Monday, 10 August 2020


Peternak Harapkan Pengawas DOC Kerja Maksimal

13 Jul 2020, 11:31 WIBEditor : Gesha

DOC Broiler | Sumber Foto:ISTIMEWA

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Adanya pengawas Bibit ternak khususnya pada unggas, sekaligus terus menggiatkan pengawasan terhadap breeding farm agar  secara konsisten  menghasilkan DOC berkualitas disambut gembira pelaku usaha budidaya ayam ras. Peternak berharap aturan yang ada bisa benar-benar ditegakkan sehingga nantinya DOC yang beredar di masyarakat sesuai  SNI.

“Kami bisa mengerti kalau kualitas DOC  kadang bagus kadang kurang , asal perbedaannya jangan sampai  terlalu kontras seperti  beratnya jauh dari ketentuan SNI yang minimal 36 gram,” kata peternak ayam ras pedaging (broiler) asal Bogor Jawa Barat, Sugeng Wahyudi.

Selama ini peternak ayam terutama peternak mandiri hanya mengandalkan pasokan bibit ayam (DOC final stock) hanya dari perusahaan pembibitan . Tentunya peternak senang bila mendapatkan bibit berkualitas karena  dari bibit yang bermutu tinggi bisa dihasilkan ternak ayam dengan performa sesuai  yang diharapkan.

“Dari kacamata kami, yang disebut DOC berkualitas itu antara lain bisa dilihat dari keseragaman pertumbuhan badannya. Makin tinggi  tingkat keseragamannya berarti makin baik kualitas DOC nya,” jelas Sekjen Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) itu.

Kualitas DOC juga erat kaitannya dengan status kesehatan dari ayam bersangkutan. DOC berkualitas akan tumbuh menjadi ayam yang sehat, mortalitas (tingkat kematian) rendah dan efisiensi penggunaan pakannya tinggi.

Kenyataan Lapangan

Peternak bisa saja berharap mendapatkan DOC kualitas terbaik, namun fakta di lapangan dalam proses produksi nya sulit bisa dipastikan apakah pembibit benar-benar menjalankan ketentuan yang ditetapkan pemerintah.

“Dalam kondisi harga DOC yang tinggi bisa saja pembibit menetaskan telur-telur dari induk yang masih baru belajar bertelur . Padahal sesuai ketentuan pemerintah,  telur hasil dari induk yang berusia kurang dari 28 minggu belum boleh masuk mesin tetas,” tutur peternak broiler yang pernah bekerja di perusahaan pembibitan, Sigit Prabowo.

Berat telur dari induk ayam yang umurnya kurang dari 28 minggu, padahal umumnya kurang dari 50 gram. Padahal  untuk menghasilkan DOC yang berkualitas, idealnya telur  masuk mesin tetas bila  telah mencapai bobot 52-55 gram.

“Karena itu  kami senang kalau pemerintah akan terus melakukan pengawasan sampai ke proses produksinya  di breeding farm. Yang penting bagaimana supaya aturan yang ada bisa ditegakkan dan hasil DOC  yang didapat sesuai SNI,”  tutur Sigit.

Baik Sugeng maupun Sigit berharap pemerintah bisa menjadi “wasit” yang baik, dalam arti tak segan  memberikan sanksi bagi pembibit  yang melakukan pelanggaran aturan main. Pengawasan yang dilakukan pemerintah diharapkan mampu membuat  perusahaan pembibitan ayam  mengimplementasikan ketentuan yang ditetapkan pemerintah  sehingga ke depan  DOC yang beredar di pasaran semakin berkualitas.

Satu hal lagi yang diharapkan peternak adalah pemerintah juga  hendaknya terus aktif memantau perkembangan harga DOC di pasaran.  Peternak akan kesulitan bila harga DOC terus naik sementara harga livebirdnya berfluktuasi.

 “Intinya kami benar-benar berharap pemerintah juga melakukan pengawasan di aspek harga jual DOC nya,  Kalau harga DOC terus naik kami peternak mandiri juga sulit untuk bisa bertahan di masa sulit seperti sekarang ini,” tutur Sigit 

Reporter : Ika Rahayu
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018