapita sebesar 0,469 kg. Sedangkan konsumsi daging ayam ras per kapita sebesar 5,579 kg.

Sedangkan konsumsi telur ayam ras per kapita tahun 2018 sebesar 108,399 butir. Konsumsi telur ayam kampung per kapita pada tahun 2018 sebesar 3,806 butir.

Pendapat serupa juga diungkapkan Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto B Utomo yang menyebutkan bahwa sektor peternakan harus meningkatkan ukuran pasar (market size) daripada market share. "Selama ini tingkat konsumsi kita masih dibawah Malaysia, sebenarnya kita masih mempunyai potensi untuk meningkatkan konsumsi," tuturnya.

Desianto juga menyoroti produksi protein hewani yang 2/3 bagiannya dikuasai oleh ayam dan produksi telur yang sudah mencapai 175 butir per kapita per tahun sehingga sangat berpeluang untuk meningkatkan konsumsi.

"Masyarakat menengah (middle class) sekarang ini jumlahnya banyak dan menjadi peluang untuk bisa meningkatkan konsumsi. Perlu ada kampanye gizi yang tepat agar potensi pendapatan middle class ini tidak beralih ke garmen bahkan rokok," tukasnya. 

Hal sesuai dengan kenyataan yang disurvei Badan Pusat Statistik (BPS) dimana pada tahun 2018, pengeluaran per kapita sebulan untuk bukan makanan lebih banyak dibanding untuk makanan. Pengeluaran untuk makanan sebesar Rp 556.899 (49,51 persen) dan untuk bukan makanan sebesar Rp567.818 (50,49 persen).

Dari pengeluaran untuk makanan, pengeluaran untuk konsumsi daging sebesar Rp23.006 (4,13 persen), sedangkan pengeluaran untuk konsumsi telur dan susu sebesar Rp32.196 (5,78 persen).

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018