Saturday, 19 September 2020


Peternak Kecil Harus Bersatu di Tengah Kondisi Pandemi

31 Aug 2020, 22:25 WIBEditor : Clara

Dirjen PKH, Nasrullah | Sumber Foto:Tiara

TABLOIDSINARTANI.COM, Jakarta --- Pandemi Covid-19 membuat berbagai pihak harus memutar otak untuk tetap dapat bertahan secara finansial. Termasuk para peternak atau pun pengusaha di bidang peternakan. Para peternak kecil harus mampu bertahan dalam kondisi seperti ini.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Nasrullah mengatakan para pengusaha peternakan diharapkan dapat memproduksi produk peternakan yang ready to go dan ready to eat.

"Sehingga momentum ini harus kita buat langkah yang strategi bagaimana komoditas peternakan bisa menjawab kebutuhan masyarakat saat ini," katanya pada pembukaan Webinar Indo Livestock bertema Pandemi Covid-19 Sebagai Momentum Perbaikan Usaha Peternakan di Indonesia, Senin (31/8).

Ia menyatakan Kementerian Pertanian (Kementan) menghubungkan perusahan yang bergerak di bidang peternakan dengan jasa transportasi online untuk memudahkan masyarakat mendapatkan pangan sesuai dengan harapannya.

Pada kegiatan yang sama Guru Besar Fakultas Peternakan IPB, Muladno memaparkan situasi usaha peternakan sapi di Indonesia sebelum pandemi Covid-19 banyak impor daging beku; harga daging sapi tetap tinggi dan harga daging kerbau terkatrol naik; sapi betina produktif masih banyak dipotong karena sapi jantan untuk qurban; impor sapi bakalan berkurang kareba harus dibarengi impor indukan.

Situasi usaha peternakan unggas Indonesia sebelum pandemi Covid-19 impor produk unggas masih menjadi ancaman serius; harga ayam siap potong di bawah Harga Pokok Produksi (HPP); produksi DOC Final Stock oversupply, puluhan juta ekor dimusnahkan per minggu; impor bibit Grand Parent Stock terus berlanjut karena kita belum mampu berproduksi.

"Dampak pandemi Covid-19 pada usaha peternakan saat ini permintaan produk peternakan akan tetap ada karena ini merupakan bahan pangan kebutuhan mendasar bagi manusia; daya beli menurun karena pendapatan masyarakat turun akibat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB); strategi penjualan produk peternakan menjadi berbeda karena adanya kenormalan baru (new normal), penjualan secara online lebih stabil atau bahkan meningkat sedangkan secara konvensional menurun; kondisi bisnis persapian dan perunggasan makin parah akibat pertumbuhan ekonomi yang turun drastis," paparnya.

Prediksi Peternakan Indonesia Pasca Pandemi

Menurut Muladno, mengingat situasi peternakan sebelum pandemi Covid-19  sudah parah, dan semakin parah dengan adanya covid-19,  Ia memprediksi peternak rakyat makin melarat dan  akan banyak gulung tikar; sedangkan pengusaha peternakan industri (apalagi pelaku vertical integration) akan makin berseri nantinya jika tak ada perbaikan tatakelola secara fundamental.

Namun demikian, kondisi yang bertolak belakang tersebut tidak melanggar peraturan per-UU-an yang berlaku. Artinya negara belum hadir secara maksimal untuk dapat menata usaha dan industri peternakan secara adil dan berkelanjutan.

Muladno menyampaikan langkah-langkah perbaikan usaha peternakan yang perlu dilakukan , yakni pertama Komunitas Peternak Rakyat (KPR) harus bersatu dałam manajemen dan bisnis  mengelola ternak dałam jumlah besar secara kolektif berjamaah dan profesional. "Sangat sulit, tapi harus optimis bisa. Ini mutlak!" tegasnya.

Kedua, KPR kolektif berjamaah harus terus didampingi, dibimbing, difasilitasi, dan didukung total oleh semua instansi pemerintah yang relevan dengan kebutuhannya untuk dapat maju dan berkembang. "Sebaliknya peternak rakyat yang tidak mau bersatu dan tidak berjamaah tidak perlu didampingi dan tidak perlu didukung pemerintah," ancamnya.

Ketiga, bebaskan peternak berkarakter industri (termasuk pelaku integrasi vertikal) untuk berbisnis secara lebih efisien dan produktif. Pemerintah hanya bertindak sebagai regulator untuk mewujudkannya (efisien dan produktif).

Empat, diperlukan UU, PP, maupun PERDA yang sinkron untuk mewujudkan tiga butir tersebut. Artinya, peraturan per-UU-an dan PERDA yang berlaku saat lni tidak sanggup mengawal terbentuknya butir 1 dan 3

Lima, pendekatan yang dilakukan untuk menjalankan 4 butir di atas harus bottom-up melalui sinergi-kolaborasi antara akademisi, birokrat, dan komunitas peternak rakyat. Hindari pendekatan top down yang bernuansa proyek.

Reporter : Tiara
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018