Wednesday, 15 July 2020


Dialog Agribisnis Seri 2 Peluang Pengembangan Ayam Kampung Era New Normal

25 Jun 2020, 16:49 WIBEditor : Gesha

DISKUSI AGRIBISNIS 2 | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta -- Ayam kampung sudah seharusnya makin berkembang dewasa ini. Dengan kekhasannya tersendiri, ayam kampung ini menjadi peluang yang bagus untuk bisa dikembangkan pasca COVID 19 ini, salah satunya untuk pendapatan dan lapangan pekerjaan bagi masyarakat desa bahkan perkotaan.

Masyarakat Agribisnis Indonesia (MAI) bersama Kementerian Pertanian (Kementan) dan Tabloid Sinar Tani kembali mengadakan Dialog Agribisnis Seri ke 2.  Kali ini dialog lebih mengarah kepada subsektor peternakan, khususnya perunggasan dengan bidikan langsung kepada Ayam Lokal atau lebih dikenal dengan Ayam Kampung. 

Dengan mengundang para praktisi, pelaku usaha, hingga penentu kebijakan yaitu Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), dialog ini diharapkan membuka wawasan mengenai peluang, permasalahan dan rekomendasi agar Ayam Kampung yang umumnya dilakukan secara sendiri-sendiri bisa berskala bisnis dan memberikan penghasilan bahkan membuka lapangan pekerjaan, khususnya bagi pekerja yang mengalami PHK akibat Pandemi COVID 19.

"Bicara ayam lokal, bukan hanya sebagai pangan saja tetapi juga di beberapa daerah menjadi kesukaan para penghobi sebagai ayam hias. Harga ayam lokal ini pun bisa mencapai 2-3 lipat daripada ayam broiler/ayam ras untuk kebutuhan pangan. Sehingga bisa memberikan lapangan pekerjaan dan penghasilan kepada mereka yang terdampak COVID 19," beber Sekretaris Jenderal MAI, Maxdeyul Sola membuka Diskusi Agribisnis Seri 2 ini.

Tak hanya itu, ayam lokal ini juga menjadi salah satu upaya pemenuhan pangan lokal yang bisa dibudidayakan oleh masyarakat desa untuk kebutuhan sendiri. "Kita tidak ingin menjadikan ayam lokal ini sebagai kompetitor tetapi menjadikan ayam ini sebagai sumber pemenuhan protein hewani terdekat dengan masyarakat," tambahnya.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita menuturkan perbibitan ayam lokal unggul sedang dilakukan oleh Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan ternak (BPTU- HPT) Sembawa dan Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan ternak (BPTU- HPT) Pelaihari.

"Kita juga tengah menggalakkan pembibit ayam lokal di Sulawesi Selatan dan Kalimantan sehingga kebutuhan DOC ayam lokal bisa terpenuhi," tambahnya.

Tak hanya itu, daya saing ayam lokal ini juga tergantung pada teknologi dan sumberdaya manusia peternak yang melakukannya. Salah satu peternak yang bisa dijadikan contoh adalah Ir. Djoni dari Pakar Nagari Development Center di Solok, Sumatera Barat yang berhasil membudidayakan ayam lokal dengan pendekatan teknologi sederhana namun bisa menekan biaya produksi sehingga ayam lokal mendatangkan keuntungan yang lebih berlipat.

Begitupula Ketua Koperasi Sinergis Sulawesi Selatan, Sulaiman H. Andi Loeloe yang tengah merintis upaya pemasaran ayam lokal namun masih terganjal ketersediaan DOC dan teknologi penetasan ayam agar menetas seragam. 

Sebagai Ketua Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (HIMPULI), Ade Zulkarnaen menegaskan peran pemerintah untuk memberikan stimulus program pengembangan ayam lokal, setidaknya untuk mampu menguasai 25 persen pangsa pasar unggas di Indonesia. 

Berikut ini beberapa materi yang bisa Anda unduh dari  Dialog Agribisnis Seri ke 2, Peluang Pengembangan Ayam Kampung

1. Paparan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan

2. Paparan Sulaiman H. Loeloe

3. Video Cara Beternak Ayam Lokal --Djoni

4.Paparan Himpuli Ade Zulkarnaen

 

Reporter : TABLOID SINAR TANI
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018