Saturday, 19 September 2020


Investasi Sapi Perah, Untungnya 5 in 1

01 Sep 2020, 07:26 WIBEditor : Gesha

Potret peternak sapi perah di Malang | Sumber Foto:Istimewa

TABLOIDSINARTANI. COM, Malang - - Investasi di sektor pertanian kini kian menarik. Tapi bagi yang baru pertama kali investasi, pastinya bingung memilih komoditi apa yang harus diambil. 

Jika anda tinggal di desa atau setidaknya memiliki family atau kolega di desa, ada baiknya untuk mempertimbangkan satu alternatif usaha Ternak sapi perah. Mungkin modalnya agak besar, tapi tidak juga untuk era sekarang ini yang semua bisa dibuat lebih mudah dan cepat. Termasuk mengakses permodalan dan siapa yang menjalankan usahanya nanti.

Jika anda sudah ready semuanya, baik modal, tempat dan pengelolanya, mungkin anda siap-siap jadi bos baru di desa tempat anda berusaha. Atau setidaknya anda bisa mengontrol usaha dari jauh, sembari sesekali anda datang untuk update progress usaha anda.

Coba kita lihat lebih mendalam, 5 keuntungan dari usaha ternak sapi perah adalah susunya yang bisa menjadi sumber penghasilan harian, biogasnya yang bisa menjadi bahan bakar masak, bahkan jika mau, maka biogas pun bisa dirubah menjadi sumber energi listrik, ini bisa lebih mandiri energi akhirnya.

Belum lagi pupuk bokashi yang dihasilkan dari limbah padatnya juga bernilai ekonomi tinggi. Per kilonya dalam kemasan bisa seribu rupiah dan pupuk organik cair yang juga sangat berguna bagi aneka tanaman.

Terakhir tentu hewan ternaknya sendiri, jika sudah saatnya tidak produktif menghasilkan susu, maka nilai jualnya masih tidak jauh beda dengan sapi non perah. Benar-benar 5 in 1. 

Potret Sukses

Peternakan masih menjadi magnet kuat dan bisa jadi pilihan utama bagi para pemain baru di dunia usaha, khususnya di desa. Coba kita dekati sosok petani-peternak di Dusun Duren Desa Arjowilangun Kecamatan kalipare Kabupaten Malang.

Namanya Jarum, bendahara kelompok tani Wahyu Manunggal IV di tempatnya tinggal. Beserta istrinya sejak 8 tahun lalu memantapkan langkah untuk mengelola usaha ternak sapi perah.

Awalnya memelihara 3 ekor sapi perah. Kemudian bertambah dan berkembang hingga sekarang sejumlah 10 ekor yang produktif menghasilkan susu. Sudah puluhan yang dijual dan sekarang juga memiliki fasilitas pengolahan biogas. Jadi kompor masak pun bisa beroperasi 24 jam non stop.

Meskipun sangat sibuk karena harus merawat ternak-ternaknya, Jarum sangat ramah untuk berbagi bagaimana dia memulai usaha hingga sekarang ini.

“Anak saya yang terakhir masih kelas 3 SMA dan saya juga persiapan jika nanti dia kuliah, rencananya di Surabaya di salah satu universitas. 2 kakaknya Alhamdulillah sudah bekerja dan semuanya dari bertani dan beternak," tuturnya. 

Untuk fasilitas biogas, sangat bagus hasilnya dan ini hanya kita gunakan sebagian kecil."Saya buat penampungan gas 1 meter kubik, sebenarnya bisa sampai 5 meter kubik. Selain gas kita juga hasilkan pupuk organik cair yang saya gunakan untuk memupuk aneka tanaman khususnya padi dan jagung. Pupuk bokashi melimpah, jadi saya tidak perlu beli dan juga susu segar yang bisa jadi sumber penghasilan harian," tutur Jarum dengan bersemangat.

Lebih lanjut Jarum bercerita bahwa di kelompok tani dan lingkup di desanya makin banyak yang menekuni usaha ternak sapi perah. Dirinya sekitar 8 tahun lalu memulai ternak sapi perah dan higga kini sudah makin banyak yang memiliki usaha serupa.

"Disini ada puluhan petani dengan kepemilikan sapi perah bervariasi. Namun semuanya memiliki model yang hampir sama, yaitu instalasi biogas, pupuk organik cair ini dihasilkan dari digester/ tempat pengolahan sekaligus penampungan limbah cair dan padat sapi yang diolah menjadi gas. Pupuk bokashi dengan kualitas sangat bagus, kemudian susu dan jika sapi sudah kurang produktif bisa dijual dengan harga yang masih tinggi," jelasnya. 

Penyuluh Pertanian pendamping desa Arjowilangun, Sampuri menyampaikan bahwa model usaha ternak sapi perah memang sangat bagus, meskipun sekarang terjadi pandemi covid-19.

“Coba lihat dari susu segarnya saja. Dari 1 ekor saja, pagi dan sore bisa setidaknya 16 liter. Saat harga sekarang 5600 rupiah per liter, maka dalam sehari bisa memperoleh omzet 896000 ribu rupiah untuk 10 ekor sapi perah. Memang akan terus diputar untuk penyediaan pakan seperti konsentrat, hijauan makanan ternak dan kebutuhan tetap lainnya, namun ini sangat menjanjikan, " ungkap penyuluh yang mendampingi 3 Desa di BPP Kalipare.

Reporter : Kiswanto
BERITA TERKAIT
Edisi Terakhir Sinar Tani
Copyright @ Tabloid Sinar Tani 2018