Tuesday, 14 July 2020


Naikkan Pamor, Branding Ayam Kampung Menjadi Premium

29 Jun 2020, 16:33 WIBEditor : Gesha

Ayam Sensi, lebih montok dibandingkan ayam kampung biasa lainnya | Sumber Foto:Balitnak

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Untuk meningkatkan gengsi dan pamor varietas lokal, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan tengah melakukan upaya branding produk dan varietas lokal. Salah satunya adalah ayam kampung menjadi kualitas premium.

"Kini yang sudah mulai jalan (branding) adalah Sapi Bali Kita branding menjadi sapi organik yang dikembangkan di NTB. Hampir 90 persen mengkonsumsi lamtoro terambah. Dari pantauan di pasar luar negeri, sapi yang mengkonsumsi pakan hijauan organik ini memiliki harga yang tinggi. jadikan sapi Bali seperti Wagyu, kita jadikan produk premium,” cerita Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak), Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Fini Murfiani.

Langkah branding juga akan dilakukan pada ayam kampung, terutama untuk menghalau masuknya ayam-ayam impor dari Brazil. Diakui Fini, secara tidak langsung memang ayam kampung sudah menjadi “premium” dengan harga yang 2-3 kali lipat dibandingkan ayam broiler. Bahkan menjadi lebih bergengsi jika makan di restoran dengan menu Ayam Kampung. Namun, perbaikan mutu dan manajemen kandang tetap memerlukan untuk meningkatkan daya saing.

Pola Kemitraan

Selain branding, upaya untuk meningkatkan skala bisnis ayam kampung juga tengah dilakukan Kementan dengan membentuk lokus korporasi, dimana peternak-peternak ayam kampung tersebut bergabung dan membentuk kelompok besar menjadi orientasi bisnis.  “Dimana dalam satu koperasi tersebut ada divisi produksi, divisi pakan, divisi diversifikasi olahan. Itu yang diharapkan,” tuturnya.

Tak hanya itu, upaya upscalling dari ayam kampung juga dilakukan dengan pendampingan langsung oleh Kementan. “Secara teknis budidaya mereka sebenarnya sudah tidak ada masalah, justru mereka minta dilatih manajemen kandang dan pemasarannya, khususnya melalui online. Tapi kami sudah ada sinergi dengan marketplace online dan start up, sehingga sangat mungkin untuk di follow up,” tandasnya.

Kementerian Pertanian pun berusaha meningkatkan skala bisnis ayam kampung dengan pola kemitraan sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian RI (Permentan) No. 13/Permentan/PK.240/52017 tentang Kemitraan Usaha Peternakan.

Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan (PPHNak), Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan, Fini Murfiani menyebutkan mengatur syarat dan perjanjian dalam bermitra, juga terkait kegiatan pembinaan dan pengawasan. “Seperti yang tercantum jelas dalam Bab V, pembinaan dan pengawasan kegiatan kemitraan peternakan bukan hanya dilaksanakan aparat terkait di tingkat pusat, tapi juga perusahaan peternakan yang bermitra serta aparat di daerah termasuk gubernur, bupati dan walikota,” tuturnya.

Reporter : Nattasya
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018