Saturday, 15 August 2020


Kurban 1441 H dan Pulang Kampung

01 Aug 2020, 09:50 WIBEditor : Ahmad Soim

Kurban Domba dan Tradisi Masyarakat | Sumber Foto:Ahmad Soim

Oleh: Dr Memed Gunawan

 

TABLOIDSINARTANI.COM - Desa Maleber punya kebiasaan yang lain dari yang lain kalau bicara soal mudik lebaran. Mereka mudik untuk Idul Adha bukan Idul Fitri.

Tidak bisa dijelaskan dengan tuntas mengapa, yang pasti mereka beranggapan Idul Adha adalah lebaran besar, sedangkan Idul Fitri itu lebaran kecil. Dampaknya tentu berbeda, karena orang Maleber berkurban di kampung sendiri bukan di perantauan. Dan berkurban di kampung sendiri punya dampak besar bagi ekonomi (pembelian ternak) maupun konsumsi (pembagian daging kurban) masyarakat kampung sendiri.

Bayangkan, pada tahun 2018 diperkirakan ada 1,5 juta ekor hewan kurban. Pada tahun 2019 naik 10?ri tahun 2018. Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Ditjen PKH Kementan Syamsul Ma’arif menyebutkan bahwa jumlah ternak kurban tahun 2020/1441 H yang akan dipotong secara nasional diprediksi berjumlah 1,8 juta ekor, terdiri dari domba 392.185 ekor, kambing 853.212 ekor; kerbau 15.653 ekor dan sapi 541.568 ekor (Republika.co.id, 15 Juli 2020, seperti dikutiip oleh Tanjung, 2020). Melihat data ini, sungguh ekonomi kurban ini tidak bisa dianggap sebelah mata. Jika separuhnya saja dilakukan di kampung, bukan di tempat mereka berdomisili, alangkah besar dampaknya bagi ekonomi pedesaan.

Kebiasaan orang Maleber ternyata tidak sendiri, karena banyak migran yang berasal dari daerah lain yang juga terbiasa mudik untuk Idul Adha. Misalnya Madura.   Kebiasaan mudik orang-orang Madura ketika Idul Adha disebut “toron”. Sebagian daerah Madura mensyaratkan penduduknya yang ada di rantau untuk mudik ke tanah asalnya. Lalu apa alasan perayaan Idul Adha di Madura terasa lebih semarak dibanding Idul Fitri? Dan kenapa warga Madura yang sedang di rantau kemudian juga berbondong-bondong melakukan 'toron' saat perayaan Idul Adha? 

Di negara-negara Islam seperti Mesir, Pakistan, Bangladesh dan juga Arab Saudi Idul Adha merupakan peristiwa istimewa. Kalau Idul Adha di Indonesia dirayakan satu hari saja, maka di Pakistan, Idul Adha ini dirayakan empat hari berturut-turut. Di negara ini perayaan Idul Adha terasa lebih syahdu dibandingkan dengan Idul Fitri.

Soal kurban dan ekonomi? Kurban memang memberi dampak positif pada kegiatan ekonomi.   Masyarakat Pakistan, yang kaya maupun yang miskin berkurban paling tidak seekor kambing pada saat Idul Adha. Menurut Tanjung (2020), berkurban di Pakistan bukan persoalan berharta atau tidak tetapi apakah  bertaqwa atau tidak. 

Pemerintah Saudi menerima dan mengelola lebih dari 1 juta hewan kurban dari para jamaah haji. Di Arab Saudi harga kambing kurban termasuk ongkos potongnya sekitar  300 riyal atau  setara Rp1,2 juta, jadi transaksi untuk kurban saja tidak kurang dari Rp 1.2 triliun.  Belum lagi biaya terkait pengadaan hewan kurban dan pendistribusian daging kurban dalam lingkup lokal dan global termasuk ke Indonesia. 

Kalau di Indonesia kurban mencapai 1,8 juta ekor, terdiri dari domba 392.185 ekor, kambing 853.212 ekor; kerbau 15.653 ekor dan sapi 541.568 ekor, kalikan saja dengan harga kambing atau atau domba pada kisaran Rp 2-4 juta, dan sapi atau kerbau antara Rp 20-40 juta, maka angkanya cukup fantastis, Bayangkan pula kalau ini dilakukan di pedesaan.

Kembali ke mudik untuk Idul Adha. Mengapa sebagian besar dari kita terbiasa mudik pada Idul Fitri? Kelihatannya bagi sebagian besar orang Indonesia hal ini sudah kadung menjadi kebiasaan. Dan ini secara tidak sadar sudah diformalkan. Selain pemerintah telah menetapkan libur bersama yang cukup panjang, THR juga diberikan pada waktu Idul Fitri. Ada libur panjang dan ada uang lebih, nah apalagi kalau bukan untuk pulang kampung?  

 

 

 

BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018