Saturday, 26 September 2020


Kelanjutan Usaha Ayam Kampung Masih Terkendala DOC

26 Jun 2020, 06:49 WIBEditor : Gesha

DOC Ayam Kampung | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Ayam Kampung memang menggiurkan pasarnya sebab memiliki pangsa pasar kelas menengah ke atas hampir di seluruh Indonesia. Namun di tingkat peternak, usaha ayam kampung ini masih terganjal bibit ayam sehari (day old chick/DOC)  yang masih banyak berpusat di Pulau Jawa.

Tak pernah terbayangkan oleh Ketua Koperasi Sinergis Sulawesi Selatan, Sulaiman Andi Loeloe untuk berkecimpung di peternakan ayam kampung. Awalnya, Sulaiman hanya membeli lahan untuk pertanaman sawit di Sulawesi Selatan dan membelikan ayam kampung untuk para pekerjanya sebagai tambahan penghasilan menunggu sawit menghasilkan.

“Saya beli Ayam Kampung jenis KUB, Joper dan lainnya untuk diternakkan pekerja. Namun saya lihat ternyata peluangnya (ternak ayam kampung) sangat menarik khususnya untuk masyarakat desa,” tuturnya. Akhirnya usaha peternakan/pembesaran ayam kampung Sulaiman berkembang pesat dan sudah ada 50 peternak yang bergabung bersamanya dalam wadah koperasi.

“Kami belikan DOC, berikan pakan dan kita tampung hasil panennya kemudian kita pasarkan. Pasarnya sudah ada karena banyak restoran yang kini menyajikan ayam kampung, khususnya di Sulsel. Tapi kami masih kesulitan untuk pasok panen ke mereka karena memang produksi belum banyak,” tambahnya.

Sulaiman menyebut masih kesulitan untuk mendapatkan DOC Ayam Kampung di Sulsel karena selama ini masih mengambilnya dari Pulau Jawa. “Harga masih tinggi Rp 7-8 ribu per ekornya. Itu pun masih harus antri. Kalau enggak kebagian, ya terpaksa kita enggak bisa besarkan,” bebernya. Selain terkendala DOC, dirinya juga terkendala dalam manajemen dan pelatihan budidaya ayam kampung sesuai Good Farming Practices (GFP) Ayam Kampung. 

Ketua Umum Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (HIMPULI), Ade Zulkarnaen menuturkan hingga sekarang memang baru ada 15 pembibitan yang bisa memproduksi unggas lokal dalam jumlah yang besar. Pembibitan ini sudah terstruktur dan sesuai dengan standar good breeding practice (GBP).

Ade mengakui, selama ini unggas lokal hanya dikembangkan secara backyard farming saja. Padahal, unggas lokal ini dapat dikembangkan dengan besar. “Sudah saatnya bangun perbibitan ayam kampung yang terstruktur mulai dari pure line, grand parent stock (GPS), parent stock (PS) dengan memanfaatkan lembaga penelitian dan universitas di Indonesia,” tambahnya.

Untuk diketahui, Pembibitan galur murni diproduksi untuk grand parent stock (GPS). Turunannya lalu dikawinkan lagi dengan turunan terpilih untuk dijadikan bibit yang bisa jadi parent stock (PS). Para breeder ini nantinya yang akan menghasilkan final stok (FS) atau DOC (day old chicken), yakni ayam budidaya untuk konsumsi. 

Di negeri ini, sedikitnya ada 28 jenis ayam lokal, seperti ayam kedu, cemani, ayam sentul, dan strain ayam kampung biasa yang bertebaran mulai dari Sumatera, Pulau Jawa, hingga Papua.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018